FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETEPATWAKTUAN PELAPORAN KEUANGAN (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN INDUSTRI SEKTOR MINING YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2004 – 2008)

Syaiful Bahri Harahap

(Universitas Trisakti)

Abstract

This research represents empirical study to know factors influencing financial report  in 2004 until 2008. There are three factors; gearing ratio, return on assets and firm size.

The populations of this research are mining companies that are listed in Indonesia  Stock  Exchange (IDX) in 2004 until 2008. Samples of this research are 11 companies (for 5 years). Samples are taken by using of purposive sampling. The method of data analysis is using descriptive and doubled regression analysis. To obtain model of regression which representative is hence conducted by test of classic assumption.

Research method use in this study was qualitative and quantitative method, data then were analyzed using regression and correlation assisted with SPSS Program. The populations of this research are mining companies that are listed in JSX in 2004 until 2008. Samples of this research are 11 companies (for 5 years). Samples are taken by using of purposive sampling. The method of data analysis is using descriptive and doubled regression analysis. To obtain model of regression which representative is hence conducted by test of classic assumption.

The result showed that there was significant relationship between gearing ratio, firm size toward financial report on time, with F value (5,055) > F table (2,80).

Keyword: gearing ratio, return on assets, firm size and financial report.

1. Pendahuluan

Di Indonesia, dahulu ada dua bursa efek, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES), tetapi sejak 1 Desember  2007 BEJ dan BES digabung menjadi satu dengan nama Bursa Efek Indonesia (BEI). Perkembangan kemajuan BEI tidak lepas dari pengaruh pertumbuhan ekonomi, selain itu perkembangannya juga didukung dengan adanya beberapa kebijakan pemerintah di pasar modal. Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan pasar modal adalah efisiensi, dan hal ini perlu dikaji lebih mendalam. Bagi pelaku bursa efek, efisiensi sangat penting karena konsep pasar modal yang efisien adalah pasar dimana pelakunya bertransaksi secara adil, tidak ada pihak yang dirugikan secara tidak normal (Hartono, 2004:3).

Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan merupakan salah satu informasi relevan yang tersedia, terutama tentang saham yang dipandang sangat penting bagi investor. Dalam rangka memenuhi prinsip keterbukaan, emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan secara berkala kepada Bapepam-LK dan mengumumkan laporan tersebut kepada masyarakat. Laporan keuangan merupakan akhir dari proses akuntansi yang dirancang untuk memberikan informasi kepada calon investor, calon kreditor, pengguna laporan keuangan untuk pengambilan keputusan bisnis. Bagi pihak manajemen laporan keuangan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi manajemen perusahaan dalam menetapkan rencana kegiatan perusahaan untuk periode yang akan datang.

Banyak faktor yang mempengaruhi ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Dengan demikian penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatwaktuan pelaporan keuangan  perusahaan. Faktor-faktor yang diteliti yang diperkirakan mempengaruhi penyampaian  laporan keuangan adalah gearing ratio, return on assets dan  firm size. Perusahaan yang akan diteliti adalah perusahaan industri sektor pertambangan (mining sector) yang terdaftar di BEI pada tahun 2004 – 2008. Sedangkan  data yang digunakan untuk penelitian ini berasal dari data sekunder yaitu Laporan keuangan dan Laporan Auditor Independen yang memuat pemberian pendapat akuntan publik yang dipublikasikan pada tahun 2004 – 2008.

2. Tinjauan Pustaka

2.1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yaitu mencatat, mengelola, dan meringkas peristiwa-peristiwa yang cenderung bersifat keuangan dengan cara yang paling tepat dan dinyatakan dalam nilai uang, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menghitung nilai-nilai ekonomis dari perusahaan tersebut.

Tujuan laporan keuangan menurut Accounting Principle Board (APB) Statement Nomor 4 (AICPA) yang juga dikutip dalam Harahap (2002:133), dibagi menjadi dua, yaitu: tujuan umum, menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima dan tujuan khusus, memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta informasi lainnya yang relevan. Dalam Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007 disebutkan bahwa laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen:  neraca,  laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal, Bab XII tentang sanksi administratif dijelaskan bahwa setiap pelaku bursa efek, seperti yang tercantum dalam peraturan tersebut  jika melakukan pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dikenakan sanksi administratif berupa: peringatan tertulis; denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu; pembatasan kegiatan usaha; pembekuan kegiatan usaha; pencabutan izin usaha; pembatalan persetujuan; dan pembatalan pendaftaran.

2.2. Auditing

Auditing menurut Arrens & Beasley (2006) adalah sebagai berikut: “Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent person”.

Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Standar auditing yang telah ditetapkan dan disajikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia meliputi, standar umum; standar pekerjaan lapangan; dan standar pelaporan.

2.3. Rasio Gearing

Rasio gearing merupakan salah satu rasio financial leverage. Menurut Weston dan Copeland (dalam Saleh, 2004) bahwa ratio leverage mengukur tingkat aktiva perusahaan yang  dibiayai oleh penggunaan hutang. Financial leverage menujukan risiko suatu perusahaan sehingga berdampak pada ketidakpastian suatu harga saham, financial leverage menujukan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang dengan equity yang dimilikinya.

2.4. Return on Asset (ROA)

Profitabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan menghubungkan antara keuntungan atau laba yang diperoleh dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan perusahaan (operating asset).

Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan ROA menunjukkan kemampuan atas modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba. ROA adalah rasio keuntungan bersih setelah pajak untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari aset yang dimiliki oleh perusahaan. ROA yang negatif disebabkan laba perusahaan dalam kondisi negatif pula atau rugi. Hal ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan secara keseluruhan belum mampu untuk menghasilkan laba.

2.5. Ukuran Perusahaan

Berdasarkan penelitian Ashton (1987) di Kanada menunjukkan bahwa audit delay berhubungan negatif  dengan ukuran perusahaan dimana indikator yang digunakan adalah total aktiva. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai aktiva perusahaan maka audit delay semakin pendek. Sedangkan menurut Boynton dan Kell (2002), semakin besar ukuran perusahaan yang diaudit, audit delay akan semakin lama karena jumlah sampel yang diambil semakin besar dan prosedur audit yag harus dilakukan semakin luas. Ansah (2000) juga menjelaskan bahwa perusahaan berskala besar memiliki sumber daya dan staf akuntan yang lebih banyak dan memiliki sistem informasi akuntansi yang lebih canggih daripada perusahaan dengan skala kecil. Penggunaan sistem informasi akuntansi berbasis komputer ini akan mempercepat perusahaan dalam mengolah dan memonitor persediaan (inventories) dan proses produksi sehingga laporan keuangan dapat segera disajikan.

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini menggunakan market value atas market capitalization yaitu harga pasar dikalikan dengan jumlah saham beredar (Pandji, 2001:59).

3. Model Penelitian

Gearing ratio, return on assets dan firm size merupakan variabel-variabel yang diduga secara logis menjelaskan atau mempengaruhi variabel penyampaian laporan keuangan. Pada gambar 1. di bawah merupakan kerangka pemikiran yang  digunakan dalam  penelitian ini.

4. Metodologi Penelitian

4.1. Definisi Operasional Variabel

1.    Variabel Dependen (Terikat) : Ketepatwaktuan pelaporan keuangan

Yang dimaksud ketepatwaktuan (timeliness) pelaporan keuangan, perusahaan wajib menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan yang telah diaudit selambat-lambatnya 90 hari setelah tahun buku berakhir.

2.    Variabel Independen (Bebas) :

a.    Rasio gearing

Yang dimaksud rasio gearing dalam penelitian ini adalah perbandingan antara Total Hutang Jangka Panjang dengan Modal Sendiri (Tauringana dan Clark dalam Saleh, 2004).

b.    ROA

ROA adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan  dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan.

c.    Firm size

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini menggunakan market value atas market capitalization yaitu harga pasar dikalikan dengan jumlah saham.

5. Prosedur Penarikan Sampel

Populasi penelitian adalah 11 perusahaan industri sektor pertambangan yang terdaftar di BEI selama periode 2005 – 2008. Sampel yang dipilih untuk keperluan analisis ini adalah sampel yang memenuhi kriteria yang pemilihannya dilakukan dengan metode purposive sample.

6.   Metode Analisis Data

Penelitian ini akan meggunakan analisa laporan keuangan sebagai alat analisis datanya. Data atau hasil perhitungan, kemudian dianalisis lebih jauh lagi dengan menggunakan program aplikasi komputer untuk menghitung secara statistik. Program aplikasi komputer yang digunakan adalah alat bantu SPSS versi 15 for windows.

6.1.  Uji Asumsi Klasik

a.  Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas berarti adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti, diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi (Gujarati, 2003). Konsekuensi dari adanya multikolinearitas adalah apabila ada kolinearitas sempurna diantara variabel independen,  koefisien regresinya tidak tertentu dan kesalahan standarnya tidak terhingga. Jika kolinearitas tingkatnya tinggi tetapi tidak sempurna, penaksiran koefisien regresi adalah mungkin, tetapi kesalahan standarnya cenderung besar. Hal ini mengakibatkan nilai populasi dari koefisien tidak dapat ditaksir dengan tepat. Multikolinearitas dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas, menurut  Hair, Jr., Joseph F. et. al. (1995) adalah :

1). Mempunyai VIF yang tidak melebihi angka 10,

2). Mempunyai angka tolerance  ≥  mendekati 0,1

b. Uji Autokorelasi

Menurut Gujarati (2003), uji autokorelasi ini dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data time series) atau ruang (seperti dalam data cross section).

Penelitian ini menggunakan data pooling (pooling time series) yang menggabungkan antara data time series dan data cross section, sehingga perlu dilakukan uji autokorelasi. Pengujian ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW test) dimana nilai DW table (dU dan dL) ditentukan pada tingkat signifikansi atau α = 5% dan derajat kebebasan atau df = k (jumlah variabel independen), jumlah = n (Gujarati, 2003). Kriteria pengujian untuk pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi, sebagai berikut:

1). Jika 0 < nilai dhit < dL, tidak ada autokorelasi positif, ditolak

2). Jika dL ≤ nilai dhit ≤ dU, tidak ada autokorelasi positif, tidak  dapat  disimpulkan

3). Jika 4 – dL < nilai dhit < 4, tidak ada korelasi negatif, ditolak

4). Jika 4 – dU ≤ nilai dhit ≤ 4 – dL, tidak ada korelasi negatif, tidak dapat disimpulkan

5). Jika dU < nilai dhit <4 – dU, tidak ada autokorelasi positif atau negatif, tidak ditolak.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam  model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang  lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan metode Scatterplot, dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Dasar pengambilan kesimpulan adalah sebagai berikut (Santoso, 2002) :

1). Jika terdapat pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk suatu pola tertentu yang teratur, seperti pola bergelombang, melebar, kemudian menyempit, maka telah terjadi heteroskedastisitas.

2). Jika  tidak terdapat pola yang jelas dan titik-titik menyebar  di atas  dan  di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga model regresi layak digunakan berdasarkan masukan variabel X terhadap    variabel Y.

6.2 Uji Regresi

1.  Analisis Regresi Sederhana  (Uji – t)

Dari model regresi linier sederhana di atas, hasilnya adalah untuk membuktikan apakah variabel-variabel independen secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Kemudian dilakukan uji t. Dalam uji t ini pada dasarnya untuk menguji hipotesis yang dinyatakan  sebagai berikut:

1) H0 : b1 = 0  à  tidak terdapat pengaruh yang nyata antara variabel independen (X) secara sendiri-sendiri  terhadap variabel dependen (Y).

2) Ha : b1 ≠ 0 à terdapat pengaruh yang nyata antara variabel independen (X) secara sendiri-sendiri  terhadap variabel dependen (Y).

3) Level signifikan (a)  =  0,05.

Apabila thitung > ttabel à H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel-variabel independen secara sendiri-sendiri  mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

Apabila thitung < ttabel à H0 diterima dan Ha ditolak, artinya variabel-variabel independen secara sendiri-sendiri tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

2. Uji Regresi Berganda (Uji –F)

Dari model regresi linier berganda tersebut, untuk membuktikan apakah variabel-variabel independen secara simultan mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen, dilakukan uji F. Dalam uji F ini dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

1) H0 : b1 = b2 = b3 = 0 à  tidak terdapat pengaruh yang nyata antara variabel independen (X) secara simultan terhadap variabel dependen (Y).

2) Ha : b1 = b2 = b3 = ≠ 0 à terdapat pengaruh yang nyata antara variabel independen (X) secara simultan terhadap variabel dependen (Y).

3) Level signifikan ( a  )  =  0,05.

Apabila Fhitung > Ftabel à H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel-variabel independen secara simultan mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

Apabila Fhitung < Ftabel à H0 diterima dan Ha ditolak, artinya variabel-variabel independen secara simultan tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

Selanjutnya untuk menganalisa hubungan antara variable dependen dan variable independen yang mempengaruhinya, maka dibuatlah suatu persamaan regresi linear berganda dengan model sebagai berikut :

Ŷ  =  a + bX1 + bX2 + bX3 + ε

Dimana :

Y Penyampaian Laporan Keuangan
X1 = Gearing Ratio
X2 = Return On Assets
X3 = Ukuran Perusahaan
a = Interception Point
b = Koefisien Regresi
ε = Error

3.  Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi  (R2) digunakan untuk mengukur goodness of fit dari persamaan regresi yaitu memberikan proporsi atau presentase variasi total dalam variabel dependen, yang dijelaskan oleh variabel independen (Gujarati, 2003). Nilai koefisien regresi terletak diantara 0 dan 1. Nilai R2 = 1, berarti bahwa garis regresi yang terjadi menjelaskan 100% variasi dalam variabel dependen, jika R2 = 0 berarti bahwa model yang terjadi tidak dapat menjelaskan sedikitpun garis regresi yang terjadi.

7.  Analisis dan Pembahasan

7.1.  Uji Asumsi Klasik

1. Uji Multikolinieritas

Berdasarkan hasil pengujian multikolinieritas, tidak terdapat variable yang tereliminasi, sehingga semua variabel tersebut bisa diikutsertakan pada perhitungan selanjutnya. Tabel 1. di bawah ini adalah hasil multikolinearitas sebelum proses eliminasi.

Tabel 1.

Uji Multikolinieritas

Variabel Tolerance VIF
Gearing Ratio 0,881 1,134
Return On Assets 0,679 1,473
Firm Size 0,655 1,526

2. Uji Autokorelasi

Berdasarkan d tabel untuk observasi sebanyak (n=55) dengan jumlah variabel independen, diperoleh nilai dw hitung = 1,768, nilai dL = 1,45 dan nilai dU = 1,68. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi berdasarkan pada pembagian daerah statistik daerah Durbin Watson yang digunakan sebagai pedoman.

Dari gambar 2. di bawah ini, terlihat hasil analisis bahwa d hitung variabel X1 – X3 berada di daerah H0 Tidak Menolak, berarti tidak ada autokorelasi serial yang positif. Angka Durbin Watson berada pada daerah hasil uji nilai dU < nilai dhit <4 – dU, tidak ada autokorelasi.

Gambar 2.

Pembagian Daerah Durbin Watson

Menolak H0         Hasil Uji        Tidak Menolak      Hasil Uji        Menolak H1

Menolak          H0 atau H1                 Menolak

Autokorelasi                                                                                   Autokorelasi

Positif                                                                                            Negatif

dL dU 4 – dU 4 – dL

0                     1,45                  1,68                        2,32              2,55                   4

3. Uji Heteroskedastisitas

Dalam uji heteroskedastisitas, dari empat variabel terpilih terlihat semua variabel tidak terjadi heteroskedastisitas. Tidak terjadi heteroskedastisitas apabila penyebaran data dalam scatterplot menyebar atau tidak membentuk suatu pola tertentu yang  teratur dan jika membentuk pola tertentu yang  teratur, seperti garis, berarti menunjukkan adanya gejala heteroskedastisitas. Gambar scatterplot untuk masing-masing variabel dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Uji Heteroskedastisitas

7.2.  Hasil Uji Statistik

Pengujian terhadap hipotesis penelitian bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh antara gearing ratio (X1), return on assets (X2), Ukuran Perusahaan (X3), terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan (Y). Pengujian dilakukan secara pooled data baik secara simultan maupun secara parsial terhadap masing-masing variabel penelitian. Hasil analisis regresi dengan α = 5% terhadap variabel penelitian disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 2.

Rangkuman Hasil Perhitungan Regresi Berganda

Uji Regresi Gearing Ratio(X1), Return on Assets (X2), Ukuran Perusahaan (X3), terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan (Y)

Variabel Bebas Koefisien Regresi t hitung t tabel F hitung F tabel
Gearing ratio(X1) 3,013 3,571 1,6449 5,055 2,80
Return on assets (X2) 0,048 0,315
Ukuran Perusahaan (X3) -4,441 -1,960
Konstanta 127,756
Variabel terikat (Y)

R  (regresi)

R2 (koefisien determinasi)

: Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan

: 0,479

: 0,229

Sumber: Hasil pengolahan SPSS versi 15 for windows, tahun 2007

7.3. Hasil Uji Hipotesis 1

Pengujian terhadap Hipotesis 1 bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh secara parsial  uji regresi gearing ratio (X1), return on assets (X2), Ukuran Perusahaan (X3), terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan (Y) berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 2. di atas sebagai berikut:

Pengujian secara parsial nilai gearing ratio (X1) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan menghasilkan thitung sebesar 3,571 lebih besar dari t tabel pada level of significant 5% (α = 0,05) dengan degree of freedom (df) = 53 (55-2), yaitu 1,6449. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh antara perubahan gearing ratio (X1) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan tersebut secara populasi  dikatakan signifikan. Hal ini berarti  pula  hipotesis nol (H0) ditolak, artinya  hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh antara gearing ratio terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan ditolakdan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Selanjutnya untuk analisis regresi, berdasarkan hasil perhitungan nilai konstanta dan koefisien regresi, sebagaimana yang terlihat pada tabel 2. di atas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:

Ŷ = 127,756 + 3,013X1

Dari persamaan ini tampak nilai b (koefisien korelasi) sebesar 3,013 yang berarti bahwa bila variabel X1 (gearing ratio) akan  bernilai 1, maka  nilai Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan  akan bertambah sebesar 3,013%. Karena nilai b positif, maka hal itu berarti setiap kenaikan gearing ratio akan diimbangi dengan  kenaikan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan sebesar 3,013%.

Pengujian secara parsial nilai return on assets (X2) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan menghasilkan thitung sebesar 0,315 lebih kecil dari t tabel pada level of significant 5% (α = 0,05) dengan degree of freedom (df) = 53 (55-2), yaitu 1,6449. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh antara perubahan return on assets (X2) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan tersebut secara populasi  dikatakan  tidak signifikan. Hal ini berarti  pula  hipotesis nol (H0) diterima, artinya  hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh antara return on assets terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak.

Pengujian secara parsial nilai Ukuran Perusahaan (X3) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan menghasilkan thitung sebesar 1,960 lebih besar dari t tabel pada level of significant 5% (α = 0,05) dengan degree of freedom (df) = 53 (55-2), yaitu 1,6449. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh antara perubahan Ukuran Perusahaan (X3) terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan tersebut secara populasi  dikatakan  signifikan. Hal ini berarti  pula  hipotesis nol (H0) ditolak, artinya  hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh antara Ukuran Perusahaan terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan ditolak  dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Selanjutnya untuk analisis regresi, berdasarkan hasil perhitungan nilai konstanta dan koefisien regresi, sebagaimana yang terlihat pada tabel 2. di  atas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:

Ŷ = 127,756 – 4,441X3

Dari persamaan ini tampak nilai b (koefisien korelasi) sebesar 4,441 yang berarti bahwa bila variabel X3 (Ukuran Perusahaan)  bernilai 1, maka  nilai Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan  akan berkurang sebesar 4,441%. Karena nilai b positif, maka hal itu berarti setiap kenaikan Ukuran Perusahaan akan diimbangi dengan  penurunan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan sebesar  4,441%.

7.4. Hasil Uji Hipotesis 2

Pengujian terhadap Hipotesis 2  (Uji F) bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh secara simultan gearing ratio (X1), return on assets (X2), Ukuran Perusahaan (X3), terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan (Y).

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 2. di atas, pengujian secara simultan menghasilkan nilai F hitung sebesar 5,055. Nilai ini ternyata lebih besar jika dibandingkan dengan nilai F tabel untuk df penyebut 51 (55-3-1) dan df pembilang 3, yaitu sebesar 2,80. Karena nilai F hitung lebih besar dari F tabel, maka Hipotesis 2 didukung bukti empiris sehingga hipotesis alternatif diterima.

Model regresi yang terbentuk merupakan persamaan yang menunjukkan arah pengaruh dan besarnya pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil uji regresi pada Tabel 4.2. di atas, maka model regresi yang terbentuk dapat dijabarkan dalam persamaan berikut:

Ŷ = 127,756 + 3,013X1 –  4,441X3

Hasil uji asumsi klasik yang dilakukan terhadap model regresi menunjukkan bahwa model regresi sudah memenuhi semua asumsi klasik, sehingga persamaan tersebut dinyatakan telah memenuhi asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimators).

Penjelasan dari model regresi di atas, sebagai berikut:

1). Konstanta diperoleh  sebesar  127,756, hal  ini menunjukkan apabila semua variabel independen bernilai nol, maka Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan sebesar 127,756.

2). Koefisien regresi dari gearing ratio (X1) diperoleh sebesar 3,013. Hal ini menunjukkan apabila nilai gearing ratio (X1) naik sebesar 1 kali dengan asumsi variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh kenaikan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan sebesar 3,013%.

3). Koefisien regresi dari Ukuran Perusahaan (X3) diperoleh sebesar -4,441. Hal ini menunjukkan apabila nilai Ukuran Perusahaan  (X3) naik sebesar 1 kali dengan asumsi variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh penurunan Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan  4,441.

7.5. Hasil Uji Variabel Dominan

Pengujian terhadap pengaruh dominan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan melihat besarnya nilai standarized coefficients beta dari model regresi yang terbentuk. Berdasarkan hasil uji regresi, diperoleh nilai standarized coefficients beta untuk  gearing ratio sebesar 0,468 dan untuk Ukuran Perusahaan  sebesar -0,298. Karena variabel gearing ratio memiliki nilai standarized coefficients beta terbesar, maka gearing ratio memiliki pengaruh paling dominan terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan.

7.6. Uji Koefisien Determinan

Berdasarkan hasil uji regresi pada Tabel 2. di atas, diperoleh nilai adjusted R square sebesar 0,229. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen (gearing ratio, return on assets, Ukuran Perusahaan) mampu menjelaskan variasi variabel dependen (Ketepatwaktuan Pelaporan Keuangan) sebesar 22,9%, sedangkan sisanya sebesar 77,1% dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

8. Simpulan

1. Gearing ratio berpengaruh  positif dan signifikan terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Semakin tinggi gearing ratio maka akan semakin tinggi ketepatwaktuan pelaporan keuangan atau sebaliknya, semakin rendah gearing ratio maka ketepatwaktuan pelaporan keuangan akan semakin rendah. Hal ini memberikan indikasi bahwa perusahaan-perusahaan industri sektor mining akan mempercepat pelaporan keuangan jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan untuk membayar hutang jangka panjang dan untuk menghindari dikenakan sanksi administratif jika pelaporan keuangan tidak  disampaikan tepat waktu. Sebaliknya perusahaan-perusahaan industri sektor mining akan lebih cenderung memperlambat pelaporan keuangannya jika perusahaan mempunyai kondisi rasio gearing atau financial leverage yang  rendah oleh karena perusahaan memiliki modal sendiri yang  cukup untuk membayar hutang jangka panjang.

2. Return on assets berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap ketepat-waktuan pelaporan keuangan.

3. Ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketepatwaktuan pelaporan keuangan. Semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin rendah ketepatwaktuan pelaporan keuangan atau sebaliknya, semakin kecil ukuran perusahaan maka ketepatwaktuan pelaporan keuangan akan semakin tinggi.  Hal ini memberikan indikasi bahwa perusahaan-perusahaan industri sektor mining yang  besar akan cenderung terlambat menyampaikan laporan keuangannya jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan industri sektor mining yang lebih kecil, karena perusahaan-perusahaan industri sektor mining yang  lebih besar memiliki lahan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan yang  lebih luas dan lokasinya tersebar, sehingga untuk menghitung dan mengakui harga pokok produksi dan harga pokok penjualan lebih rumit dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk  mengumpulkan data keuangan sebagai dasar untuk menyusun laporan keuangan dan memerlukan waktu yang lebih lama bagi auditor untuk  melakukan  pengujian-pengujian atas transaksi-transaksi dan saldo-saldo yang  terkait dengan perhitungan dan pengakuan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan.

9. Keterbatasan Penelitian

Perusahaan yang  diteliti adalah terbatas hanya pada perusahaan industri sektor pertambangan (mining sector) yang  terdaftar di BEI pada tahun 2004 – 2008 dan jumlah perusahaan yang  diteliti (sampel) hanya terbatas sebanyak 11 per-usahaan.

10. Implikasi Manajerial

Implikasi manajerial, sebagai berikut:

1.  Para auditor dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatwaktuan (timeliness) pelaporan keuangan, sehingga diharapkan audit delay tidak terlalu lama dan semakin berkurang,

2.  Membantu profesi akuntan publik dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam  melaksanakan proses audit dengan cara mengendalikan faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya audit delay,

3. Membantu para investor dalam rangka untuk mengambil keputusan investasi atas perusahaan yang dimilikinya terutama terkait dengan audit delay.

11. Saran dan Penelitian Lanjutan

Ketepatwaktuan pelaporan keuangan bagi perusahaan yang terdaftar di BEI merupakan hal yang harus mendapat perhatian serius dari pihak manajemen. Hal ini disebabkan batas waktu pelaporan keuangan sebagaimana ditentukan oleh BAPEPAM-LK, merupakan salah satu faktor dalam mempertimbangkan suatu emiten untuk didelisting atau tidak.

Dalam rangka untuk mematuhi peraturan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan batas waktu pelaporan keuangan maka beberapa variabel yang berpengaruh terhadap ketepatwaktuan tersebut harus mendapat prioritas perhatian dari pihak manajemen.

Hasil koefisien determinasi sebesar 22,9%, mencerminkan masih banyak faktor-faktor yang harus diteliti yang merupakan variabel yang dapat mempengaruhi secara signifikan ketepatwaktuan pelaporan keuangan (audit delay), seperti  total assets turn over, debt to equity ratio, profit and loss, kategori KAP, jenis industri, struktur kepemilikan (kepemilikan managerial dan kepemilikan institusi) dan peranan auditor untuk  mendorong manajemen dalam  menyampaikan pelaporan keuangan secara tepat waktu.

Dengan demikian penyampaian laporan keuangan oleh pihak manajemen diharapkan selalu dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Untuk penelitian selanjutnya faktor-faktor yang merupakan variabel yang diperkirakan dapat mempengaruhi ketepatwaktuan pelaporan keuangan, seperti total assets turn over, debt to equity ratio, profit and loss, kategori KAP, jenis industri, struktur kepemilikan (kepemilikan managerial dan kepemilikan institusi) dan peranan auditor untuk  mendorong manajemen dalam  menyampaikan pelaporan keuangan tepat waktu.

+++

Menjelang Wukuf di Padang Arafah (Bagian Kedua – Habis)

Mataku mencari ke kanan dan ke kiri untuk menemukan dua orang jemaah pria lainnya. Aku tak menemukan mereka.

Aku berdo’a, semoga kedua orang jemaah pria tadi dalam keadaan baik-baik saja. Tidak lama setelah aku menutup do’aku dengan kata amin. Kedua orang jemaah pria tadi lenggang kangkung menuju ke arah tempat duduk kami. Mereka berdua dengan wajah penuh dengan kepuasan sambil menyandang sorban masing-masing dengan warna kotak-kotak merah dan warna kotak-kotak abu-abu. Mereka berdua menghampiri tempat duduk kami.

“Sudah mencium hajar aswad, kalian semua?”, salah seorang bertanya.

“Aku belum sempat, mungkin diantara kita berempat, aku yang paling banyak dosanya. Jadi Allah belum memberikan izin kepadaku untuk mencium hajar aswad itu”, aku menjawab sekaligus membuat suatu pernyataan pengakuan kepada mereka bertiga.

“Sudahlah, mari kita istirahat dulu sebentar” ujar salah seorang jemaah pria.

Kami berempat beranjak meninggalkan pelataran ka’bah ke luar dari kompleks masjidil Haram menuju “Warung si Doel”, tidak jauh dari kompleks masjidil Haram.

Aku melangkah gontai, perasaanku masygul, aku berfikir-fikir di dalam hati. Mereka bertiga sudah sempat mencium hajar aswad, aku sendiri belum sempat juga.

Tanpa aku sadari, kami berempat  sudah tiba di “Warung si Doel”. Hanya ada dua orang pelayan di “Warung si Doel”, maklum sudah hampir pukul 3.30 pagi. Salah seorang dari kedua pelayan tadi sudah kelihatan terkantuk-kantuk keletihan dan sesekali menguap.

Aku melihat hanya ada tiga orang  pengunjung  “Warung si Doel”  yang duduk di sudut ruangan, mereka berperawakan Melayu, mungkin jemaah dari Indonesia juga, fikirku dalam hati. Mereka sedang menikmati bakso. Mereka makan bakso dan bercakap-cakap satu sama lain.

“Tinggal  bakso yang ada, ikhwan” kata salah seorang pelayan. “Kami pesan empat porsi dan teh hangat” kataku.

Kami bercakap-cakap sambil menghabiskan satu porsi bakso masing-masing. Salah seorang jemaah pria tadi mengusulkan agar kami kembali ke pelataran ka’bah untuk membantu dan mengawal diriku mencium hajar aswad, karena dari keempat orang jemaah pria ini, hanya diriku yang belum sempat mencium hajar aswad.

Salah  seorang  jemaah pria mengatur cara dan taktik, agar aku dapat berhasil mencium hajar aswad.

Caranya antara lain aku terlebih dahulu harus sholat sunnat sebelum mencium hajar aswad, kemudian aku harus berdiri menyelusuri dinding ka’bah perlahan-lahan menuju sudut ka’bah tempat hajar aswad berada dan tetap berpegangan ke dinding ka’bah.

Setelah aku bayar empat porsi bakso dan empat cangkir plastik teh hangat, kami meninggalkan “Warung si Doel” dan kembali ke pelataran ka’bah. Semua cara dan taktik yang disarankan oleh jemaah pria tadi, aku patuhi.

Singkat cerita. Alhamdullillah akhirnya aku dapat berhasil mencium hajar aswad, walaupun hanya beberapa menit. Aku tidak bisa berlama-lama mencium hajar aswad, jemaah-jemaah dari berbagai negara yang berebut mencium hajar aswad sudah menarik kerah baju hangatku ke arah belakang dan aku bagaikan berenang gaya dada di atas lautan manusia – para jemaah yang berebut mencium hajar aswad. Akhirnya aku terdampar tidak jauh dari sisi maqom Ibrahim.

Esok hari adalah hari wukuf di Padang Arafah. Malamnya aku hampir tidak bisa tidur lelap membayangkan  hari wukuf di Padang Arafah. Wukuf di Padang Arafah merupakan rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Jika jemaah tidak dapat hadir atau berhalangan untuk wukuf di Padang Arafah, maka batal ibadah hajinya. Rangkaian ibadah wukuf  ini jugalah yang menjadi perbedaan utama dengan ibadah umroh. Kegiatan ibadah umroh yang dilaksanakan di luar musim haji tidak melaksanakan kegiatan wukuf di Padang Arafah.

Sepanjang hari menjelang senja hari sebelum keberangkatan menuju Padang Arafah, aku terus berdo’a tak henti-hentinya, agar Allah memberikan kemudahan-kemudahan kepadaku untuk melaksanakan ibadah wukuf di Padang Arafah nanti.

Para jemaah pria dan wanita sudah bersiap-siap. Para jemaah pria sudah mengenakan pakaian ihrom dan membawa perlengkapan seperlunya.

Toko-toko dan kedai-kedai hampir semuanya tutup, tukang binatu (laundry) yang berada di sebelah mahtab kami juga sudah tutup dan sejak sehari sebelumnya tidak lagi menerima order untuk melaundry pakaian. Kedai-kedai kopi juga sudah tutup dan tidak lagi melayani para penikmat teh dan kopi.

Suasana keberangkatan menuju Padang Arafah mulai hiruk pikuk. Bus-bus yang berkapasitas penumpang lebih dari 50 orang penumpang sudah standby dan mesinnya sudah dalam keadaan menyala berada di sisi mahktab masing-masing jemaah. Jemaah yang sudah siap berangkat menuju Padang Arafah ada yang duduk berkelompok dan ada juga yang berdiri membentuk kelompok, mereka bercakap-cakap satu sama lainnya.

Jemaah ibu-ibu dan wanita masih ada yang sibuk memasukkan beberapa bungkus mie instan ke dalam tas jinjingnya dan sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan masih ada barang perlengkapan yang terlupa untuk dibawa ke Padang Arafah.

Para petugas haji sudah mulai sibuk berjalan hilir mudik dan sesekali bercakap-cakap memberitahukan informasi kepada jemaah yang akan berangkat ke Padang Arafah.

Aku sendiri sudah siap berangkat menuju ke Padang Arafah. Menunggu giliran naik ke dalam bus, aku duduk sendiri di depan kedai kopi yang sudah tutup. Aku duduk di bangku milik kedai kopi yang sudah tutup, mungkin pemilik kedai kopi lupa memasukkan bangku miliknya ke dalam kedai kopi, fikirku di dalam hati.

Aku duduk termangu-mangu menyaksikan para jemaah yang sudah siap berangkat menuju Padang Arafah. Mereka semua berpakaian ihrom dan para jemaah wanita sudah mengenakan mukena/telekung berwarna putih bersih. Inilah tamu-tamu Allah yang akan berkumpul di Padang Arafah, fikirku di dalam hati.

Ba’da waktu Ashar, para jemaah sudah mulai naik satu per satu ke dalam bus. Secara teratur para jemaah wanita terlebih dahulu naik ke dalam bus, disusul dengan jemaah pria. Kelihatannya sudah teratur, walaupun ada beberapa orang jemaah yang berebut naik ke dalam bus, seakan-akan mereka akan ditinggalkan oleh bus tersebut.

Bus satu-satu sudah mulai bergerak dan berjalan menuju ke Padang Arafah meninggalkan mahtab masing-masing jemaah. Di jalur jalan menuju ke Padang Arafah lalu lintas sudah mulai padat.

Aku menyaksikan, bus-bus yang mengangkut jemaah mulai berjalan tersendat-sendat, karena padatnya lalu lintas di jalur jalan menuju ke Padang Arafah. Tidak sedikit pula bus yang diisi dengan melebihi kapasitasnya. Ada juga jemaah yang duduk di atas atap bus, ada juga jemaah yang duduk di mobil dengan bak terbuka.

Para polisi lalu lintas Arab Saudi sibuk mengatur lalu lintas, agar bus-bus dan mobil-mobil yang mengangkut jemaah ke Padang Arafah tidak saling berebutan. Mereka menggunakan sempritan dan tongkat dengan mengenakan baju hangat serta sorban di kepalanya.

Dari kejauhan terdengar ambulan meraung-raung membunyikan sirinenya meminta jalur jalan, agar dapat lebih cepat sampai di Padang Arafah.

Tidak lama kemudian ambulan tersebut menyalib bus yang aku tumpangi. Aku melihat dari kaca jendela bus yang aku tumpangi ke arah ambulan tadi, namun aku tidak dapat melihat dengan jelas apa dan siapa yang diangkut oleh ambulan tersebut.

Aku bertanya kepada pembimbing kelompok jemaah kami, “Siapa yang diangkut oleh ambulan itu, pak?”.  ”Biasanya, mereka membawa jemaah yang sakit dan sekarat ke Padang Arafah dengan ambulan, supaya ibadah hajinya tidak batal”, jawab pembimbing kelompok jemaah kami, menjelaskan.

Menjelang waktu maghrib, rombongan jemaah kami tiba di tenda-tenda di wilayah jemaah yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara, di Padang Arafah. Memang tenda-tenda di Padang Arafah dikelompokkan lokasinya berdasarkan negara asal jemaah.

Padang Arafah sudah mulai menyemut, para jemaah pria semuanya mengenakan pakaian ihrom, tanpa terkecuali.

Walaupun ia Presiden, Kapolri, Jaksa Agung, Ketua KPK, Menteri, Pengusaha, Pedagang, rakyat jelata sekalipun harus menanggalkan semua atribut-atribut pakaian seragam kebesarannya. Semua harus mengenakan pakaian ihrom, tanpa ada jahitan sedikitpun ketika mereka melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Semua sama di hadapan Allah.

Aku berjalan ke arah tempat yang lebih tinggi dan memandang jauh ke arah Padang Arafah, dari kejauhan aku menyaksikan tenda-tenda putih dan para jemaah yang sedang melaksanakan rangkaian kegiatan wukuf di Padang Arafah bagaikan gulungan serat sutera putih yang dihasilkan oleh kepompong ulat sutera.

Beginilah nanti di Padang Mah’syar, fikirku di dalam hati.

Kami menunggu khotbah wukuf di siang menjelang sore hari. Berbagai kegiatan dilakukan oleh para jemaah menunggu khotbah wukuf.

Ada jemaah yang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an secara tartil, ada juga jemaah yang menulis “khot” (tulisan indah) kalimah-kalimah Allah, ada jemaah yang sedang berdo’a khusu’ sambil mencucurkan air mata, tetapi ada juga jemaah yang tertidur pulas, ada jemaah yang terus-terusan berselimut kedinginan, karena suhu udara pada saat itu memang cukup sejuk.

Setelah mengikuti khotbah wukuf dan menyelesaikan kegiatan-kegiatan ibadah wukuf, kami bersiap-siap untuk meninggalkan Padang Arafah.

Menjelang waktu maghrib kami tinggalkan Padang Arafah menuju kota Mushdalifa untuk bermalam sambil memungut batu-batu kecil yang digunakan untuk jumrath di kota Mina.

Kegiatan wukuf di Padang Arafah telah selesai dan meninggalkan sejuta kenangan dan kesan yang terpahat kokoh di hati sanubari.

***

Lobby (smoking area) Novotel Peace Beijing, 3 Jinyu Hutong, Wangfujing, Beijing 100006 P.R. China, 25 November  2009.

+++

Menjelang Wukuf di Padang Arafah (Bagian Pertama)

Pekan ini kompleks masjidil Haram sudah penuh sesak dengan para jemaah yang melaksanakan  sholat, tawaf, sya’i dan tahallul. Jalan-jalan di kota Mekkah sudah mulai padat merayap. Satu dua jam menjelang saat sholat fardhu, jalur-jalur jalan menuju kompleks masjidil Haram sudah tumpah ruah.

Supir-supir angkutan kota saling berebutan mengambil jalan agar segera tiba di dekat kompleks masjidil Haram. Mereka setengah berteriak: “Harom, harom, harom”, sambil menawarkan tempat duduk angkutan kotanya yang masih kosong kepada para jemaah yang berjalan kaki di pinggir jalan menuju kompleks masjidil Haram.

Khamis depan para tetamu yang dimuliakan Allah nun jauh di kota Mekkah al-Mukarramah  sana akan berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Suasana tersebut terbayang kembali di alam fikiranku. Aku buka kembali catatan harianku.

Beberapa hari menjelang saat wukuf, sore hari ba’da sholat ashar, kami minum teh susu di kedai kopi di depan maktab, aku bersama tiga orang jemaah pria lainnya menikmati masing-masing secangkir plastik teh susu.

“Sudah kesampaian mencium hajar aswad”, aku bertanya sambil membuka pembicaraan kepada ketiga jemaah pria yang sedang minum teh susu bersamaku. Hampir serempak mereka menjawab : ”Belum”.

“Rasanya, aku tak sanggup mencium hajar aswad” kata jemaah pria yang satu, sambil menarik nafas panjang.

“Lautan manusia tidak mungkin bisa kita tembus dengan postur tubuh kita yang seperti ini. Orang-orang Badui badannya tinggi tegap, mereka akan menghalangi jalan kita”,  kata jemaah pria lainnya, dengan wajah putus asa.

“Kita harus berusaha mendekati hajar aswad. Kita bisa saling tolong menolong untuk sampai ke sisi ka’bah, sehingga kita nanti bisa mencium hajar aswad” ujar jemaah pria yang ketiga sambil memberikan semangat kepada jemaah pria lainnya.

“Bagaimana caranya?” aku bertanya kepada jemaah pria yang ketiga.

Akhirnya kami susun taktik untuk mencium hajar aswad.

Kami merencanakan  untuk mencium hajar aswad pada pukul 2 lewat tengah malam, dengan harapan jumlah jemaah yang tawaf mengelilingi ka’bah relatif lebih sedikit jumlahnya dan tentunya suhu udara lebih sejuk jika dibandingkan dengan saat di siang hari.

Hari ini, aku pergi tidur lebih awal dari biasanya, aku ingin menyimpan tenaga untuk bangun tidur lebih awal dan berangkat ke masjidil Haram untuk mencium hajar aswad.

Sebelum tidur, aku berdo’a, semoga Allah mengabulkan permintaan kami agar kesampaian mencium hajar aswad.

Tengah malam buta di maktab, kami berempat bersiap-siap menuju masjidil Haram untuk merealisasikan rencana dan taktik untuk mencium hajar aswad.

“Sabuk Bang Jampang” sudah ku pakai dan ku isi dengan sejumlah rial secukupnya. Lengkap dengan baju gamis dan celana panjang serta baju hangat, kami berempat mengendap-endap keluar dari maktab, supaya tidak mengganggu jemaah lainnya yang sedang tertidur lelap.

Arlojiku menunjukkan pukul 00.17 waktu di Mekkah (beda 5 jam dengan wib).

Kami tinggalkan maktab menuju masjidil Haram dengan menumpang angkutan kota. Di dalam angkutan kota tersebut hanya kami duduk berempat dan supir serta kondekturnya.  Rupanya tengah malam begini penumpang angkutan kota sepi, aku berharap jemaah yang tawaf dan mencium hajar aswad juga lebih sedikit, agar niat kami berempat kesampaian.

Tiba di masjidil Haram. Jemaah yang tawaf tetap menyemut. Kami turun ke pelataran ka’bah, sambil bergandengan tangan kami berempat mulai tawaf dari garis merah di pelataran ka’bah. Selesai tawaf mengitari ka’bah. Kami berempat mulai merapat ke sisi ka’bah berlahan-lahan sambil tetap bergandengan tangan dan mengikuti arus jemaah yang sedang tawaf mengitari ka’bah.

Semakin dekat ke sisi ka’bah, semakin padat dan penuh sesak. Aku terlempar menjauh dari sisi ka’bah. Rombongan kami sudah bercerai-berai, kami tidak bergandengan tangan lagi. Ketiga rombongan jemaah pria tadi sudah tak aku lihat, entah kemana. Aku tetap mengitari ka’bah mengikuti arus jemaah yang sedang tawaf mengitari ka’bah dan beringsut-ingsut secara berlahan menjauh dari sisi ka’bah.

Akhirnya, aku duduk terpaku di tangga turun ke pelataran ka’bah. Aku perhatikan satu persatu jemaah yang sedang tawaf mengitari ka’bah dengan harapan bertemu dengan rombongan ketiga jemaah pria tadi.

Badanku terasa pegal-pegal, nafasku tersengal-sengal karena berhimpitan dengan para jemaah lain ketika ingin merapat ke sisi ka’bah tadi. Baju gamis dan baju hangatku sudah lusuh, karena berdesak-desakan, ketika ingin merapat ke sisi ka’bah tadi.

Arlojiku menunjukkan pukul 02.48 waktu di Mekkah. Sebentar lagi adzan shubuh akan berkumandang, aku bergumam di dalam hati. Aku masih duduk terpaku di tangga turun ke pelataran ka’bah, rombongan jemaah pria tadi tak kunjung kelihatan. Dimana mereka? Apa yang terjadi dengan mereka? fikirku dalam hati.

Aku berdo’a, aku membaca sholawat berkali-kali di dalam hati.

Tidak lama kemudian, aku melihat salah seorang rombongan jemaah pria tadi melintas di depanku sambil terhuyung-huyung dengan nafas tersengal-sengal.

“Pak, mana yang lain” aku bertanya kepadanya.

“Nggak tahu, entah dimana”, ujarnya. “Tadi kita bercerai-berai, aku terhempas kesana kemari” imbuhnya.

“Bapak kesampaian mencium hajar aswad” aku bertanya kepadanya.

“Alhamdullillah, tadi aku sempat mencium hajar aswad, tetapi cuma sebentar” ujarnya sembari mengambil tempat duduk dan duduk lemas di sisiku.

(Bersambung: Bagimana nasib dua orang jemaah pria lainnya?, bagaimana suasana hiruk pikuk menjelang keberangkatan menuju Padang Arafah?, dan bagaimana suasana khidmat wukuf di Padang Arafah?)

***

Jayaraya Resort&Convention – Cipayung, Bogor, 19 November  2009.

+++

Catatan Harian: Menjelang Wukuf di Padang Arafah

Dua pekan lagi, tetamu yang dimuliakan Allah nun jauh di kota Mekkah al-Mukarramah  sana akan berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Pada saat kini, kompleks masjidil Haram sudah penuh sesak dengan para jemaah yang melaksanakan  sholat, tawaf, sya’i dan tahallul. Jalan-jalan di kota Mekkah sudah mulai padat merayap. Satu dua jam menjelang saat sholat fardhu, jalur-jalur jalan menuju kompleks masjidil Haram sudah tumpah ruah.

Supir-supir angkutan kota saling berebutan mengambil jalan agar segera tiba di dekat kompleks masjidil Haram. Mereka setengah berteriak: “Harom, harom, harom”, sambil menawarkan tempat duduk angkutan kotanya yang masih kosong kepada para jemaah yang berjalan kaki di pinggir jalan.

Suasana tersebut terbayang kembali. Empat tahun lalu pada musim haji tahun 2005, suasana itu tidak jauh berbeda. Setiap tahun, setiap musim haji, suasana tersebut terus berulang kembali.

Berikut ini, catatan harian yang sempat ku tap di hp iPAQ-ku, sebagai berikut:

Jum’at, 07-Jan 2005:

Tidak lama lagi, aku akan meninggalkan tanah air, menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Sebentar  malam akan dilaksanakan acara walimatussyafar di rumah nantulang, di Jln. Kemuning No. 26 Tomang.

Sanak saudara, kerabat dekat, teman dekat di kantor, teman dekat di kampus sudah ku beritahu. Aku mohon do’a restu dari mereka semua, agar perjalanku untuk menunaikan ibadah haji ini, dapat berjalan lancar.

Ustadz Ritonga menyampaikan tausyiahnya kepadaku. “Serahkan jiwa dan ragamu ke genggaman Allah” ujarnya, ketika menyampaikan tausyiah tadi.

Senin, 10-Jan 2005:

Selesai sholat shubuh, aku sudah bersiap-siap, pada hari ini aku akan berangkat menuju KBIH Darul Muiz, Cengkareng.

Rombongan calhaj KBIH Darul Muiz dilepas dari mesjid di depan kantor KBIH Darul Muiz, Cengkareng.

Pada hari ini, kami dari rombongan calhaj KBIH Darul Muiz tiba di Asrama Haji Pondok Gede. Aku menginap satu malam di Gedung Arafah D3 – Kamar Nomor 101.

Selasa, 11-Jan 2005:

Pada hari ini, sekitar jam 17.50 wib, kami boarding dari BUISH menuju kota Jeddah.

Rabu, 12-Jan 2005:

Pada jam 03.15 waktu setempat, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.

Setelah diperiksa di pabean, kami beristirahat sejenak di ruang Bandara sambil memakai pakaian ihram dan sholat shubun berjamaah di pelataran Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.

Menuju Maktab Nomor 20 di Jarwal. Check-in di Maktab Nomor 20 di Jarwal.

Pertama kali menyaksikan Masjidil Haram dan Baitullah, dilanjutkan dengan tawaf, sai dan tahallul – umrah  selamat datang.

Sholat Ashar di Masjidil Haram

Jum’at, 14-Jan 2005:

Sholat Jum’at di Masjidil Haram

Sabtu, 15-Jan 2005:

Ziarah ke Jabal Tzur, Jabal Nur, Jabal Rachmah, Arafah, Mina, Musdhalifa, Than’im.

Sholat Maghrib dan sholat Isya di Masjidil Haram

Minggu, 16-Jan 2005:

Sholat shubuh di Masjdil Haram dan sholat Maghrib dan Isya di Masjidil Haram.

Mencium batu Hajar Aswad.

Senin, 17-Jan 2005:

Sholat Ashar di Musholla Hotel Hilton Lt 4

Selasa, 18-Jan 2005:

Berangkat menuju Padang Arafah untuk wukuf dan tiba di Arafah

Rabu, 19-Jan 2005:

Khotbah wukuf di Padang Arafah

Sholat jamak qasar Zhuhur dan Ashar

Wukuf……..

Sholat Magrib dan Isya jamak qasar di Padang Arafah

Kamis, 20-Jan 2005:

Berangkat dari Padang Arafah menuju Muzdalifa

Tiba di Muzdalifa – memungut batu-batu kecil untuk jumrath dan bermalam di Muzdalifath

Muzdalifath- 10 Zulhijjah 1425 H

Berangkat dari Muzdalifa menuju  Mina utk jumrath dan tiba di Mina

Jum’at, 21-Jan 2005:

Sholat shubuh di dalam tenda di Mina

Sabtu, 22-Jan 2005:

Meluntar di Jumrath Ula, Ustha, Aqoba – 11 Dzulhijjah

Sholat Shubuh di sekitar pelataran Jumrath

Meluntar di Jumrath Ula, Ustha, Aqoba – 12 Dzulhijjah

Minggu, 23-Jan 2005:

Kembali menuju kota Mekkah dari Mina dan tiba di kota Mekkah

Banjir di kota Mekkah

Senin, 24-Jan 2005:

Tawaf  ifada, sya’i dan tahalul

Gunting (gundul) rambut di Pasar Seng (SAR5,-)

Selasa, 25-Jan 2005:

Berkunjung/silaturahim ke Maktab Nomor 34 di Haffair. Maktab rombongan jemaah haji dari Medan, pimpinan Ustadz Maratua Simanjuntak.

Rabu, 26-Jan 2005:

Umroth sunah – miqot di Jaronah – fidiyah untuk  omak di Medan

Kamis, 27-Jan 2005:

Ziarah ke kota Jeddah dengan rombongan haji dari Medan (KBIH An-Nur), pimpinan Ustadz Maratua Simanjuntak.

Tiba di Jeddah, ke mesjid terapung, ke kuburan Siti Hawa, ke lokasi peninggalan sepeda kuno di tengah kota Jeddah, ke Cornish: beli camera Sony, beli parfum, beli sabuk.

Kembali ke Mekkah

Jum’at, 28-Jan 2005:

Jum’atan di Masjidil Haram

Sabtu, 29-Jan 2005:

Diundang makan siang di rumah Kakak Mardiyah Hst (Kakak Bang Syafiq Hst) di Sauqiyath-Mekkah.

Minggu, 30-Jan 2005:

Today is my birthday – 44 years old. I celebrated my birthday at India Restaurant in front of my maktab, Jarwal.

Rabu, 09-Feb 2005:

1 Muharram 1426 H.

Tawaf wadhã (perpisahan)

Bertolak menuju kota Madinah dari kota Mekkah

Kamis, 10-Feb 2005:

Tiba di kota Madinah Munawaroh menjelang shubuh.

Check-in di Hotel Dallah, Madinah

Sholat Shubuh Arbain 1

Sholat Zhuhur Arbain 2

Sholat Ashar Arbain 3

Sholat Maghrib Arbain 4

Sholat Isya Arbain 5

Jum’at, 11-Feb 2005:

Ke Roudah

Sholat Shubuh Arbain 6

Sholat Jum’at Pertama Arbain 7

Sholat Ashar Arbain 8

Sholat Maghrib Arbain 9

Sholat Isya Arbain 10

Sabtu, 12-Feb 2005:

Sholat Shubuh Arbain 11

Ziarah ke Mesjid Quba, ziarah ke pabrik kurma Al Ansar, ziarah ke Jabal Uhud dan makam Suhada Hamzah, ziarah ke Mesjid Qiblatein

Sholat Zhuhur Arbain 12

Window shopping di Taiba Comercial Centre, Madinah

Sholat Ashar Arbain 13

Sholat Maghrib Arbain 14

Sholat Isya Arbain 15

Minggu, 13-Feb 2005:

Sholat Shubuh Arbain 16

Sholat sunat di Masjid Quba, ke Pasar Kurma

Sholat Zhuhur Arbain 17

Sholat Ashar Arbain 18

Sholat Maghrib Arbain 19

Sholat Isya Arbain 20

Senin, 14-Feb 2005:

Sholat Shubuh Arbain 21

Sholat Zhuhur Arbain 22

Sholat Ashar Arbain 23

Beli arloji “Raymond Weil” type: SAPPHYRE CRYSTAL, (tali kulit coklat)

Sholat Maghrib Arbain 24

Sholat Isya Arbain 25

Selasa, 15-Feb 2005:

Sholat Shubuh Arbain 26

Sholat Zhuhur Arbain 27

Sholat Ashar Arbain 28

Ke Dates Market – Taiba Residence Madinah

Sholat Maghrib Arbain 29

Sholat Isya Arbain 30

Rabu, 16-Feb 2005:

Hari ini ulang tahun my daughter – MORISA AUDITA HARAHAP.

Sholat Shubuh Arbain 31

Sholat Zhuhur Arbain 32

Beli gelang emas for my dear

Sholat Ashar Arbain 33

Sholat Maghrib Arbain 34

Sholat Isya Arbain 35

Kamis, 17-Feb 2005:

Ke Roudah

Sholat Shubuh Arbain 36

Sholat Zhuhur Arbain 37

Sholat Ashar Arbain 38

Sholat Maghrib Arbain 39

Sholat Isya Arbain 40 (Arbain terakhir, alhamdullillah…..)

Jum’at, 18-Feb 2005:

Ke Roudah

Sholat Shubuh di Mesjid Nabawi

Sholat Jum’at Kedua di Mesjid Nabawi

Berangkat ke Bandara Madinah

Boarding menuju tanah air

Sabtu, 19-Feb 2005:

Arrive in airport BUISH, Cengkareng

Ke Asrama Haji Pondok Gede

Syukuran di KBIH Darul Muiz, Cengkareng

Pulang ke Puri Beta

***

Reedit on: Jum’at (Kliwon), 13 November 2009/25 Zulkaidah 1430 H,

GFH (Meeting Room: Aster 1) – Jln. Asia Afrika, Bandung.

Fenomena Facebook (dari: Milist Tetangga)

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari. Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan pasang mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa. Ketika seorang selebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu. ”Siapa calon bapak si jabang bayi?”

Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang selebritis yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih……, mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan menjadi konsumsi publik.

Wuiiih……, ternyata sekarang bukan hanya artis saja yang bisa seperti itu, sadar atau tidak sadar, ribuan orang sekarang sedang menikmati, segala aktivitasnya dapat diketahui orang lain, dikomentari orang lain. Bahkan mohon maaf ….”dilecehkan” orang lain. Sungguh heran, perasaan yang diperoleh adalah perasaan senang.

Fenomena itu bernama “facebook”.  Setiap saat para facebooker  meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentari facebooker lainnya. Entah lupa, entah tidak, entah sengaja, entah tidak, hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, diumbar menjadi konsumsi publik dan dengan bangga dimuat dalam statusnya.

Lihat saja beberapa status facebook, berikut ini – seorang facebooker wanita menuliskan, begini: “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya…..?”

Kemudian puluhan komentar bermunculan dari facebooker pria dan wanita. Bahkan seorang facebooker pria menulis komentar begini: “Mau ditemanin? Dijamin puas deh…”

Contoh lain. Seorang facebooker wanita menulis di statusnya, begini: “Bangun tidur, badan sakit semua, biasa….habis malam jumat ya begini…”. Kemudian komentar-komentar nakal pun bermunculan.

“Bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi….”. Kemudian komentar-komentar pelecehan pun bermunculan di kolom komentar.

Ada pula yang menulis  di wall temannya, seperti ini: “Eeeh ini si polan ya …., yang dulu dekat dengan si polin khan?. Aduuh dicariin tuh sama si polin….”. Lupa kalau si polan sudah punya suami dan anak-anak.

Facebooker pria tidak mau kalah menulis di statusnya,  seperti ini: “Habis minum jamu nih…., ada yang mau menerima tantangan ?. Tidak lama kemudian, langsung berpuluh-puluh komentar di tulis oleh facebooker lain di kolom komentar.

Ada juga yang menulis di statusnya, seperti ini: “Lagi bokek, kagak punya duit…”, “Mau tidur nih, panas banget…bakal tidur pake dalaman lagi nih”.

Ribuan bahkan jutaan status-status yang numpang beken dan kepingin mendapat komentar-komentar dari facebooker lainnya.  Sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan alam fikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status di facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari setiap orang terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.

Seorang facebooker wanita dengan nada guyon mengomentari foto yang baru saja di upload di album fotonya. Foto-foto pada saat SMA dulu sedang berolah raga dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Padahal saat kini sebagian besar yang ada di dalam foto tersebut sudah mengenakan kerudung atau jilbab.

Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan “Jahiliyah” menjadi kehidupan yang “Islami”. Foto pada masa dulu sedang berpose bersama dengan teman-teman prianya dengan bergandengan tangan, tersenyum  ceria.

Ada pula seorang pria mengupload foto seorang wanita, mantan pacarnya dulu yang sedang dalam keadaan yang sangat seronok, padahal saat kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang bersama suami dan anak-anaknya.

Rasanya telah dilupakan apa yang pernah diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW. Rasulullah pernah berpesan kepada umatnya: “Hendaklah seseorang selalu  menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya”.

Ingatlah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.a. “Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?”.  Istri tercinta, sang humairah  (sang pipi yang kemerah-merahan) – Aisyah, menjawab: “Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya, berkata: “Baiklah, Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang lain tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah.

Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a. ketika mengikuti Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkan kepadanya sebagian harta, maka Abdurahman bin Auf r.a., mengatakan: “Tunjukan saja kepada saya, dimana pasar”. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang,  sebagaimana Rasulullah, bersabda: “Malu itu sebahagian dari iman”, (Riwayat: Bukhari dan Muslim).

Fenomena yang telah dipaparkan tersebut di atas menjadi tanda-tanda yang besar untuk  kita, selaku ummat Islam. Hegemoni “kesenangan semu” yang  dibungkus dengan “persahabatan-persahabatan yang bersifat fatamorgana” ditampilkan dengan mudahnya dalam celoteh-celoteh dan status-status di dalam facebook yang menggilas semua tatakrama tentang malu, tentang menjaga kehormatan diri dan keluarga. Terjadi pergeseran-pergeseran nilai, agaknya.

Rasulullah menegaskan dengan sindiran yang cukup keras kepada kita. Beliau bersabda: “Apabila kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Riwayat: Bukhari).

Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit-ungkit kembali  aib-aib pada masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat-rapat.

Bagi para wanita yang telah menemukan jati dirinya, kini dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga pada masa lalu jauh dari Allah kemudian  ter-inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya Ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai karib.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib pada masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga dan menutup aib-aib kita.

Untuk itu  jagalah kehormatan diri kita, simpanlah rapat-rapat keluh kesah kita, simpanlah  rapat-rapat aib-aib diri kita., Jangan bebaskan “kesenangan” dan “gurauan” yang dapat membuat “iffah” kita luntur  tak meninggalkan bekas. Semoga bermanfa’at.

Reedit, 3 November 2009.

***

Do’a terbaik (dari: Milist Tetangga)

Di ambang sore, seorang petani miskin pulang dari humanya, ia baru menyadari bahwa pada hari ini, ia lupa membawa buku doanya.

Ketika ia menuju pulang ke rumahnya, roda gerobaknya terlepas di tengah hutan dan ia sangat  menyesal bahwa pada hari ini akan lewat begitu saja, tanpa ia bisa membaca doanya.

Karena ia lupa membawa buku doanya. maka inilah bunyi doa yang dibuatnya:

“Ya. Tuhan, perbuatanku  teramat bodoh pada hari ini. Aku tinggalkan rumah tadi pagi tanpa membawa buku doaku. Ingatanku sudah sedemikian rupa, sehingga  tak satupun doa yang dapat kuucapkan tanpa mebaca buku doa itu. Maka inilah doa yang akan kupanjatkan kepada Mu”

Petani miskin itu pun mulai berdoa:

“Aku akan mengucapkan…. a-b-c… (diucapkannya sebanyak lima kali secara berlahan-lahan dan penuh khusu’). Engkau yang maha mengetahui semua doa, Engkau bisa mengatur sendiri huruf-hurufnya, untuk membuat suatu doa yang tak dapat kuingat. Perkenankanlah ya Tuhan doaku ini “.

Tuhan berkata kepada para malaikat: “Dari segala doa yang Aku dengar pada hari ini, niscaya hanya doa inilah yang paling terbaik, karena berasal dari lubuk hati yang paling sederhana dan jujur”.

Sabtu malam, 24 Oktober 2009 di Puri Beta, Tangerang

***

Reuni itu usai sudah….

Berkat ridho dan izin Allah yang maha mengatur seisi alam semesta ini, acara Reuni Alumni FE USU Stb. 1979 di Wisma Benteng Medan per 25 September 2009, terlaksana sudah.

Secara umum, apa yang direncanakan oleh segenap personil panitia, boleh dikata terlaksana sesuai dengan skenarionya. Bukan lah maksud untuk membusungkan dada – apalagi hendak menyombongkan diri……., tak sedikit yang berdecak kagum akan kinerja panitia, baik itu datang  dari kalangan internal maupun dari pihak eksternal yang tidak punya kepentingan apa-apa terhadap kegiatan acara reuni ini. Mereka angkat topi dan mengacungkan jempol, sebagai isyarat pernyataan pujian.

Memang ramai dan heboh lah acaranya itu. Bayangkan lah sudah 30 tahun tak berjumpa dengan teman-teman lama, teman-teman yang sama-sama menimba ilmu di fakultas ekonomi USU sejak tahun 1979.

Memang jeli lah panitia mengemas acaranya.

Setiap alumnus dilarang keras membawa keluarga, alumnus harus datang sebatang kara dan diwajibkan membawa bingkisan kado yang harganya tidak melebihi jumlah sebesar 25 ribu rupiah saja, kado ini nantinya  akan dipertukarkan antar sesama alumni.

Selanjutnya setiap alumnus diwajibkan mengenakan seragam T-Shirt – PIN – Badge Nama –  yang sudah disediakan  oleh panitia. Para alumni mirip seperti pemain kesebelasan Inter Milan yang akan turun ke padang hijau yang akan bertanding sepak bola.

Setiap alumnus yang tiba, mengisi buku tamu dan dilanjutkan dengan foto close-up masing-masing alumnus secara bergantian, bagaikan hendak membuat SIM baru di Polda atau buku passport baru di Imigrasi,  layaknya.

Anehnya, tak seorang alumnus pun yang membangkang dan ingin melanggar ketentuan yang ditetapkan panitia. Mungkin para alumni sudah pada tua-tua, padahal dulu sewaktu mahasiswa semua peaturan yang ditetapkan dilanggar dan dicerca.

“Table manner” nya pun diatur panitia sedemikian rupa, dengan menerapkan “round-table method”.  Makanan dihidangkan kepada para alumni dengan gaya “gala dinner” hotel berbintang lima. Makanan jenis chinese food – khas Wisma Benteng Medan – datang silih berganti yang dihidangkan oleh para pelayan dan ditutup dengan menu buah segar dan segelas “black-wine”.

Sepertinya, para  alumni pada malam itu dimanjakan bagaikan “baron-baron” yang ber-rendevouze di pedalaman Perancis.

Acara demi acara pun berlangsung. Sesama alumnus saling bertegur sapa, bercengkerama dan bercanda. Melihat suasana ini, sang Almamater pun tersenyum gembira.

Memang, berobah lah fisik para alumni, jika dibandingkan 30 tahun yang lalu sewaktu jadi mahasiswa. Ada alumni pria, dulu rambutnya lebat, kini kepalanya sudah mengkilat – ada alumni wanita, dulu pinggulnya ramping, kini sudah tak berpinggang. Rata-rata para alumni sudah hampir berusia “lima ketip” malah satu dua alumni, ada yang berusia lebih.

Hari merangkak hampir tengah malam, suasana di gedung sayap kiri Wisma Benteng Medan masih hiruk pikuk. Ada alumni yang tarik suara dengan nada suara yang pas-pasan, ada yang berkaraoke ria, ada yang sibuk sms-an, ada yang berjoget soor sendiri, ada yang tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata dan terkekeh-kekeh menahan sakit perut mendengar banyolan dari sesama alumni.

Secara resmi acara dibuka pukul 19.30 wib dan ditutup pada pukul 23.00 wib. Di akhir acara, para alumni saling bersalaman dan berpelukan, melepas kerinduan, sebentar lagi akan berpisah kembali dan para alumni melakoni kembali garis tangannya masing-masing.

Acara pun usai lah, namun masih banyak juga para alumni yang masih enggan beranjak dari gedung tempat acara berlangsung, seakan-akan mereka tidak ingin berpisah dan ingin memanfaatkan saat-saat ini semaksimal mungkin untuk saling melepas kerinduan.

27 September 2009 lewat tengah malam – di rumah tempat aku dibesarkan dan di kamar dimana aku dulu tidur dan belajar mata kuliah Auditing Lanjutan – sewaktu kuliah di FE USU-Medan.

***

Lebaran sebentar lagi…….

Tak begitu lama lagi kita akan tiba di awal Syawal 1430 H, lebaran sebentar lagi. Menjelang lebaran begini, terbayanglah  kita berbagai suasana, peristiwa dan kejadian, baik di masa kanak-kanak dulu maupun di masa kini setelah kita tumbuh dewasa , yang terkadang dapat menimbulkan perasaan haru biru di sela-sela hati sanubari kita.

Menjelang lebaran begini, umumnya suasana di setiap rumah terasa lebih sibuk dibandingkan hari-hari sebelumnya.  Ibu-ibu dan anak perempuannya sibuk bakar membakar kue.

Ada juga yang sedang membuat lemang. Batang bambu diisi dengan beras pulut/ketan dan santan kelapa yang terbungkus dalam dedaun pisang yang dijerang di tungku perapian. Lemang dan tapai, makanan khas di hari lebaran.

Dulu, teman-teman sebaya sudah sibuk keluar masuk kebun menyelusuri sungai yang di tepinya tumbuh pepohonan bambu. Batang bambu ditebang, ranting dan dedaunnya ditetak dan dilepas dari batangnya. Batang bambu dipotong-potong sepanjang kurang lebih satu meter. Batang bambu ini untuk keperluan dijadikan obor sebagai alat penerangan dalam memeriahkan takbiran di malam takbiran. Maklumlah kala itu penerangan listrik belum ada.

Batang bambu diisi dengan minyak tanah dan ujungnya disumpal dengan kain perca sebagai sumbu obor.

Biasanya, selesai mempersiapkan obor bambu, sekujur badan menjadi gatal-gatal, terkena miang pohon bambu.

Tak tahan, sekujur badan pun digaruk sambil tertawa gelak sesama teman sebaya, persis ibarat anak monyet menggaruk badannya, karena terkena olesan terasi (belacan).

Tiba menjelang malam takbiran, kami berbaris rapi dan berjalan perlahan mengelilingi kampung dengan menggunakan obor bambu sebagai alat penerangan mengumandangkan takbir sampai menjelang tengah malam.  Selesai berkeliling di kampung, kami kembali ke langgar (musholla) untuk melanjutkan takbiran sampi shubuh menjelang. Tidur hanya beberapa jam menjelang sholat Ied, pagi shubuh dipaksakan bangun , mandi dan sikat/gosok  gigi serta mengenakan kemeja dan sarung baru cap “KENARI”.

Terkenang dengan mandi dan sikat/gosok  gigi. Alkisah, si fulan, anak kampung sebelah – sikat/gosok gigi hanya setahun sekali, hanya pada saat lebaran (1 Syawal pagi sebelum sholat I’ed). Apa pasal? Memang kala itu pasta gigi dan sikat gigi masih langka dan mahal, zaman masih zaman meleset (malaise). Tidak seperti saat sekarang ini, pasta gigi dan sikat gigi dari berbagai merk mudah diperoleh di pasaran dan harganya murah serta terjangkau. Di samping itu, pada masa itu  penyuluhan tentang  pentingnya kesehatan gigi dan mulut dari pihak pelayanan kesehatan hampir tidak pernah ada.

Kini, si fulan sudah hampir ompong semua giginya, padahal kalau merujuk kepada usianya belumlah saatnya giginya ompong, tetapi karena giginya tidak terawat dari kecil, begitulah jadinya.

Berangkat ke mesjid untuk sholat I’ed dan tiba di mesjid dengan kondisi badan yang kurang fit, maklum semalaman begadang, bertakbiran dan bercanda sesama teman sebaya.

Sayup-sayup terdengar suara khatib menyampaikan khutbah sholat  I’ed, sembari menahan rasa kantuk yang masih tersisa.

Kini semua telah berubah, fenomena kini – mudik atau pulang kampung menjadi tradisi. Entah kapan tradisi ini bermula, mungkin sejak komunikasi dan transportasi sudah tidak menjadi halangan lagi, komunikasi dan transportasi sudah lebih mudah dijangkau para pemudik.

Diperkirakan, pada “H minus 3” telah 2,7 juta pemudik pulang kampung yang membelanjakan (spending) uang rata-rata plus minus 600 ribu rupiah per orang. Maka jumlah  dana yang bergerak plus minus 1,62 triliun rupiah. Jumlah ini tentu mendorong menggeliatnya sektor riel di dunia perekonomian.  Ah…., biarlah itu urusan para ekonom.

Fenomena lain, di kota-kota besar seperti Jakarta, semisal. Pembantu rumah tangga (bahasa  prokemnya : “pembokat” ) menjelang lebaran begini menjadi problema pula.

Para pembokat ini juga ingin merayakan lebaran bersama keluarga di kampung asalnya. Mereka juga mudik ke kampung asalnya dengan berbekal THR dari para majikan. Tidak sedikit para keluarga yang ditinggal pembokat ini kelimpungan, karena mereka terpaksa mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga yang biasanya sehari-hari dikerjakan oleh para pembokat yang mudik ini.

Solusinya, bagi para keluarga yang mampu (the have), mereka membooking dan menginap di hotel berbintang selama para pembokatnya berada di kampung asalnya. Mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam sampai laundry dikerjakan oleh para petugas hotel. Tentunya semua ini diimbali dengan special room-rate di hari lebaran.

Solusi lain, ada juga keluarga mempekerjakan “pembantu inflan”.  Pembantu inflan adalah pembantu sementara dengan tarif gaji khusus, mereka dipekerjakan hanya bersifat sementara, sementara para pembokat berada di kampung asalnya.  Setelah para pembokat kembali dari mudik, para pembantu inflan ini pun habis kontraknya.

Jika tanpa solusi, tidak sedikit pula para majikan menjadi “oshin”, selama para pembokat berada di kampung asalnya.

Demikian sekelumit kenangan dan fenomena yang berulang-ulang setiap tahun pada menjelang lebaran.

Harapannya, mari kita sambut lebaran ini dengan rasa khidmat dan berbagi dengan sesama.

Oh.. Allah remove from me, in this month, the impurities of soul immorality and tendency to turn from good with disgust; let me be calm and composed in the face of events and accidents that have to happen; let me attach myself  to piety and make friends with the pious, through they assistance, Oh… the apple of the eyes of the docile.

Akhirulkalam.  Kami mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. kepada segenap kaum kerabat dan handai tolan. Mohon ma’af lahir dan bathin. Minal Ai’dzin wal fai’dzin.

AH (CGK), RN. : 49, 17 September 2009  (menjelang hari lebaran 1430 H.)

***

Menjelang lebaran

Aku telepon emakku di Medan. Ia dalam keadaan sakit-sakitan, tetapi ia masih sanggup menunaikan ibadah puasa dan sampai saat ini belum pernah tinggal sehari pun – padahal usianya kini sudah 83 tahun…..

Dalam percakapan di telepon, aku mengatakan : “kalau emak puasa nanti satu bulan penuh, akan ku kirim THR untuk emak” kataku sambil bercanda.

“Aku tak perlu THR-mu, nak. Kau kirim cepat cucu-cucuku dan parumaenku (menantu perempuan) ke Medan” katanya serius.

Sementara, dari sudut ruangan sana berturut-turut lagu  “You were always on my mind” dilantunkan oleh Willie Nelson  dengan mendayu-dayu dan lagu “You needed me” disenandungkan oleh Anne Murray, penyanyi Kanada itu. Sesak dadaku dan ku bendung air mataku sekuat tenaga untuk menyimak lagu-lagu itu.

Pada saat menjelang lebaran begini, apakah engkau mengingat ibumu baik yang masih ada maupun sudah tiada…?

Sapa lah mereka…..!

~ Kantor Hayam Wuruk, 16 September 2009 (menjelang cuti bersama dan cuti lebaran) ~

***

Mereka juga turut berjasa bagi kehidupan kita….

Selain orang tua kita, orang-orang yang dekat dengan kita. Guru dan dosen yang telah mengajar dan mendidik kita,  sejak dari bangku TK sampai selesai S1, S2 dan S3 – juga turut berjasa bagi kehidupan kita. Hal ini mungkin tidak bisa dimungkiri, walaupun ada anekdot, yang mengungkapkan bahwa,  terutama di lingkungan birokrat, seseorang dapat menduduki posisi jabatan yang lebih tinggi dari posisi sebelumnya, harus bermodalkan  5 tangan, yaitu: 1-garis tangan, 2-kaki tangan, 3-buah tangan, 4-campur tangan dan 5-tanda tangan.

Masihkah kita ingat dengan guru-guru dan dosen-dosen kita?  Saat kini, mereka ada yang sudah mendahului kita, ada juga yang masih aktif mengajar dan mendidik adik-adik atau anak-anak kita atau ada yang sudah pensiun dan sedang menikmati hidupnya di usia senja.

Mereka juga turut berjasa bagi kehidupan kita.

Inilah nama-nama dosen kita yang pernah mengajar dan mendidik kita selama kita kuliah di FE-USU sejak tahun 1979 :

1-DR. Amrin Fauzi

2-Dra. Adja Safinat

3-Dra. Anna Purba

4-Dra. Arnita Zainuddin

5-Dra. Haida Jasin

6-Dra. Husnaini

7-Dra. Lucy Anna

8-Dra. Pinta Ginting

9-Drs. Agusni Pasaribu

10-Drs. Amru Nasution

11-Drs. Arifin Ahmad

12-Drs. Arifin Hamzah

13-Drs. Azwani Malik Miraza

14-Drs. Bagemalem Pinem

15- Drs. Bahauddin Darus

16-Drs. Bersih Surbakti

17-Drs. Chairuddin Nasution

18-Drs. D.T. Sinulingga

19-Drs. Dachnial Lubis (Alm.)

20-Drs. Djoto Ginting

21-Drs. Fakhruddin, MSM

22-Drs. Firman Pelawi

23-Drs. Helmy Rangkuti (Alm.)

24-Drs. Jhon Tafbu Ritonga

25-Drs. Jonathan  Sembiring

26-Drs. Kabar Sitepu

27-Drs. Karel S. Manik

28-Drs. Katio

29-Drs. Lian Dalimunthe

30-Drs. Marwan Harahap

31-Drs. Oemar Witarsa

32-Drs. Parentahen (Alm.)

33-Drs. Rahim Siregar

34-Drs. Ramli Nasution

35-Drs. Rekes Surbakti

36-Drs. Samad Zaino

37-Drs. Sanggup Sembiring

38-Drs. Sayuti Nasution

39-Drs. Selamat Sinuraya (Alm.)

40-Drs. Sobat Sembiring

41-Drs. Sudardjat  Sukadam (Alm.)

42-Drs. Suryakanta

43-Drs. Syamsul  Lubis (Alm.)

44-Drs. Syarbaini Zain

45-Drs. T. Ezmel Hasnan (Alm.)

46-Drs. Yakub Hasibuan

47-OK.Harmaini, SE

48-Prof Moenaf Hamid Regar

49-Prof. Adham Nasution

50- Prof. Bachtiar Hasan Miraza

51-Prof. Dr. S. Hadibroto (Alm.)

52-Prof. M.L. Tobing

53-Prof. Marriam Darus

Teman-teman alumni, mari kita mendo’akan  mereka. Semoga Allah memberkati dan membalas budi dan jasa baik mereka.

Mohon ma’af, jika seandainya ada nama dosen yang belum disebutkan. Itu lah nama-nama dosen yang sempat diingat dan di-searching di website almamater kita.

13 Ramadhan 1430 H./3 September 2009 M.

Hotel “IP”, RN: 103, Bandar Lampung – 35119

***

Nuzulul Qur’an

Al Qur’anul Kareem diturunkan pada bulan Ramadhan. Kita sebagai hamba Allah seharusnya memperhatikan perintah-perintah dalam Al Qur’an dan lebih memperhatikan ayat-ayat ijtimaiyah (sosial), ayat-ayat tarikhiyah (historis)  dan  ayat-ayat nafsiyah (jiwa). Kita hendaknya harus lebih banyak belajar dari peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi. Selama ini kita hanya belajar teks yang terstruktural. Mungkin saja selama ini kita belum serius  mendengar dan mebaca Al Qur’an dalam arti yang sesungguhnya, malah mungkin jarang dan tidak pernah sama sekali.

Semua ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta yang maha luas ini tak akan terbaca kalau seseorang tidak mampu menggunakan nalarnya dengan baik untuk menganalisis  dan merenungkan asal-usulnya dan kehebatan Penciptanya. Allah akbar  walillahilhamd’.

Puri Beta, 14 Ramadhan 1430 H./4 September 2009 M.

***

Awal Ramadhan

1 Ramadhan 1430 H. jatuh pada Sabtu, 22 Agustus 2009. Setelah Menteri Agama, Maftuh Basyuni memimpin sidang Itsbat untuk menetapkan awal Ramadhan. Berdasarkan hasil pengamatan secara rukyah pada Kamis, 20 Agustus 2009 di seluruh Indonesia, hilal belum tampak, karena itu awal Ramadhan ditetapkan menjadi Sabtu, 22 Agustus 2009. Apa itu hilal?  Hilal  adalah bulan sabit terkecil yang dapat dilihat oleh mata manusia beberapa saat setelah matahari terbenam.

Memang melihat hilal tidak mudah. Selain kondisi atmosfir dan awan yang menghalangi hilal, juga pancaran sinar matahari sering mengaburkan pandangan. Hilal harus memiliki sudut minimum 7 derajat terhadap matahari atau paling tidak umur hilal minimum 12 jam, selepas konjungsi agar ia dapat terlihat oleh mata manusia tanpa peralatan optik. Proses rukyatul hilal tetap dilakukan dalam kondisi apapun. Apabila hilal tidak nampak, maka diputuskan untuk menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.  Demikian kira-kira mekanisme yang ditempuh dalam menetapkan awal Ramadhan.

Ketika sidang itsbat berlangsung,  aku  masih berada nun jauh di pedalaman Kalimantan sana. Untunglah komunikasi di saat kini sudah tidak menjadi halangan lagi, walaupun aku berada di pedalaman Kalimantan sana, namun kontak dengan dunia luar tidak menjadi masalah, sehingga informasi tetap mutakhir, apalagi jika aku berada di bawah menara BTS,  sinyal 3.5G di hp-ku tetap full bar.  Namun karena pekerjaan ku belum selesai, maka aku tak bisa pulang ke rumah di Jakarta untuk sahur bersama keluarga di awal Ramadhan, aku sahur di LG, Jl. Jend Sudirman, Balikpapan.

Banyak karyawan dan pebisnis yang bertugas di Balikpapan atau di Samarinda (Kalimantan Timur) yang kembali ke Jakarta pada hari Jum’at, 21 Agustus 2009,  agar mereka dapat sahur bersama dengan keluarganya di Jakarta. Umumnya mereka tidak membawa keluarga mereka ke Balikpapan atau Samarinda, mereka selalu diplesetkan dengan istilah “Bulok”, singkatan “Bujang lokal”.

Memang sedih juga, aku sahur tanpa keluarga di rantau orang. Pukul 3.30 WITA, wake-up call berdering di samping pembaringan ku di kamar nomor 209, aku bergegas turun ke lobby yang satu lantai dengan restauran, untuk makan sahur.  Masih ada sisa rasa kantuk, lelah dan kurang bersemangat, aku ambil sepotong ayam goreng dan sayur tumis kol, makanan yang sudah dihidangkan secara pransmanan. Aku suap nasi dan lauk pauknya tanpa selera dan ku lihat sekeliling ku hanya kurang lebih 8 set meja dan kursi makan yang diduduki tamu untuk makan sahur. Dalam hati ku berkata: “Sedikit sekali tamu yang menginap di hotel ini yang akan menjalankan ibadah puasa esok hari”. Memang expatriat dan tamu yang bermata sipit yang banyak menginap di hotel ini.

Ku alihkan fikiran ku. Aku harus bersyukur kepada Allah, walaupun makan sahur seorang diri jauh dari keluarga, tetapi masih diberi kesempatan oleh Allah untuk makan sahur dan menjalankan ibdah puasa keesokan harinya.

Terbayang oleh ku, para satpam penjaga menara BTS, penjaga Microwave-link, penjaga Stasiun Bumi Besar, penjaga Back-bone yang berada di puncak-puncak gunung, berada di pucuk-pucuk bukit (jauh dari keramaian kota), yang selalu setia memantau beroperasinya perangkat-perangkat tersebut, agar kita semua tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan handphone, bisa menggunakan internet dan bisa berfacebook ria, karena jasa-jasa mereka. Apakah mereka sudah makan sahur?

Aku baru saja mengunjungi salah satu site tempat perangkat-perangkat tersebut beroperasi di pedalaman Kalimantan sana. Salah satu site dimana tempat satpam penjaga tersebut berada. Ku lihat di kamar mereka. Hanya ada televisi berwarna 14 inchi, ada pemanas air listrik,  ada dispenser  yang berisi tinggal hanya sepertiga air mineral di dalam galonnya, ada tiga  bungkus mie instan dan ada setumpuk cabe merah yang lebih banyak cabenya yang kering daripada cabe yang masih segar dan ada sebotol kecap yang isinya hanya tinggal ¼ botol lagi.

Aku bertanya kepada satpam penjaga tersebut: “Bapak puasa nanti kalau bulan Ramadhan”. “Puasa lah, Pak”, jawabnya. “Makan sahur dan berbuka puasa pake apa?”, aku melanjutkan pertanyaan ku kepadanya. Sambil mesem-mesem, satpam penjaga tersebut menyahut : “Kan ada (menyebut nama salah satu merk mie instan)”.  Dalam hatiku: Nabi juga berbuka hanya makan buah kurma.

Kami tinggalkan site di puncak gunung yang berada tidak jauh dari Taman Hutan Raya Bukit Soeharto tersebut menuju kota Balikpapan.

22 Agustus 2009, RN. 209,  LG-Balikpapan.

***

Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi

Jika anda bukan etnis Bugis, mungkin tiga kata di judul notes ini pasti masih asing di telinga anda, kecuali anda pernah membaca tentang arti dan maknanya. Demikian juga jika anda bukan etnis Batak, mungkin arti dan makna kata Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tidak mempunyai makna apa-apa. Kendatipun anda etnis Batak, tetapi tidak pernah memahami arti dan maknanya, ketiga kata-kata itu juga tidak ada arti dan maknanya bagi anda.

Kita mahfum adanya, Indonesia terdiri dari berbagai etnis anak bangsa. Menurut wikipedia.org, Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis.

Tentu setiap etnis yang ada di Indonesia ini mempunyai nilai luhur masing-masing yang dijunjung tinggi oleh komunitasnya dan dipertahankan implementasinya sampai ke anak cucu.

Hendaknya, hari ulang tahun kemerdekaan ini kita jadikan momentum untuk lebih mempererat ikatan rasa persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa yang ada di Indonesia. Seyogianya tidak ada lagi perasaan aku Batak, kamu Jawa, saya Bugis, ente Betawi, dan sebagainya. Walaupun kita berbeda tetapi tetap satu juga. Dirgahayu Republik Indonesia.

16 Agustus 2009,

“C”  Hotel & Conv. Makassar,  Jl. A.P. Pettarani No. 3, Makassar (RN. : 712).

***

Marhaban ya Ramadhan

Ramadhan sudah di pelupuk mata. Tak lama lagi kaum muslimin dan muslimah di seluruh pelosok dunia, tentu yang beriman akan melaksanakan ibadah puasa. Ibadah klasik yang telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, seperti yang dinukilkan dalam surat Al-Baqarah : 183.

Mari kita merenung dan tercenung sejenak, mengintropeksi diri kita masing-masing, apa yang telah kita lakoni dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya.

Ketika kanak-kanak dulu, jika Ramadhan di ambang pintu, tak terkirakan betapa senangnya hati kita. Yang jelas akan libur sekolah selama sebulan lebih, terbayang akan mandi di sungai pada saat panas di siang hari.

Aku berlatih dan pandai berenang di Sungai Deli, pada saat bulan Ramadhan. Tentu air sungai itu tidak seperti sekarang ini, yang sudah sarat dengan limbah pabrik. Dulu air Sungai Deli di tepian “Pak Syahaq” (dulu tanah dan bangunan rumah  Alm. Pak Syahaq, persis di tepi Sungai Deli, di sekitar Kampung Glugur) masih jernih dan acap sekali aku melihat bapak tua tukang menjala ikan melenggang kangkung di tepian “Pak Syahaq” membawa hasil jerih payahnya menjala ikan, berupa 4 sampai 5 ekor ikan baung yang dijinjingnya di tangan kiri dan di bahu kanannya tersandang seperangkat alat untuk menjala ikan. Itu sudah lama sekali.

Puasa di kala itu tak lebih hanya sekedar menahan haus dan lapar – tidak makan, tidak minum dan tidak bicara yang jorok-jorok.  Yang ku tahu kala itu, hanya 3 hal yang membatalkan puasa, yaitu : 1. tidak makan, 2. tidak minum, dan 3. tidak bicara yang jorok-jorok. Tak jarang dengan sengaja minum air sungai pada saat  panas di siang hari.

Di malam hari menegakkan sholat sunath tharaweh di musholla, tak jauh dari rumahku. Terus terang, lebih banyak bercandanya dengan kawan-kawan sebaya daripada  khusu’nya. Ya, Allah ampunilah dosa-dosaku.

Menjelang akhir Ramadhan, aku sibuk membakar lilin dan kembang api dan sesekali membantu emak membakar kue untuk persiapan lebaran.

Hari berganti hari, Ramadhan berganti ke Ramadhan berikutnya, kita tumbuh semakin dewasa, berangsur-angsur makna puasa mulai bergeser. Puasa mulai semakin bermakna.  Puasa tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, pelan-pelan kita merasakan apa makna puasa yang kita lakukan. Kita dapat merasakan perasaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, saudara-saudara kita yang papa. Kita selami perasaan mereka melalui berpuasa.

Tiba saat berbuka puasa, sudah semakin terasa makna saat berbuka puasa dan saat kita bertemu dengan Tuhan kita. Untaian kegiatan demi kegiatan, makna demi makna itu menari-nari di alam fikiran kita. Apakah dapat kita rasakan?

Mari kawan-kawan sejenak kita melongok ke Ramadhan yang lalu dan beranjak ke Ramadhan mendatang.

Pasti  saja ada. Ayah, ibu, suami, isteri, anak, kemanakan atau karib dan kaum kerabat yang sudah tidak dapat lagi menunaikan ibadah puasa pada saat Ramadhan mendatang, karena mereka sudah dipanggil dan kembali ke khalik-Nya.

Mungkin, ada yang terbayang, ketika ia dan isteri/suaminya mengantarkan seperangkat rantang yang berisi gulai opor ayam dan sayur lodeh ke rumah ibunya, untuk santapan berbuka pada Ramadhan yang lalu. Ibunya membalas dengan mengisi kembali rantang-rantang itu dengan kue-kue basah, seadanya. Kini ibunya telah tiada, kembali ke khalik-Nya, dan ia tidak mungkin lagi mengantarkan makanan ke rumah ibunya.

Mungkin, ada juga yang teringat dengan kerabat muslim yang sejak kecil jarang berpuasa. Terkadang berpuasa, terkadang tidak, padahal ia sudah aqil baligh (dewasa). Puasa menjadi beban yang amat berat baginya. Jika Ramadhan akan tiba, sudah susah hatinya.

Mungkin, ada juga yang teringat dengan si polan. Selama Ramadhan si polan lebih banyak tidur, dengan argumentasi bahwa pada bulan Ramadhan tidur itu juga merupakan ibadah. Ia bangun hanya pada saat menunaikan sholat wajib, selepas itu ia tidur lagi. Bangun tidur, tidur lagi. Tidur, bangun lagi. Bangunnnnn…. tidur lagi. Tapi kini ia sudah tidur untuk selama-lamanya dan tidak mungkin lagi bangun untuk berpuasa pada saat Ramadhan mendatang.

Mungkin, ada juga seorang ayah atau ibu yang bersimbah air mata, mengenang anaknya yang baru mulai belajar berpuasa. Si anak merengek-rengek kepada ibunya, agar ia dibangunkan ketika waktu sahur tiba. Tetapi keesokan harinya baru jam 10.00 pagi, ia sudah merengek-rengek pula kepada ibunya, agar ia dibuatkan mie instan. “Lapar, Ma”, katanya. Kini rengekan si anak tidak pernah terdengar lagi, belum ia dewasa sudah dipanggil pulang oleh yang Maha Kuasa. Pucuk nyiur yang masih muda ada juga yang gugur, jatuh ke tanah.

Mungkin, ada juga seorang suami yang terkenang, ketika isterinya menyiapkan makanan sahur dan makanan untuk berbuka puasa, tetapi kini sosok sang isteri tidak mungkin lagi menyiapkan makanan sahur dan makanan untuk berbuka puasa di Ramadhan mendatang, karena sang isteri sudah mendahului sang suami pergi menghadap khalik-Nya.

Sebaliknya mungkin, ada juga seorang isteri termangu-mangu meneteskan air mata, ketika ia mengingat sang suami menjinjing beberapa ikatan daun pisang  bungkusan kue jongkong dan beberapa mangkuk plastik es buah di tangannya di depan gerbang rumah ketika menjelang saat berbuka puasa pada Ramadhan yang lalu. Tetapi kini tidak ada lagi tangan-tangan suami yang akan menjinjing jongkong dan es buah pada saat menjelang berbuka puasa pada saat Ramadhan mendatang. Sang suami sudah kembali ke khalik-Nya.

Mungkin ada diantara kita yang merasakan kondisi seperti yang terurai tersebut di atas, yang masih membekas di hati sanubari kita. Menjelang Ramadhan ini, mari kita panjatkan do’a kepada mereka-mereka. Semoga segala dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah SWT dan segala amal ibadah dan jasa-jasa yang pernah mereka lakukan diberikan imbalan oleh Allah SWT.

Kita semua pasti tidak tahu, apakah usia kita akan sampai ke Ramadhan mendatang. Mari kita sama-sama memohon ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, agar kita diberikan usia yang berkah dan kesehatan yang cukup, supaya kita dapat memeluk Ramadhan mendatang dan melaksanakan ibadah yang klasik itu. Aminnn YRA.

Hotel “P”, Jl. Pandanaran Semarang (RN : 301), 8 Agustus 2009.

***

Alumni Fak. Ekonomi  USU Angkatan ‘79

Tahun 1979 ke tahun 2009, berarti sudah 30 tahun. 30 tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi rasanya kalau kita mengingat kembali (kilas balik), masih terbayang di alam fikiran kita, masih segar dalam ingatan kita 30 tahun yang lalu, kita baru menginjakkan kaki ke bangku perkuliahan, setelah menammatkan pendidikan tingkat SMA yang penuh dengan sejuta kenangan. Betul, nggak?

Saya ingin sejenak mengajak alam fikiran teman-teman ke tahun 1979. Setelah nama kita tercantum di koran yang berlembar-lembar  yang khusus memuat nama-nama yang lulus dalam ujian penerimaan mahasiswa (Sipenmaru/ Proyek Perintis 1). Ternyata nama kita ada dimuat di koran tersebut dan kita diterima sebagai mahasiswa di Fak. Ekonomi USU.

Calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Sumatera Utara dan luar Sumatera diterima sebagai mahasiswa di Fak. Ekonomi  USU. Tetapi, tentu ada juga teman-teman SMA kita yang kurang beruntung, tidak termuat namanya di koran yang berlembar-lembar itu, berarti ia tidak lulus atau tidak diterima sebagai mahasiswa melalui Sipenmaru/Proyek Perintis 1.

Kita pun mendaftar ulang sebagai mahasiswa yang diterima di Fak. Ekonomi USU pada tahun 1979, mengikuti tes kesehatan dan selanjutnya mengikuti OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) di halaman tengah Fak. Ekonomi USU. Kalau masih ingat pada tahun ajaran 1979/1980 terjadi perobahan sistem perkuliahan, dari sistem JAS (Jam Semester) menjadi sistem SKS (Sistem Kredit Semester, yang sering diplesetkan menjadi Sistem Kebut Semalam).

Kita pun memulai perkuliahan. Di awal semester pertama, nomor stambuk mahasiswa dibagi menjadi nomor stambuk genap dan nomor stambuk ganjil yang mengelompokkan mahasiswa untuk mengikuti mata kuliah tertentu. Kita pun mengikuti mata kuliah dasar, seperti : Bahasa Inggris, Agama, Matematika, Kewiraan, Pengantar Teori Ekonomi, Pengantar Akuntansi, dan mata kuliah dasar lainnya. Tiba masa ujian semester, kita pun terlebih dahulu mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) yang harus disetujui oleh dosen pembimbing.

Pasti kita masih ingat, di awal semester pertama kuliah di Fak. Ekonomi USU. Dekan: Bapak Bahauddin Darus. Yang mengurus bidang akademik: Bapak Azwani Malik dan pembantunya ada  Bapak Tumanggor. Ketua Senat:  Erwin Abubakar. Sekretaris Senat: Asli Perangin-angin. Yang mengurus daftar hadir mahasiswa, jadwal kuliah dan pengumuman-penguman: Bapak Sujud (sering disebut sebagai Pembantu Dekan IV/Pudek IV). Yang menjaga kendaraan mahasiswa di lapangan parkir: si Ngantuk dan Pak Tua.

Suasana tempat/ruangan di lingkungan Fak. Ekonomi USU. Ada ruang 13/14 yang khusus untuk menampung mahasiswa yang akan mengikuti mata kuliah dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak, sehingga sekat ruang 13/14 harus dibuka. Ada kantin FEMI, ada perpustakaan di lantai 2, ada musholla, ada tempat parkir, ada pohon rindang di dekat kolam di depan kampus Fak. Ekonomi USU – tempat mahasiswa beristirahat, ada ruang PPA (Pusat Pengembangan Akuntansi) yang dibangun dengan dana bantuan ADB (Asian Depelopment Bank), ada ruang tunggu untuk dosen dan ada kolam dengan tumbuhan bunga teratai di tengah-tengah  kampus Fak. Ekonomi USU. Masih ingatkah kita?

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Para mahasiswa pun mulai berkiprah. Ada yang aktif di organisasi kemahasiswaan (ekstra kurikuler), seperti : HMI, GMNI, PMII dan lainnya, ada yang aktif di organisasi intra, seperti Senat dan BPM, ada juga yang aktif di kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya, CPR (Club Pohon Rindang), yang poskonya di depan kampus dekat kolam di bawah pohon seri yang rindang dan ada mahasiswa yang aktif di kelompok-kelompok mahasiswa dengan atribut-atribut tertentu . Tetapi, tentu ada juga mahasiswa yang acuh tak acuh. Kegiatannya hanya belajar, belajar, belajar. Perpustakaan fakultas di ruang lantai 2 dan perpustakaan pusat di dekat Fak. Sastra USU, menjadi tempat tinggalnya sehari-hari, berkutat dengan buku-buku text-book.

Tiba lah saatnya pembagian jurusan, ada mahasiswa yang masuk ke jurusan manajemen, ke jurusan akuntansi dan ke jurusan studi pembangunan. Namun, tidak sedikit pula jumlah mahsiswa yang sudah masuk ke jurusan akuntansi membelot ke jurusan manajemen  dengan berbagai alasan yang tentu cukup masuk akal.

Masa-masa kuliah tentu menyimpan jutaan kenangan. Kenangan-kenangan ini ada yang tersimpan di hati sanubari  yang paling dalam, mungkin juga ada yang sudah dilupakan, mungkin pula ada yang harus dilupakan dan tidak perlu dikenang-kenang lagi, karena kenangan ini ada yang manis, tentu ada pula yang pahit. Betul, nggak?

Selanjutnya, tiba lah waktu judicium dan wisuda. Ada mahasiswa yang menyelesaikan masa kuliahnya tepat waktu, malah ada yang lebih cepat dan mereka masih sempat memperoleh/memiliki  ijazah sarjana muda. Tetapi tidak sedikit pula mahasiswa yang tidak sempat mendapatkan ijazah sarjana muda.  Ada juga yang terlambat menyelesaikan masa kuliahnya dan mereka sempat diancam dengan sistem DO (Drop Out).

Kini, setelah 30 tahun semua suasana fisik dan suasana hati yang dituturkan seperti tersebut di atas telah berubah, telah berganti, tidak ada yang abadi. Para alumni telah berserak dan berpencar  kemana-mana di seantero dunia ini. Mungkin sudah ada yang bermukim di luar negeri, di luar Sumatera atau ada yang sudah kembali dari luar negeri dan tentu masih ada yang masih tetap bermukim dan bertempat tinggal di Medan. Para alumni membawa nasib dan garis tangannya masing-masing, ada yang bekerja di instansi pemerintah, bekerja di unit-unit swasta, bekerja sebagai saudagar, bekerja sebagai pendidik (dosen) dan berbagai profesi lainnya.

Di salah satu sudut di kota Medan, di sebuah restoran yang asri terbersit suatu keinginan untuk berkumpul dan untuk kangen-kangenan dan jauh dari maksud atau niat untuk show force, untuk memamerkan keakuan, memamerkan kehebatan, apalagi memamerkan kekayaan. Bukan, bukan itu maksud dan niatnya, tetapi semata-mata untuk berkumpul, untuk bersilaturahim, untuk mengumpulkan yang berserak-serak, untuk bertegur sapa satu sama lain sesama alumni Fak. Ekonomi USU, angkatan ’79. Kita ingin membayangkan Almamater tercinta tersenyum simpul melihat kita berkumpul dan bertegur sapa.

Mari kita sama-sama merancang untuk mewujudkan rencana kegiatan untuk  bersilaturahim sesama alumni Fak. Ekonomi USU, angkatan ’79 yang dibalut dalam acara Halal bil Halal pada tanggal 25 September 2009 mendatang. Kegiatan ini khusus dari kita dan untuk kita sesama alumni Fak Ekonomi USU, angkatan ’79. Mari  kita simpan dulu rasa skeptis (yang mungkin ada di dalam diri kita) terhadap rancangan kegiatan ini. Memang kita hanya bisa merancang, tetapi tentua Ia jua lah yang memancangnya.

HDTI–RN: 536, Minggu dinihari 20 Juli 2009…..

***

Di saat daku tua

Di saat daku tua, daku bukan lagi diriku yang dulu,

Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Di saat daku menumpahkan kuah sayuan di bajuku,

Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,

Ingatlah saat-saat bagaimana daku dulu mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Di saat daku membutuhkanmu untuk memandikan diriku,

Janganlah menyalahkan ku, ingatlah di masa kecilmu, bagaimana dengan berbagai cara daku membujukmu untuk mandi.

Di saat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,

Janganlah mentertawakanku, renungkanlah bagaimana daku dengan sabar menjawab setiap pertanyaan “mengapa” yang engkau ajukan saat itu.

Di saat daku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,

Bersabarlah mendengarkanku,  jangan memotong ucapanku.

Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus selalu cerita yang telah daku ceritakan kepada mu ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Di saat kakiku terlalu lemah untuk berjalan,

Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,

Bagaikan di masa kecilmu, daku menuntunmu melangkahkan kakimu untuk belajar berjalan.

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,

Berikanlah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.

Sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Di saat engkau melihat diriku menua,

Janganlah bersedih, maklumilah diriku, dukunglah diriku, bagaikan daku memperlakukan terhadapmu di saat engkau mulai belajar untuk kehidupan.

Dulu aku menuntunmu menapaki jalan kehidupanmu ini.

Kini terimalah daku hingga akhir jalan hidupku.

Berilah daku cinta kasih dan kesabaran,

Daku akan menerimanya dengan senyum penuh kesyukuran,

Di dalam senyumku, tertanam kasihku yang tak terhingga pada mu.

Ria Ice Cream, Jln. Surabaya, Medan, 5 Juli 2009

***

MAMA by Heintje (1967)

Mama..du sollst doch nicht um deinen Junge weinen (Mama..janganlah engkau menangisi putramu)

Mama..einst wird das Schicksal wieder uns vereinen (Mama..kelak takdir kan mempertemukan kita)

Ich werd’ es nie vergessen..was ich an dir hab’ besessen (Ku tak kan lupa..hutang budi yang kumiliku padamu)

Dass es auf Erde nur einer gibt, die mich so einsam geliebt

(Di dunia ini hanya ada seorang, yang begitu kesepian mencintaiku)

Mama… und bringt das Leben mir um Kummer und Schmerz

(Mama dan ternyata hidup itu membawa keresahan dan penderitaan padaku)

Dann denk’ ich nur an dich (Hingga ku berpikir tentang mu)

Es betet ja fuer mich oh Mama dein Herz (Hatimu berdoa untukku oh Mama)

Tage der Jugend vergehen (Hari-hari remaja pun berlalu)

Schnell wird der Juengling ein Mann (Begitu cepat anak muda menjadi dewasa)

Traeume der Jugend verwehen (Mimpi-mimpi masa muda berlalu)

Dann faengt das Leben erst an (Kemudian barulah hidup sebenarnya mulai)

Mama ich will keine Traenen seh’..wenn ich von dir dann muss gehen (Mama ku tak ingin melihat tangis..saat ku pergi dari mu)

Mama..du sollst doch nicht um deinen Junge weinen (Mama..janganlah engkau menangisi putramu)

Mama..einst wird das Schicksal wieder uns vereinen (Mama..kelak takdir kan mempertemukan kita)

Ich werd’ es nie vergessen..was ich an dir hab’ besessen (Ku tak kan lupa..hutang budi yang kumiliku padamu)

Dass es auf Erde nur einer gibt, die mich so einsam geliebt (Di dunia ini hanya ada seorang, yang begitu kesepian mencintaiku)

Mama… und bringt das Leben mir um Kummer und Schmerz (Mama dan ternyata hidup itu membawa keresahan dan penderitaan padaku)

Dann denk’ ich nur an dich (Hingga ku berpikir tentang mu)

Es betet ja fuer mich oh Mama dein Herz (Hatimu berdoa untukku oh Mama) Mama…

Mama Text & Terjemahan: Andika Pram (Duesseldorf – November 2005)

Courtesy  : Yoz Harahap….

***

Gelar Adat

Salah satu buah karya dari kakek/ompung kami adalah, beliau menciptakan dan menabalkan gelar-gelar adat kepada istrinya, menantunya dan anak-cucunya.

Gelar-gelar adat tersebut ditabalkan dengan prosesi acara adat Tapanuli Selatan. Gelar adat tersebut adalah sebagai berikut :

Nama {Gelar Adat} {Keterangan}

H. Ismailyah Azhaddin Harahap {Mangaraja Gunung Mulia} {(Alm.)}

Siti Mariam Siregar {Ompu Gading Boru Siregar} {Istrinya (almh)}

1. Nasran Makmur Harahap {Baginda Tulis Paruhuman} {Anak laki-laki}

2. Yushar Makmur Harahap {Patuan Lukman Arif Muda} {Anak laki-laki (alm)}

3. Harli Ishary Harahap {Sutan Barumun Tua} {Anak laki-laki (alm)}

4. Jachmier Noveloon Harahap {Baginda Timbung Dilaut} {Anak laki-laki}

5. Novli Seniar Harahap {Sutan Bangun Parugari} {Anak laki-laki}

6. Edward Franzossa Harahap {Baginda Enda Mora Parluhutan} {Anak laki-laki (alm)}

7. Danris Ferwary Harahap {Sutan Syarif Muda} {Anak laki-laki}

1. Nelly Rosmalan Harahap {Nai Langit Marela Bulan} {Anak perempuan (almh)}

2. Juchaini Arsenal Harahap { Nai Sonang Matua Bulung} {Anak perempuan (almh)}

3. Ristalena Ochny Harahap {Nai Sondang Milong-ilong} {Anak perempuan}

1. Siti Rubiah Nasution {Namora Suti Nalambe Bulung} {Menantu perempuan}

2. Siti Rachmah Rasahan {Gahara Na Djogi Rudang} {Menantu perempuan}

3. Dermawan Siregar {Namora Oloan Parlaungan} {Menantu perempuan (almh)}

4. Sukarni {Namora Sinta Martua Bulung} {Menantu perempuan}

5. Tuty Sumiati {Namora Sunting Kembang Wangi} {Menantu perempuan}

6. Irma Deliana Lubis {Namora Purnama Sainisara Dewi} {Menantu perempuan}

1. Amrin Harahap {Sutan Diapari Halomoan} {Cucu laki-laki}

2. Sjaiful Bahri Harahap {Sutan Sjaiful Alamsyah} {Cucu laki-laki}

3. Bina Sakti Harahap {Mangaradja Gunung Parlindungan} {Cucu laki-laki (alm)}

4. Yos Harahap {Mangaradja Soripada Pardomuan} {Cucu laki-laki}

5. Tri Sakti Harahap {Mangaradja Setia Pardamean} {Cucu laki-laki}

6. Zulfikar Harahap {Baginda Maulana Santeri} {Cucu laki-laki}

7. Taberdika Harahap {Baginda Otteman} {Cucu laki-laki}

8. Rebi Harahap {Baginda Ranggur Hadamean} {Cucu laki-laki}

9. Harlan Harahap {Baginda Sahat Martua} {Cucu laki-laki}

10. Syach Adelya Harahap {Sutan Baun Alam Perkasa} {Cucu laki-laki}

11. Yan Yustinov Harahap {Mangaradja Pahlawan Nusa} {Cucu laki-laki}

12. Donny Gumulya Harahap {Mangaradja Dermawansyah} {Cucu laki-laki}

13. Harry Sutriwara Harahap {Mangaradja Sakti Susila} {Cucu laki-laki}

Gelar-gelar adat tersebut di atas ditulis dan diarsipkan oleh ompung kami dalam buku catatannya pada tanggal 11 Januari 1976 di Medan.

Pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 1987, jam : 14.15 WIB, di Rumah Sakit PTP–IX Jln. Putri Hijau Medan, setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, ompung kami menghembuskan nafasnya yang terakhir, menghadap khaliknya Allah SWT, dalam usia 82 (delapan puluh dua) tahun. Keesokan harinya Kamis, tanggal 5 Februari 1987, jam 16.00 WIB, jasad beliau dimakamkan di Perkuburan Umum/Tanah Wakaf Jln. Guru Patimpus, Kampung Petisah, Medan.

Setelah ompung kami meninggal dunia, berdasarkan hasil keputusan sidang adat (Tapanuli Selatan) – melalui prosesi acara adat tersebut – gelar adat ompung kami diserahkan kepada ku. Dengan demikian, sejak saat itu gelar adat ku berubah dari Sutan Sjaiful Alamsyah menjadi Mangaraja Gunung Mulia.

Ku pikir-pikir, apalah arti sebuah gelar adat bagi ku. Aku terkenang, seperti apa kata kawan ku : “Inna akramakum ‘indallahi atqakum. Innal muttaqina mafazan. Innal muttaqina fi jannatin wa na’im”.

***

Al-I’tiroof  (Forgiveness)

Ilahi, aku bukanlah ahli sorga

Namun aku tak mampu menahan panasnya api neraka

Yaa Allah, terimalah taubatku dan ampuni dosa-dosaku

Karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun segala dosa

Dosa-dosaku tak terhitung bagaikan butiran pasir

Terimalah taubatku ini, ya Allah

Umurku berkurang setiap hari

Sementara dosa-dosaku bertambah, bertambah dan bertambah

hingga aku tak mampu memikulnya

Ilahi, inilah aku hamba-Mu yang penuh dosa datang kepada-Mu

Mengakui dosa-dosa dan bersimpuh merintih memanggil-Mu

Maka jika Engkau ampuni dosa-dosaku, sesungguhnya

Engkaulah yang berhak mengampuni segala dosa

namun bila Engkau tolak do’aku, taubatku, permohonan ma’afku

Kepada siapa lagi aku, hambu-Mu ini, mesti berharap

Menjelang kegelapan malam di Puri Beta, 24 Juni 2009/2 Rajab 1430 H.

(Dikutip dari syair lagu : Al-I’tiroof  – Haddad Alwi)

***

Sorotbalik kota kembang Bandung (1989 – 1990)

Terus terang,  aku buka kembali file Calender-Microsoft  Outlook,  ketika akan menulis notes yang sederhana ini. Sebahagian isi file Calender-Microsoft  Outlook tentu saja sudah disinkronisasi dari notebook  (yang terbuat dari beberapa lembar kertas yang dibalut dengan sampul kulit sintetis yang di sampul muka tertulis “Diary”)  ke notebook (yang sudah terbuat dari  beberapa bahan keping plastik dan silikon), ada yang menyebutnya laptop.

Itu hanya media, dulu orang menulis di atas batu dan di atas kulit kayu, kemudian di atas kertas, sekarang dengan komputer dan disimpan di disk.

Aku bukan mau menceritakan sejarah perkembangan komputer,  tetapi yang akan aku ceritakan tentang sorotbalik kota kembang Bandung, kurang lebih 20 tahun lalu.

Mungkin saja ada teman-teman  pada tahun 1989-1990 berkunjung  atau berdomisili di kota Bandung, apakah ketika itu ia sedang menimba ilmu atau sedang bekerja atau sekedar berkunjung atau bertamasya.

Dua puluh tahun lalu (1989-1990).

Ketika usia masih 29 tahun, aku indekost di ruang kamar sempit, 2 kali 3 meter di bilangan Gerlong. Di dalam kamar,  ada satu tempat tidur (ku sebut: rosbang), ada satu meja belajar dan ada satu jam dinding. Kamar mandi di luar kamar, yang setiap pagi harus antri untuk bergilir mandi.

Aku sebagai traineer di PEDC, Ciwaruga, kurang lebih 20 km dari Gerlong, tempat indekost

__________________________________

Usia/29 tahun/49 tahun

__________________________________

Lembaga/PEDC/BPKP

__________________________________

Domisili/Kost di Gerlong/Puribeta

__________________________________

Status/Single/Mixed double

__________________________________

Route/Gerlong – Ciwaruga-Ledeng – Kalapa/Tangerang – HW – Pramuka

______________________________________________________________

Buah tangan/Karya Umbi/Brownies kukus Amanda, Sosis

_________________________________________________________________________

Jeans/Pasar Tamin, Cihampelas/Cihampelas, Jl Riau, Jl. Ir. Juanda (Factory Outlet)

_________________________________________________________

Tempat Makan/Cikapundung/Rumah Sosis Setiabudi, Kartika Sari

_________________________

Taxi/travel/4848/ekstrans

____________________________________________

Plaza/Palaguna Plaza/Bandung Indah Plaza (BIP)

_____________________________________________

Game/Domino/fb

____________________________________

Radio/Oz Radio Bandung/Trijaya FM

____________________________________________

Masjid/Masjid Salman ITB/Masjid Raya Bandung

__________________________________

Buku/Palasari/Gramedia, Bandung

__________________________________________________

Barang loakan/Pasar Jatayu/FO Babe (Barang Bekas)

___________________________________________________________________________

Jakarta – Bandung/Jakarta – Puncak Pass – Bandung (4 jam)/Tol Cipularang (2,5 jam)

___________________________________________

Lalu lintas/Nyaman/Macet (Sabtu dan Minggu)

___________________________

Udara/Sejuk/Rada gerah

________________________________

Studio/Studio East Cihampelas/-

_______________________________

Film/The Last Emperor/Star Trek

________________________________

Guestroom 804 “N” Hotel, Cihampelas-Bandung, dinihari 21 Juni 2009

***

Temple Street Night Market

Tidak jauh dari Nathan Road, Hong Kong di bilangan Kowloon, kita dapat menemukan Temple Street Night Market, sebuah pasar malam di kota Hong Kong.

Disana kita dapat menjumpai seseorang dengan perawakan tinggi dan tegap, keturunan Turkey. Ia sudah hampir 20 tahun bermukim di Hong Kong, istrinya juga keturunan China, akunya.

Ia salah seorang penjual cendramata dari Hong Kong. Cendramata yang dijualnya agak unik, yaitu ia menulis nama atau kata-kata pada sebutir beras dengan sebuah spidol khusus. Kemudian, beras yang sudah ditulisi dengan nama atau kata-kata tersebut dicampur air khusus. Beras dan air tersebut dimasukkan ke dalam bejana kecil dan bejana kecil tersebut dijadikan “mainan” kalung (liontin).

Ia menyelesaikan pembuatan sebuah cendramata tersebut hanya sekitar 10 menit saja dan harga cendramata itu sebesar HK$35.-.

(Link : http://en.wikipedia.org/wiki/Temple_ Street,_ Hong_Kong).

***

ANTIQUARIAT

Persis di depan Taman Kencana Bogor, letak gedung tersebut, gedung tersebut diarsiteki oleh arsitek berkebangsaan Belanda, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels , namanya. Awalnya gedung tersebut diperuntukkan sebagai tempat untuk mencicipi aroma teh (The Tea Experiment Station). Ia juga mengarsiteki gedung Stasiun Jakarta Kota.

Kini, di dalam gedung tersebut masih terdapat perpustakaan yang mengoleksi ribuan buku-buku kuno, salah satunya buku kuno (antiquariat) yang ditulis oleh Georgius Everhardus Rumphius (Jerman), yang diterbitkan pada tahun 1705 (sudah 304 tahun), D’AMBOINSCHE RARITEITKAMER , judul bukunya.

Rak buku, lorong dan loteng yang ada di perpustakaan tersebut, juga figura, perabotan meja dan kursi serta almari yang ada di ruang tersebut masih menyisakan kesan kuno dan untungnya masih agak terawat rapi, namun buku-buku kunonya belum dirawat dan dipertahankan dari keusangan dengan cara-cara terkini (modern), hanya sekedar ditaburi beberapa butir kamper.

“Lima tahun lalu, masih banyak mahasiswa-mahasiswi atau profesional yang datang kesini, Pak”, ungkap seorang dan hanya seorang pustakawati yang ada di perpustakaan itu. “Mereka umumnya akan menulis tesis, atau akan melakukan riset, cari sumber bacaannya disini Pak, tetapi sekarang, seperti Bapak lihat sendiri, jarang sekali orang yang mau datang berkunjung kesini, kadang satu orang pun dalam sehari tak kunjung ada”, imbuhnya.

“Mungkin, sekarang mahasiswa udah pakai, google, Bu”, aku sela. “Atau udah punya password Proquest dari fasilitas kampusnya, atau udah ada e-book-nya, mungkin udah disearching di BlackBerrynya”, aku tambahkan.

Zaman dan teknologi sudah berubah, semua berubah, yang tetap adalah perubahan itu sendiri, tetap berubah.

Fungsi perpustakaan itu pun untuk sementara berubah menjadi ruang kerja kami, untuk mengumpulkan bukti-bukti rekening koran (original evidences). Oleh-oleh “asinan dari Bogor” pun sudah ikut-ikutan berubah menjadi “note” ini…..

Bogor, 13 Feb 2009

***

Sumatera Barat, panorama yang indah

Padang kota, Padang Panjang, Pariaman, Bukittinggi, Solok, Sawahlunto, Pasaman, Lubuk Basuang, Lubuk Sikapiang, Painan, Batusangkar, Payakumbuah dan kota-kota serta dusun-dusun di Sumatera Barat aku jelajahi, aku inapi ketika menunaikan tugas-tugas negara, sejak tahun 1995 sampai akhir Desember 2000, sebelum mutasi ke ibukota Jakarta.

Mulai hotel berbintang, motel, mess Pemda, dan terkadang menyewa rumah penduduk tempat tinggal kami sementara, ketika bertugas.

Sumatera Barat dengan panorama tak terperikan indahnya, ciptaan Al-Khalik, “alam takambang menjadi guru” adalah pepatah lama yang tak lekang oleh waktu dan tak lapuk karena kemajuan zaman.

Soal “kampung tengah” (baca: perut), tak usah risau. Dulu di Padang kota, ada : Restauran Tanpa Nama, Restauran Bernama, berpuluh-puluh warung padang tersebar di setiap pelosok. Ada ikan bakar bumbu kuniang di tapi lauik, makan sambil memandang ke hamparan lautan luas, alangkah lezat dan indahnya. Pokoknya soal perut dan mendirikan sholat, tidak lah susah. Restauran dan masjid serta surau berdiri di setiap pelosok, dimana kita mau makan, dimana kita mau sholat, tersedia restauran dan masjid serta surau di mana-mana.

Alam dengan budaya menganut sistem matriachat ini berpegang pada: “ADAT BERSENDI SARAK, SARAK BERSENDI KITABULLAH “. Lima tahun waktu yang cukup lama, untuk menikmati karunia Tuhan tersbut. Alhamdullillah.

Now, I am listening song “Risau lai” by Tiar Ramon for remind my memory in Sumatera Barat several years ago.

Jakarta, 14-2-2009

***

MEMANJAKAN LIDAH DI INDONESIA BAGIAN TIMUR

Kalau lagi tugas ke daerah, pasti dicari tempat makan khas di daerah tersebut, dalam rangka untuk memanjakan lidah. Kalau tak sempat pada waktu makan siang, disempatkan pula pada waktu makan malam. Malah terkadang makan selepas tengah malam. Di sela-sela kesibukan tugas, pasti disempatkan untuk menikmati makanan khas daerah bersangkutan.

Kali ini, kesempatan itu datang pada saat tugas di kota Palu (Sulawesi Tengah) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Ini lah salah satu kebanggaan, di setiap kota di NKRI ini pasti ada makanan dan tempat makan yang khas.

Masih seputar tempat makan untuk memenuhi kebutuhan “kampung tengah” (baca: perut), di kota Palu, ada makanan yang namanya : KALEDO, singkatan Kaki Lembu Donggala, rupanya. Rumah makan KALEDO, banyak tersebar di sekitar kota Palu. Ada di Jl Diponegoro No. 75, Palu, namanya Rumah Makan Kaledo “Abadi”, ada Rumah Makan “Megaria”, di jalan arah ke kota Donggala. KALEDO dapat di makan dengan nasi, lumrah juga dimakan dengan singkong/ubi kayu. Tak payah lah mencari rumah makan kaledo di kota Palu. Harganya satu porsi pada waktu itu di rumah makan kaledo “Abadi”, Rp30 ribu.

Kalau mau makan ikan (seafood), ada ikan sunu (ikan gerapu), ikan kakap, ikan baronang, ikan mubara (ikan kue), ikan tersebut bisa dibakar, digulai kuning atau disop. Tempatnya ada di kampung nelayan, ada di taman ria, ada juga di mjm di kota Palu. Ikannya segar-segar, seorang teman bercanda dan berucap: “Disini ikannya sekali saja matinya, kalau di tempat lain ikannya berkali-kali matinya”.

Di Palu dapat juga dinikmati sop konro dan sop saudara, makanan ini sebenarnya khas Makassar (Sulawesi Selatan), tetapi di Palu banyak juga rumah makan yang menyediakan jenis makanan ini.

Oleh-oleh khas dari kota Palu, bawang goreng. Harum, gurih, renyah dan tahan lama. “Bawang goreng dari sini, tak gampang loyo, Pak”, ujar seorang pelayan toko “Sri Rejeki” di Kompleks Pertanian Jl RA Kartini No. 80, Palu.

Lain di Palu, lain pula di Makassar. Di Makassar tentu, sop konro, sop saudara dan seafood. Banyak tempat makan seafood yang dapat memenuhi selera. Ada Warung Pangkep Utama Sop Saudara dan Ikan Bakar di Jl WR Supratman No. 1, Pasar Baru, Makassar, persis di depan Kantor Pos Besar. Ramai juga dikunjungi tamu, Rumah Makan “Paotere” di sekitar pelabuhan besar Makassar. Ada juga yang namanya Rumah Makan “Ratu Gurih”.

Untuk makanan tradisional khas Makassar, di Rumah Makan “Aroma Luwu”, di Jl Rajawali II/24 (97) Makassar. Ada namanya, barobbo (mirip seperti bubur Manado), kapurung palopo, lawa (jantung pisang digiling dengan ikan segar). Makanan khas yang lain, bernama jalang kote (pastel atau lumpia) dan minumannya es pisang hijau atau es palu butung. Kalau mau makan otak-otak, singgah di toko Ibu Elly, otak-otak khas Makassar, di Jl Kijang No. 7D, Makassar.

Kalau tiba di kota Makassar, jangan lupa, sempatkan menikmati NyukNyang di Kios AtiRaja, rajanya NyukNyang.

***

Pelataran Masjidil Haram, 6 Zulhijjah 1425 H/16 Januari 2005M

Shubuh itu bertepatan dengan 6 Zulhijjah 1425 Hijriah bersamaan dengan 16 Januari 2005 Masehi, sudah lima hari kaki ini ku jejakkan di tanah haram. Alhamdullillah pada musim haji ini, aku diberi nikmat dan kesempatan oleh Allah SWT, untuk menunaikan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima.

Ba’da sholat shubuh itu, saya ditemani seorang mukimin, WNI yang sudah lama bermukim dan bekerja di Mekkah, kebetulan ia duduk bersebelahan ketika mendirikan sholat shubuh di Masjidil Haram. Setelah salam dan berdo’a, kami berkenalan dan saling bertukar informasi.

Waktu itu, setelah keluar dari pintu Babussalam , salah satu nama pintu di Masjidil Haram, sang mukimin ku tawarkan untuk ikut sarapan pagi, sarapan apa dan dimana, kutanyakan kepada sang mukimin tadi. Ia menawarkan makan kebab dan minum teh susu hangat.

Kami pun ke luar dari kompleks Masjidil Haram menuju ke arah Pasar Seng (sekarang sudah digusur) dan menelusuri gang-gang sempit, jalan pintas menuju ke tempat penjual kebab tersebut.

Dalam perjalanan menuju tempat penjualan kebab itu, ia berceloteh sambil menenteng sajadah lusuhnya, “Kita harus buruan, pak. Biasanya ngantri dan jam 7 sudah abis”.

Langkah kaki ku percepat, dan sesekali ujung ibu jari kaki kanan ku menendang tumit kaki kiri ku. Maklum, kala itu aku pakai sandal, sarung dan peci, lengkap dengan jaket tebal dan syal untuk mengusir rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang sum-sum.

Tak lama kemudian, ku lihat memang banyak jemaah berkerumun di sebuah grai penjualan kebab. Antri kira-kira sepuluh orang jemaah.

“Benar, saya bilang kan, pak, antri” ujar sang mukimin, memperkuat pernyataannya tadi. “Disini memang enak kebabnya, pak, khas, sausnya murni dari kacang kedelai. Jemaah banyak sarapan disini, pak” imbuhnya sambil sedikit promosi.

Kami pun berdiri, masuk ke dalam antrian tersebut. Ku lihat dua orang, mungkin berkebangsaan Pakistan atau India. Seorang sedang sibuk mengiris-iris daging kebab dan seorang lagi sibuk membungkus kulit dan daging kebab sambil sesekali menuang kuah saus ke dalam bejana plastik.

Yang mengantri bercakap-cakap sesamanya dalam bahasa yang tak ku mengerti, mungkin bahasa Urdhu atau bahasa daerah dari mana mereka berasal.

Di sudut grai penjualan kebab tadi ada dua meja kecil dengan jumlah kursi enam buah, sudah diduduki semuanya oleh jemaah-jemaah dari Turki yang mengenakan pakaian seragam warna cokelat khaki. Mereka sedang menikmati sarapan pagi, kebab dan teh susu hangat. Terkadang mereka tertawa-tawa sambil menyuap kulit dan daging kebab. Aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan. Serasa mau menetes air liur, melihat mereka menyantap sarapan pagi, melihat daging kebab dicocol ke saus kacang kedelai. Waktu itu terasa usus ku semakin melilit, sementara suhu udara dingin yang semakin tak bersahabat.

Kami pesan 2 bungkus daging kebab dan 2 kap plastik teh susu hangat. Semua 40 rial.

“Saya yang traktir” aku berucap kepada mukimin tadi. “Syukron, pak” jawabnya sambil tersenyum. Kucengkeram bungkus plastik kebab dan teh susu hangat.

“Dimana kita makan”, kata ku.

“Kita bawa kembali ke Masjidil Haram, pak”, kata sang mukimin. “Ada tempat makan di sekitar pelataran Masjidil Haram, pak. Pasti bapak, belum tau” katanya, sambil tersenyum.

Kami kembali berjalan kaki ke kompleks Masjidil Haram dan menelusuri gang-gang sempit yang kami telusuri menuju grai penjualan kebab tadi.

Tiba di pelataran Masjidil Haram, telunjuk sang mukimin menunjuk ke arah satu tempat, lantai tembok, pelataran Masjdil Haram. “Disitu, pak”, katanya.

Ku lihat sudah ada beberapa kelompok jemaah yang sedang sarapan pagi, duduk lesehan di pelataran tersebut. Ada yang berperawakan melayu, mungkin mereka jemaah dari Malaysia, atau Thailand atau Philipina.

Ku buka bungkusan kebab dan teh susu hangat tadi, kupersilahkan mukimin tadi untuk menyantapnya.

Kami santap kebab dan susu hangat tadi sambil duduk lesehan di atas pelataran tadi, ditemani berpuluh-puluh ekor burung merpati yang sedang makan dan mencari makan di sekitar pelataran tadi dan sesekali terbang kesana-kemari.

“Merpati itu dulu peliharaan Siti Fatimah, putri nabi, pak” ujar sang mukimin menjelaskan, tanpa ku minta penjelasannya.

Selesai sarapan. Kembali telunjuk sang mukimin menunjuk ke satu arah, ke depan dari arah pelataran Masjidil Haram.

“Pak, itu dulu jendela rumah Siti Chadijah, istri junjungan kita”, katanya. “Rasullullah pernah tinggal disana”, katanya. “Apa yang Bapak kenang, tentang Rasulullah” ia mengajukan pertanyaan.

“Saya membaca buku tentang riwayat hidupnya” ku jawab. “Waktu, saya masih sekolah dasar, saya selalu ikut membantu panitia merayakan maulid nabi di langgar, dekat rumah ku di Medan. Setiap tahun waktu itu, kami merayakan maulid nabi” imbuh ku.

“Maksud saya pak, dari berbagai riwayat nabi kita, mana riwayat yang paling memberikan kesan kepada Bapak?”, ia mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang lain.

“Kalau kamu yang mana?”, kata ku berdiplomasi sambil mengembalikan pertanyaan itu kepadanya.

“Kalau saya, konsistensi Rasullullah yang tidak bisa kita tandingi” jawabnya. “Walaupun matahari diletakkan di tangan kanan dan rembulan di tangan kiri tidak mampu menggoyah Rasul yang tabah, beliau tetap pada pendiriannya, pak” jelasnya menambahkan jawabannya.

“Itu seperti syair lagu Bimbo”, kataku berseloroh, menimpali jawabannya.

Kami bercakap-cakap sepanjang shubuh menjelang pagi itu.

Ku singsingkan lengan kiri jaketku dan ku lihat arloji RW-Tango ku, jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 pagi.

Aku berpamitan dengan sang mukimin dan berharap bisa berbincang-bincang kembali dengannya.

Di-miss-call nya no selularnya dan ku simpan di phone book ku. Ku jabat tangannya dan ku ucapkan salam, kami pun berpisah di pelataran Masjidil Haram.

Aku kembali berjalan kaki pulang menuju makhtab 20 di Jarwal. Ada jalan shortcut dari Masjidil Haram ke makhtab 20 di Jarwal yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan pulang ke makhtab, para penjaga toko sudah mulai membuka pintu dan jendela tokonya. Ada juga yang sedang menata kembali barang dagangannya. Biasanya berbagai macam barang dagangan dan souvenir dijual pada saat musim haji. Dari kejauhan terdengar suara cassette atau cd yang membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an oleh qari-qari internasional. Suara itu berasal dari toko penjualan cassette dan cd. Di seberang sana ku lihat jemaah perempuan yang berasal dari pecahan negara Rusia (Uni Soviet) berbusana muslimah warna hitam-hitam sambil merunduk sedang menata dan menggelar kembali arloji-arloji yang menjadi barang dagangannya.

Suasana di sepanjang jalan menuju pulang ke makhtab tidak mengalihkan pikiran ku. Aku masih teringat apa yang kami perbincangkan tentang Rasullullah dengan seorang mukimin di pelataran Masjidil Haram tadi.

Konsistensi Rasullah tidak tertandingi, ucapan sang mukimin terus mengganggu pikiran ku. Berbagai pertanyaan tentang ucapan sang mukimin muncul di benak ku.

Tak terasa, aku sudah tiba di pintu gerbang makhtab 20 di Jarwal, aku naik ke lantai dua, kamar tempat kami menginap.

Ku lihat teman-teman sesama jemaah ada yang sedang tidur, ada yang sedang membaca ayat-ayat suci Al Qur’an secara tartil dan di sudut sana ada yang sedang merebus mie instant, yang dibawanya dari Jakarta.

Ku teguk segelas air zam-zam yang selalu tersedia di samping pembaringan ku, dan ku rebahkan tubuh ini di pembaringan, istirahat tidur menunggu khotu zhuhur.

Makhtab 20 Lt. 2 Jarwal, Makkah al muqarramah – menjelang hari wukuf.

***

Dari kecil sudah gila….

Ketika aku nonton berita di television, ku lihat sudah ada caleg yg stress, malah ada yg bunuh diri.

Sembari dengan itu, rokok ku tinggal sebatang lagi di dalam bungkusnya, aku keluar rumah menuju ke warung rokok di seberang cluster rumah ku, tujuannnya untuk beli rokok, tentu.

Sebelum tiba di warung rokok itu, ada bayo setengah baya, ketawa2 sendiri… dan menjulurkan ujung lidahnya/melet ke arah ku, kesannya mengejek. Ku perhatikan tak memegang hp nya dia. Koq ketawa2 dia sendirian. Tak ku pedulikan, ku percepat langkah ku ke warung rokok tadi. Tiba di warung rokok, ku tanya, si mas tukang rokok. “Mas, kenal nggak tadi disitu ada laki2 ketawa2 sendiri, kayak orang gokil aja?” aku bertanya kepada si mas tukang rokok. “Jangan2 dia caleg yg kalah, nggak dapat suara, mas” imbuh ku. Si mas tukang rokok menjawab : “Bukan, pak. Kalau laki2 yg itu maksud bapak, dari kecil dia sudah gila, orang kampung sebelah, bukan caleg lageee” katanya sambil mesem-mesem. <Songon na marsampur aek caritoi>…..

***

8 Tips Menghadapi UAN

1. Hadapilah ujian dengan tenang

Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang bahwa ujian sebagai sesuatu yang harus dihadapi dan dilalui dan harus dijalani dengan senang.

2. Bersikaplah proaktif

Kita sendirilah yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam menghadapi UAN. Yakinlah bahwa kerja keras dan usaha keras yang kita lakukan akan membuahkan hasil.

3. Buatlah rencana

Menghadapi ujian dapat diibaratkan sebagai perjalanan menuju sukses. Sebagaimana perjalanan sukses, sudah sepatutnya kita membuat perencanaan. Dari sekian banyak bahan pelajaran yang harus dipelajari dipilah-pilah antara bahan UAN dari pusat dengan bahan ujian dari sekolah. Antara bahan kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, pelajaran hitungan dan hafalan, sehingga dapat dipelajari dengan teratur dan sistematis. Model belajar semacam itu dapat meringankan dan lebih mengefektifkan cara kerja otak. Salah satu hukum otak yaitu dapat bekerja maksimal dengan cara teratur dan sistematis.

4. Perbanyaklah baca dan latihan soal

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh lembaga bimbingan belajar adalah para siswa banyak berlatih memecahkan soal-soal dengan cepat. Kita dihadapkan pada soal-soal yang harus dijawab dan dipecahkan dengan tepat. Dengan sering kita berlatih maka kita terbiasa dan terlatih, sehingga tidak cemas atau grogi dalam menghadapi soal (ujian).

5. Belajar kelompok

Belajar kelompok merupakan salah satu cara yang dapat dipakai para siswa untuk berbagi dengan teman yang lain dalam memecahkan soal dan saling menguatkan motivasi belajar dan prestasi. Para siswa daripada banyak bermain dan membuang-buang waktu dengan percuma, manfaatkanlah dengan cara belajar berkelompok dengan teman di sekolah atau di sekitar tempat tinggal kita.

6. Efektifkan belajar di sekolah

Masih terdapat siswa yang datang ke sekolah dan hadir di kelas dengan alakadarnya atau sekadar hadir, tidak mengoptimalisasikan semua potensi dirinya untuk meraih hasil terbaik dalam daya serap materi maupun prestasinya. Padahal jika dimaksimalkan, niscaya hasilnya akan lebih bagus kalaupun tidak ditambah dengan les-les yang lain di luar jam sekolah. Pada umumnya, para siswa kurang menggunakan kemampuan nalarnya dalam belajar, baru sebatas menghafal. Siswa juga masih kurang untuk bertanya, berdialog bahkan berdebat dengan gurunya. Padahal kemampuan bertanya salah satu upaya untuk memperkuat pemahamaman atau pengertian dan keterampilan belajar.

7. Mohon doa restu dari orang tua

Yakinlah bahwa jika kita lulus maka orang tua kita akan senang dan bangga. Jadikanlah perjuangan menghadapi UAN 2004 sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua kita tercinta. Mohon doa restulah pada orang tua agar kita diberi kemudahan dan kelancaran. Kedua orang tua kita akan dengan senang mendoakan putra-putrinya yang sedang berjuang menghadapi UAN.

8. Berdoalah pada Tuhan

Adalah sombong yang beranggapan bahwa keberhasilan kita semata-mata usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa keikutsertaan Sang Pencipta. Untuk itu dengan segala kerendahan diri dan hati di hadapan-Nya, kita panjatkan doa agar diberi kelulusan, kesehatan dan kemudahan dalam menghadapi ujian nanti. Tuhan Mahatahu dan tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-hambanya.

***

OBITUARI : Drs. Bina Marga Sakti Harahap, SH – gelar Mangaraja Gunung Parlindungan

Nama : Drs. Bina Marga Sakti Harahap, SH

Tempat lahir : Jakarta

Tanggal lahir : 18 Mei 1965

Wafat di : RS. Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta

Tanggal wafat : 21 April 2009

Almarhum adalah putra ketiga dari almarhum Drs. Yushar Masyhur Harahap. Masa kecil almarhum dihabiskan di kota Jakarta dan di kota Medan. Pada tahun 1972, almarhum masuk sekolah dasar di SD Kuda Laut Pagi, Rawamangun, Jakarta Timur dan tammat SD dari sekolah tersebut pada tahun 1978. Selanjutnya almarhum melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 92 Perhubungan Rawamangun Jakarta Timur dan tammat dari SMP tersebut pada tahun 1981.

Sekolah setingkat SLTA ditempuh di SMA Negeri 21 Kampung Ambon Rawamangun Jakarta Timur sampai kelas 2, sedangkan kelas 3 ditempuh di SMA Negeri I Mataram (Nusa Tenggara Barat) dan tammat SMA dari sekolah tersebut pada tahun 1984.

Pada tahun 1985, almarhum melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (Untram) – NTB dan tammat serta meraih gelar Drs (Doktorandus) atau Sarjana Ekonomi dari Universitas Mataram pada tahun 1990.

Setelah selesai kuliah di Mataram, almarhum kembali ke Jakarta dan bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) SGV. Utomo Jakarta, almarhum bekerja di KAP tersebut selama 6 (enam) tahun, kemudian almarhum pindah bekerja ke perusahaan asing – International Business Machine (IBM) Jakarta. Almarhum bekerja di perusahaan ini selama lebih kurang 2 (dua) tahun.

Pada tahun 1997, almarhum kuliah kembali di Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jagakarsa, di Jakarta Selatan dan pada tahun 2001, almarhum berhasil meraih gelar Sarjana Hukum (SH).

Almarhum memiliki jiwa wiraswasta yang cukup tinggi dan memiliki naluri bisnis yang cukup brilian, sehingga almarhum berhasil merintis beberapa bidang usaha, termasuk di dalamnya usaha di bidang telekomunikasi. Almarhum termasuk sebagai seorang pengusaha muda yang sukses dalam mengelola usahanya. Sambil mengelola usahanya, almarhum juga aktif bekerja sebagai seorang konsultan, terutama dalam bidang konsultan pajak (tax consultant).

Jasa-jasa almarhum dalam mengaktifkan kegiatan organisasi keluarga IKB cukup banyak, almarhum telah banyak berkorban materi, waktu dan pemikiran dalam mengembangkan dan mengaktifkan organisasi IKB. Pada tahun 2001, almarhum dan keluarga mendapatkan penghargaan (reward) dari Dewan Penasehat IKB atas jasa-jasanya dalam mengembangkan dan mengaktifkan organisasi IKB. Penghargaan tersebut diserahkan kepada almarhum dan keluarga di Gadobangkong, Cimahi Bandung (di rumah Drs. Novli Seniar Harahap) pada saat acara Halal Bil Halal 1422 H. yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Haji Ismailyah Harahap.

Kami banyak belajar dan berdiskusi dengan almarhum tentang cara-cara menyusun taktik dan strategi serta berdiskusi tentang bidang konsultan, perpajakan dan bisnis.

Pada tanggal 22 Februari 1992, almarhum berumah tangga dengan Ir. Nurstiati Tauhida, dan dikaruniai putra-putri dua orang, yang bernama :

1. Togar Binda Putra Harahap (Laki-laki)

2. Jelita Febrilia Harahap (Perempuan)

Pada tanggal 21 April 2009, sekitar jam 15.13 wib sore, almarhum menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Timur, almarhum meninggal dengan tenang karena sakit dan telah dirawat beberapa hari sebelumnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Timur tersebut.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jl. Batu Sulaiman No. 60 Pulomas Jakarta Timur dan keesokan harinya pada tanggal 22 April 2009, jenazah almarhum dimakamkan di TPU Layur Jakarta Timur.

Selamat jalan…..my brother, my friend and my discusssing partner….

Sumber/dikutip dari :

Buku: Lintasan Perjalanan Hidup Sebuah Keluarga Besar – Biografi Haji Ismailyah Harahap gelar Mangaraja Gunung Mulia, 2005.

***

Musibah dimana-mana….

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu” (QS : Asy Syuura : 30).

Tak Putus Dirundung Musibah

Banjir melanda kota Jakarta dan sekitarnya, gempa belum kunjung henti, tanah longsor menggelongsor, pesawat udara jatuh dan hilang, kapal laut tenggelam, kereta api anjlok, flu burung dan demam berdarah mewabah. Fenomena apa lagi ini ?

Bangsa ini terus mendapat cobaan dari Allah. Bangsa yang hidup di sebuah negeri di kawasan khatulistiwa yang permai, masih saja tidak putus-putusnya dirundung musibah. Bermacam-macam bentuk musibah itu. Ada juga musibah moral-sosial berupa korupsi yang menggurita, ada musibah perselingkuhan yang semakin menjadi-jadi, tidak jarang dituturkan dengan penuh kebanggaan.

Musibah yang menjadi titik perhatian kita kali ini bertalian dengan bermacam bencana yang datang beruntun dalam jarak waktu sangat dekat, yang sering terjadi belakangan ini. Semuanya ini memunculkan pertanyaan: fenomena apa lagi ini?

Seperti musibah banjir dan tanah longsor dapat dikatakan karena kecerobohan dan kerakusan manusia. Demi memburu keuntungan, mereka merusak hutan dan lingkungan. Pembalakan liar yang merampok kekayaan hutan negara dalam bilangan puluhan triliun rupiah setiap tahun adalah bentuk pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Ironisnya, tidak jarang aparat terlibat dalam proses pengkhianatan ini, sehingga masalahnya semakin kompleks.
Akibat lingkungan yang semakin parah binasa, alam pun mengamuk karena tak kuat lagi menahan beban hujan yang terus mengguyurnya berhari-hari, bermalam-malam. Tidak jarang muncul pertanyaan begini: apakah bangsa ini telah kehabisan energi untuk mengatasi berbagai masalah, baik yang disebabkan ancaman yang berada di luar kendali manusia maupun bencana yang nyata-nyata akibat kelakuannya yang tidak bermoral?
Sekarang bencana telah merata di darat, di udara, dan di laut. Seakan-akan sudah semakin sempit ruang yang masih aman bagi kita. Seperti musibah kapal Senopati dan pesawat Adam Air, rasanya tidak mustahil pula ada unsur kecerobohan manusia juga berperan di dalamnya. Filosofinya, meraih keuntungan sebesar mungkin tanpa mempertimbangkan keselamatan penumpang. Sebuah filosofi yang sedang menjangkiti segelintir orang di negeri ini. Sebuah bangsa yang way of  life-nya berdasarkan Pancasila dengan segala nilai-nilai yang agung dan luhur, tetapi terus-menerus dikhianati dalam bentuk perbuatan tingkah lakunya. Jika musibah demi musibah yang datang beruntun tidak mampu lagi menyadarkan kita untuk mengubah kelakuan, lalu apa lagi yang kita tunggu?

Musibah masih bernuansa su’udz-dzan (negative thinking).

Saat kini, musibah masih diidentifikasi sebagai segala sesuatu hal yang dahsyat, yang terjadi di luar kehendak manusia dan menyebabkan kematian dan kesengsaraan banyak manusia. Pada saat terjadinya musibah, banyak manusia baru merasakan keprihatinan yang mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan menyerahkan kepada Yang Maha Kuasa. Sayangnya, “penyerahan” kepada Yang Maha Kuasa tersebut lebih bernuansa su’ udz-dzan atau negative thinking kepada-Nya.

Sejatinya, makna musibah dalam kacamata pandangan Islam tidaklah sesederhana dari yang selama ini difahami. Kita harus menyadari bahwa pemberian penghargaan, kenaikan jabatan, dan kenikmatan lainnya, itu pun merupakan sebuah musibah. Sudah tentu, hal tersebut musibah bagi yang bersangkutan. Orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah SWT ketika mendapatkan penghargaan dan kenikmatan tersebut. Dari sini dapat dipahami bahwa sudah sewajarnya jika Nabi Muhammad SAW bersabda : “Bahwa manusia yang paling sering mendapatkan musibah dan cobaan berat adalah para nabi, kemudian para wali, dan seterusnya” (H.R. Bukhori). Musibah yang diuji-cobakan kepada para nabi tersebut tentunya bukan saja berupa fisik, melainkan mental dan keimanan. Dari pemahaman ini, Ibnu Taymiyah-seperti dinukil Professor Ibrahim Khalifah dalam salah satu kajian Tafsir-nya-berpendapat bahwa sangat mungkin para nabi itu berkurang imannya bahkan murtad. Walaupun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah ada dalam sejarah.

Akhirnya, sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna dan falsafah atas pengertian musibah. Musibah tidak sesederhana pengertian seperti, segala bencana yang di luar kehendak manusia. Akibatnya, ada dua pilihan. Pertama, menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan murni atau bencana alam. Kedua, musibah selalu dikaitkan dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Pilihan pertama, lebih banyak diimani masyarakat Barat. Sedangkan pilihan kedua adalah pilihan yang selalu dipegang oleh umat Islam.

Hanya saja, pilihan kedua ini masih berupa pemahaman yang global dan masih banyak yang belum dapat memahami penjabaran-penjabarannya secara substantif.

Kenikmatan dan kesenangan juga berarti musibah.

Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kenikmatan dan kesenangan maupun kesusahan. Namun, pada umumnya musibah selalu dipahami identik dengan kesusahan. Padahal, kenikmatan dan kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya berarti musibah juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya. “Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.” (QS Al−Kahfi: 7).

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah.

Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, ia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa−apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.

Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan taqwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam.

Pertama, musibah dunia; dan Kedua, musibah akhirat.

Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al−Baqarah : 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah−buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang−orang yang sabar.”

Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.”

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.

Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan−Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba−Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan−perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.”

Qadhaa dan qadar

Seluruh manusia adalah milik Allah SWT, maka Dia berhak mengambilnya sewaktu-waktu, dengan berbagai jalan, baik itu melalui bencana alam atau kejadian lainnya. Semua itu adalah bentuk pemanggilan Allah SWT terhadap manusia. Bentuk pemanggilan yang bermacam-macam itu sudah tidak penting bagi kita, atau bagi-Nya. Bentuk-bentuk itu sudah barang tentu, rasional. Karena rumusannya adalah rasionalitas, maka segala macam manusia akan tunduk dalam hukum ini, yakni hukum alam.

Walaupun segala bencana adalah rasional, namun Islam mensyariatkan kepada umatnya untuk ber-istirjaa’, yaitu ketika mendapatkan musibah segera mengucapkan: “Innaa Lillaahi wa Innaa Ilayhi Raaji’uun”, yang berarti “Sesungguhnya kami adalah milik Allah SWT, dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali”. Ucapan ini sepintas memang sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam, yakni mengingatkan kita untuk senantiasa ber-tauhid, ber-qadhaa dan ber-qadar.

Mengenai hukum alam. Hukum alam adalah hukum yang ditetapkan (qadhaa) oleh Allah SWT yang berkenaan dengan rumusan-rumusan dan teori-teori tentang alam. Hukum ini akan berlaku bagi siapa saja yang melanggarnya, baik itu bagi bangsa yang bertuhan (theis) maupun tidak bertuhan (atheis), orang saleh maupun durhaka, dan sebagainya.

Dari hukum inilah seluruh aktivitas alam semesta berlangsung, dari yang terkecil-seperti adanya hukum bahwa air akan mendidih pada suhu 100 derajat celcius, siapapun yang memasaknya, baik kaum theis maupun kaum atheis atau bahkan yang lebih kecil dari contoh hukum alam itu, hingga yang peristiwa-peristiwa terbesar yang ada di jagad dunia ini. Itu semua merupakan qadhaa yang secara etimologis berarti hukum atau ketetapan. Dan ketika manusia telah melewati proses qadhaa itu maka dia akan mengalami apa yang sering disebut sebagai qadar atau takdir. Dengan demikian, takdir adalah suatu hasil proses dari hukum dan ketetapan Allah SWT yang berupa hukum alam-dengan realitas kehidupan yang dijalani oleh ummat manusia.

Aqidah dan Syariat

Hukum alam yang diberlakukan oleh Allah SWT tersebut berbeda dengan hukum aqidah dan syariat yang diturunkan oleh-Nya. Hukum alam yang sedang kita hadapi sekarang adalah hukum yang hanya berlaku di dunia fana. Sedangkan hukum aqidah dan  syariat berlaku di dunia dan (untuk kepentingan) akhirat sekaligus. Dengan demikian, dalam hal tertentu, hukum alam tersebut sama sekali tak memiliki kaitan erat dengan hukum aqidah dan  syariat. Artinya, hukum alam akan menerkam siapa saja yang melanggarnya, baik itu manusia shaleh, fasik, atheis, hewan dan lainnya. Namun demikian, perlu diperhatikan, bahwasanya korban keganasan hukum alam tak selamanya adalah pelaku dari pelanggaran atas hukum alam tersebut. Bahkan juga bisa dikatakan bahwa proses yang terjadi dalam hukum tak mesti melibatkan manusia. Sebagai contoh adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar angkasa. Demikian pula sebalikya, hukum aqidah dan syariat tak berkaitan langsung dengan kedatangan hukuman alam.

Lalu, bagaimana dengan adanya hukuman alam yang terjadi pada umat-umat terdahulu, sebagaimana dikisahkan di dalam al-Qur’an? Allah SWT, dalam memberikan kenikmatan, ujian, cobaan atau siksaan tidaklah melampaui nalar kemanusiaan. Artinya, jika Allah SWT menyatakan telah memberikan hukuman melalui hukum-hukum alam, maka hukuman alam itu terproses melalui pelanggaran hukum aqidah dan syariah yang   tanpa pernah disadari berakibat  kepada pelanggaran atas hukum alam. Dari sinilah hukuman berlaku, dan secara hakekat ia bukanlah hukuman atas kedurhakaan kepada-Nya, karena semua hukuman (jazaa’ dan Hisaab) atas kedurhakaan kepada-Nya telah di-setting pada hari pembalasan (yawmul-jazaa’) atau hari perhitungan (yawmul-hisaab) dimana masing-masing manusia akan menghadapinya. AllAAhu A’ lam.

Musibah sebagai nasihat

“Allah telah mengetahui bahwa engkau tidak dapat menerima nasihat yang hanya berupa kata-kata, karena itulah Allah merasakan kepadamu rasa pahitnya, berupa musibah untuk memudahkanmu cara meninggalkannya” (Syeikh Ibnu ‘Athoillah).

“Musibah merupakan lampu penerang bagi orang yang arif, sebuah keterjagaan bagi para pemula dan sebuah pembinasaan  bagi orang yang lalai” (Imam Al-Junaidy).

Semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran kepada kita semua yang pada saat ini sedang tertimpa musibah. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan mental dan fisik dalam menghadapinya. Semoga kita diberi kekuatan keimanan dan tawakal kepada-Nya. Sebab tidak sedikit orang yang merasa putus asa, frustrasi, tatkala musibah menimpa. Tidak sedikit pula orang yang tiba-tiba menjadi kufur tatkala musibah mendera.

Kesabaran, ketawakalan, dan keyakinan kepada ketentuan Allah SWT menjadi sirna  dari dirinya.

Orang yang arif adalah orang yang meyakinkan bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apa pun yang Ia turunkan, termasuk musibah di dalamnya, sudah barang tentu mengandung hikmah dan tujuan yang baik bagi kehidupan hamba-Nya.

Tak satu pun yang Ia turunkan akan merugikan bagi hamba-hamba-Nya. Semuanya mengandung hikmah bagi kehidupan hamba-hamba-Nya. Terlebih-lebih bagi seorang yang taat.

“Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, sebab segala keadaan baginya menjadi kebaikan, dan tidak akan terjadi hal seperti itu, kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat kenikmatan ia bersyukur, bersyukur itu lebih baik baginya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya” (H.R. Muslim).

Bagi seorang mukmin, musibah merupakan ujian yang menjadi batu loncatan bagi peningkatan kualitas keimanannya kepada Allah. Semakin arif dan sabar dalam menghadapinya, semakin tinggilah kualitas keimanannya dan semakin dekat dirinya kepada Allah. Tidaklah mengherankan jika segala jeritannya senantiasa didengar Allah. Semakin tinggi keimanan seseorang, akan semakin tinggi pula ujian yang akan Allah berikan kepadanya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?’ Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al ‘Ankabuut: 2-3).

Di antara sekian banyak kriteria orang-orang yang beruntung di hadapan Allah adalah orang-orang yang mampu saling menasihati dalam jalan kebenaran dan kesabaran. Kitab Alquran sendiri sarat dengan nasihat dan tuntunan hidup bagi kita. Namun demikian, terkadang nasihat yang hanya berupa rangkaian kata-kata, karena kerasnya hati, jarang menembus hati kita. Untuk itulah, Allah menurunkan nasihat yang tidak berupa kata-kata, dalam bentuk lain, yakni dalam bentuk musibah.

Karenanya, musibah yang menimpa kita, pada hakikatnya merupakan nasihat dari Allah bagi semua hamba-hamba-Nya. Sejauh mana kesabaran kita dalam menghadapinya? Sejauh mana usaha kita untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya? Sejauh mana kita dapat melakukan muhasabah terhadap kekeliruan perilaku dan ucapan kita?

Apa pun bentuk musibah yang menimpa seseorang, merupakan nasihat dan peringatan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bila ia seorang yang taat, musibah merupakan nasihat dari Allah agar semakin meningkatkan muraqqabah kepada-Nya, kesabaran, ketawaqalan dan keimanan. Bila ia seorang ahli maksiat, musibah yang menimpanya merupakan peringatan untuk segera kembali ke jalan lurus yang telah digariskan-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq sering berdoa tatkala musibah menimpanya, “Ya Allah! Aku memohon semoga musibah yang menimpaku ini menjadi jalan bagi peningkatan akhlak dan bukan pembangkit kemurkaan-Mu”.

Yakinkanlah, Allah menurunkan musibah kepada hamba-Nya dengan kasih dan sayang-Nya. Ia Maha Mengetahui kemampuan hamba-hamba-Nya dalam menghadapinya.

Tak selayaknya apabila kita merasa putus asa dan berprasangka buruk kepada Allah SWT.

”Seorang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, walaupun keduanya sama-sama baik (karena keimanannya). Berusaha keraslah untuk mendapatkan yang bermanfaat dan memohonlah pertolongan kepada Allah serta jangan menjadi orang yang lemah. Jika suatu musibah menimpa, janganlah  berkata, ‘Sekiranya aku berbuat demikian, tentulah akan kudapatkan demikian dan demikian’, tetapi katakanlah, ‘Sudahlah ini takdir Allah, dan apa saja yang ia kehendaki pasti itulah yang tejadi’. Sebab ucapan ‘seandainya dan seandainya’ itu dapat membuka (pintu) setan” (H.R. Muslim).

Musibah yang menimpa seseorang dapat merupakan jalan untuk bertobat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Musibah penyakit misalnya, Rasulullah SAW. bersabda, “Sakit selama sehari merupakan tobat selama satu tahun”.

Umar Ibnu al Khattab pernah mengatakan, “Ketika seseorang ditimpa musibah atau suatu penyakit, janganlah ia berputus asa apalagi menyalahkan ketentuan Allah. Sebab dengan datangnya musibah tersebut, di dalamnya terdapat beberapa hikmah dan keuntungan. Yakni penghapusan dosa, kesempatan untuk mendapatkan pahala karena kesabarannya dalam menghadapi musibah, keterjagaan dari kelalaian, mengingat pertolongan Allah ketika sehat atau bahagia, pembaharuan tobat dan perangsang untuk memberikan sedekah/bantuan.”

Apa pun bentuk musibah yang menimpa kita, yakinkanlah bahwa semuanya diturunkan Allah dengan ketentuan, kekuasaan, dan kasih sayang-Nya. Ia turunkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meningkatkan derajat hamba-hamba-Nya di sisi-Nya.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik-buruknya) keadaanmu” (Q.S. Muhammad:31).

Untuk itu, kesabaran, ketawakalan dan keyakinan bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang terbaik, sudah selayaknya ditanamkan di hati setiap hamba yang mukmin. Berbaik sangka kepada-Nya harus selalu tertanam di hati setiap mukmin.

Rasul SAW. telah mencontohkan, beliau memperbanyak berzikir dan berdoa tatkala musibah menimpanya. Sebab dengan berzikir dan berdoa, jiwa kita semakin dekat ke hadirat-Nya.

Menyikapi musibah yang terjadi

Pedoman dalam menyikapi musibah bagi shahibul musibah (yang terkena musibah) Islam memberikan pedoman sikap antara lain :

1.   IMAN DAN RIDHO TERHADAP KETENTUAN (QADAR) ALLAH

Kita wajib beriman bahwa musibah apa pun seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridho). Allah SWT berfirman :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid : 22)

Maka dari itu, tidak benar kalau orang berkata gempa Yogya ini terjadi lantaran Nyi Roro Kidul marah. Yang benar, bencana ini adalah ketentuan Allah, bukan ketentuan Nyi Roro Kidul.

Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, bukan dengan menggerutu atau malah menghujat Allah SWT. Misalnya dengan berkata,“Ya Allah, mengapa harus aku? Apa dosaku ya Allah?” Hujatan terhadap Allah Azza wa Jalla ini sungguh tidak sepantasnya, sebab Allah SWT berfirman :

“Dia [Allah] tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS al-Anbiyaa`  : 23)

2.   SABAR MENGHADAPI MUSIBAH

Sabar, menurut Imam Suyuthi dalam Tafsir alJalalain, adalah menahan diri terhadap apa-apa yang dibenci (al-habsu li an-nafsi ‘alaa maa takrahu). Sikap inilah yang wajib kita miliki saat kita menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan ketika terjadi musibah, kita mengucapkan kalimat istirja (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ). Allah SWT berfirman :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . (QS al-Baqarah  : 155-156)

Dengan demikian, sabarlah ! Jangan sampai kita meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa atau berprasangka buruk seakan Allah tidak akan memberikan kita kebaikan di masa depan. Ingat, putus asa adalah su`uzh-zhann billah (berburuk sangka kepada Allah) ! Su`uzh-zhann kepada manusia saja tidak boleh, apalagi kepada Allah.

Memang, orang yang tertimpa musibah mudah sekali terjerumus ke dalam sikap putus asa (QS 30 : 36). Namun Allah SWT menegaskan, sikap itu adalah sikap kufur, sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf  : 87) .

3.   MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) di balik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Berbeda dengan orang yang hanya memahami musibah secara dangkal hanya melihat lahiriahnya saja. Mentalnya akan sangat lemah dan ringkih, mudah tergoncang oleh sedikit saja cobaan duniawi.

Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW :

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Muslim yang mati tertimpa bangunan atau tembok akibat gempa, tergolong orang yang mati syahid. Sabda Nabi SAW :

“Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan; (1) orang yang terkena wabah penyakit tha’un, (2) orang yang terkena penyakit perut (disentri, kolera, dsb), (3) orang yang tenggelam, (4) orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan (5) orang yang mati syahid dalam perang di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Akan diampuni bagi orang yang mati syahid setiap-tiap dosanya, kecuali utang.” (HR Muslim).

Hikmah lainnya ialah, jika anak-anak muslim meninggal, kelak mereka akan masuk surga. Sabda Nabi SAW :

“Anak-anak kaum muslimin [yang meninggal] akan masuk ke dalam surga.” (HR Ahmad)

4.   TETAP BERIKHTIAR

Maksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang.

Beriman kepada ketentuan Allah tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du  : 11)

Ketika terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin Khattab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya,”Apakah kamu hendak lari dari taqdir Allah?” maka Umar menjawab,”Ya, aku lari dari taqdir Allah untuk menuju taqdir Allah yang lain.”

Rasulullah SAW pun memberi petunjuk bahwa segala bahaya (madharat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya ketiadaan logistik, tempat tinggal, masjid, sekolah, dan sebagainya. Nabi SAW bersabda,”Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain.” (HR Ibnu Majah)

5.   MEMPERBANYAK BERDOA DAN BERDZIKIR

Dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir bagi orang yang tertimpa musibah. Orang yang mau berdoa dan berdzikir lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang tidak mau atau malas berdoa dan berdizikir. Rasululah SAW mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah : “Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.) (HR Muslim)

Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Allah SWT berfirman :

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du: 28)

Dzikir yang dianjurkan misalnya bacaan istighfar,Astaghfirullahal ‘azhiem“. Sabda Nabi SAW :

“Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan membebaskannya dari kesedihan, akan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (HR. Abu Dawud).

6.   BERTAUBAT

Tiada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, melainkan itu akibat dari dosa yang diperbuatnya. Maka sudah seharusnya, dia bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Orang yang tak mau bertaubat setelah tertimpa musibah, adalah orang sombong dan sesat. Allah SWT berfirman :

Sabda Nabi SAW “Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat.” (HR at-Tirmidzi).

Bertaubat nasuha rukunnya ada 3 (tiga). Pertama, menyesali dosa yang telah dikerjakan. Kedua, berhenti dari perbuatan dosanya itu. Ketiga, ber-azam (bertekad kuat) tidak akan mengulangi dosanya lagi di masa datang. Jika dosanya menyangkut hubungan antar manusia, misalnya belum membayar utang, pernah menggunjing seseorang, pernah menyakiti perasaan orang, dan sebagainya, maka rukun taubat ditambah satu lagi, yaitu menyelesaikan urusan sesama manusia dan meminta maaf.

Demikianlah atara lain pedoman Islam dalam menyikapi musibah. Khususnya bagi shahibul musibah (yang terkena musibah). Dengan berpegang teguh dengan pedoman-pedoman Islam di atas, mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan rahmat, hidayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita semua. Amin !

Puri Beta, 5 Februari 2007 (dikutip dari berbagai sumber bacaan).

***

Ompungku seorang guru….

(Biografi singkat Alm. Ompung Haji Ismailyah Harahap – Gelar Mangaraja Gunung Mulia)

Haji Ismailyah Harahap lahir di Padangsidempuan pada tanggal 5 September 1905, dari seorang ayah yang bernama Haji Ibrahim Harahap gelar  Soetan Baroemoen dan seorang ibu yang bernama Hajjah Siti Syarifah Harahap gelar Namora Gunung Tua.

Latar belakang pendidikan beliau adalah Sekolah Guru Bantu (SGB), profesi beliau adalah sebagai seorang guru. Jabatan terakhir beliau adalah sebagai Direktur SMP Negeri 5 Medan di Kampung Teladan – Medan, dengan Nomor Induk Pegawai (NIP): 1311641.

Beliau menyelesaikan Vervolg School, setingkat sekolah rakyat atau sekolah dasar di kota Padangsidempuan pada tahun 1920 dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang Normal School, yaitu SGB, setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama di kota Pematangsiantar – Tapanuli Utara dan tammat dari SGB pada tahun 1923.

Setelah tammat dari Normal School di kota Pematangsiantar, beliau ditugaskan sebagai Hoof School (Kepala Sekolah) pada Holland Inlander School (HIS) – setingkat sekolah dasar di kota Tanjungpinang  – Kepulauan Riau pada tahun 1924.

Beliau bertugas sebagai Hoof School dan mengajar pada HIS di kota Tanjungpinang  selama 3  tahun.

Di Tanjungpinang lahir putranya : Haji Nasran Makmur Harahap (23 Oktober 1925).

Pada tahun 1927, beliau dimutasikan dari Tanjungpinang ke Kotanopan sebagai Hoof School pada HIS di Kotanopan – Tapanuli Selatan (sekarang Kabupaten Mandailing Natal) dan menjabat sebagai Hoof School pada HIS  di Kotanopan selama kurang lebih sebelas tahun.

Di Kotanopan lahir putra-putrinya : Almh. Siti Rohani Harahap (1931), Almh. Nelly Rosmalan Harahap (1933), Almh. Juchaini Arsenal Harahap (1934) dan Alm. Haji Yushar Masyhur Harahap (21 Juni 1936).

Pada tahun 1938, beliau dimutasikan dari Kotanopan ke Padangsidempuan – Tapanuli Selatan  sebagai Hoof School pada HIS di Padangsidempuan, beliau bertugas sebagai Hoof School di Padangsidempuan kurang lebih selama 6  tahun.

Di Padangsidempuan lahir putra-putrinya : Alm. Haji Harli Ishary Harahap (28 Maret 1938), Haji Jachmier Noveloon Harahap (5 November 1939), Haji Novli Seniar Harahap (17 November 1941), Alm. Haji Edward Franzossa Harahap (20 Agustus 1944), Hajjah Ristalena Ochny Harahap (11 Oktober 1946).

Beliau  pernah juga diperbantukan sebagai Hoof School pada HIS di Sigalangan – Kecamatan Batang Angkola – Kabupaten Tapanuli Selatan, kurang lebih 20 kilometer dari kota Padangsidempuan. Beliau diperbantukan sebagai Hoof School di Sigalangan kurang lebih selama 2  tahun.

Pada tahun 1946, beliau dimutasikan ke kota Gunungtua – Padang  Bolak – Kabupaten Tapanuli Selatan  sebagai Hoof School Ofsenar (Penilik/Pengawas Kepala Sekolah) selama 1 tahun.

Pada tahun 1948 (masa agresi kedua),  beliau dan keluarga mengungsi dengan menumpang  prach-otto (truck) dari Padangsidempuan menuju ke kota Sibolga – Tapanuli Tengah. Dari kota Sibolga pindah ke kota Pematangsiantar – Tapanuli Utara.

Pada tahun 1949, beliau pindah dari kota Pematangsiantar ke kota Medan – Sumatera Utara.

Di kota Medan lahir putranya : Haji Danris Ferwary Harahap (27 Februari 1950).

Riwayat pekerjaan Ompung Haji Ismailyah Harahap sebagai seorang tenaga pendidik dan pengajar (guru), sebagai berikut :

Bertugas sebagai Hoof School pada Holland Inlander School (HIS) :

1924–1926 : HIS Tanjungpinang – Kepulauan Riau

1927–1937 : HIS Kotanopan – Tapanuli Selatan

1938–1945 : HIS Padangsidempuan – Tapanuli Selatan

1944–1945 : HIS Sigalangan – Tapanuli Selatan

1946–1946 : HIS Padangsidempuan – Tapanuli Selatan

1946–1947 : Hoof School Ofsenar (Penilik/Pengawas Kepala Sekolah) HIS Gunugtua – Padangbolak

1948–1949 : Mengungsi (masa agressi kedua) ke Sibolga, Pematangsiantar dan Medan

1949–1952 : Kepala Sekolah SD Negeri Jln. Mangkubumi Medan

1952–1955 : Direktur SGB Negeri 2 Jln. Sindoro Medan

1956–1958 : Direktur SMP Swasta Jaya Mada di Jln. Sindoro Medan

1958–1960 : Direktur SMP Negeri 5 di Kampung Teladan Medan

Pada tahun 1960 beliau memasuki masa persiapan pensiun sebagai seorang guru, sesuai dengan Surat Keputusan Pensiun Nomor: Kep.2b/984/9 tanggal 20 September 1962 , dengan pangkat terakhir Golongan/Ruangan: II/d.

Pada tahun 1971, pada usia 65 tahun beliau menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah Al Muqarromah melalui embarkasi Jakarta. Pada usia tersebut beliau masih sehat wal a’fiat dan kembali dengan selamat ke tanah air.

Kegiatan rutin sehari-hari beliau di masa pensiun:

Bangun dari tidur pada pukul 03.30 WIB. Setelah selesai sholat shubuh, beliau merapikan dan membersihkan lingkungan pekarangan rumah Jln. Karya Gang Sukadamai No. 3 Medan.

Menjelang jam 10.00 WIB pagi, beliau beristirahat sambil menonton televisi dan tidak lama kemudian, langsung tertidur di depan televisi.

Beliau terbangun menjelang masuknya waktu untuk menegakkan sholat zhuhur, setelah selesai menegakkan sholat zhuhur barulah beliau makan siang sekitar jam : 14.00 WIB siang.

Setelah selesai makan siang, beliau beristirahat, duduk-duduk sendirian dan terkadang didampingi oleh anak, cucunya dan atau tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumah di Jln. Karya Gang Sukadamai No. 3 Sei Agul Medan, sampai menjelang masuknya waktu untuk menegakkan sholat ashar.

Setelah menegakkan sholat ashar, terkadang beliau menerima tamu-tamunya yang berkunjung dan terkadang menonton televisi sampai menjelang masuknya waktu untuk menegakkan sholat maghrib.

Pukul 07.00 WIB, setelah selesai sholat maghrib beliau makan malam dan setelah beristirahat sebentar, beliau menegakkan sholat Isya.Setelah sholat Isya, tidak lama kemudian beliau berangkat tidur sekitar pukul 09.00 WIB.

Sampai saat kini (haul 100 tahun, pada tanggal 5 September 2005), Alm. Ompung Haji Ismailyah Harahap mempunyai :

Cucu sebanyak 46 orang (laki-laki: 24 orang dan perempuan: 22 orang).

Cicit sebanyak 56 orang (laki-laki: 27 orang dan perempuan: 29 orang).

Prinsip hidup beliau yang sempat saya ingat, adalah :

“Jangan tinggalkan harta kepada anak cucu, tetapi tinggalkanlah ilmu pengetahuan (pendidikan), karena kalau harta yang ditinggalkan bisa diambil (dicuri) orang, sedangkan ilmu pengetahuan tidak bisa dicuri orang, kalau harta diberikan kepada orang lain, maka harta tersebut akan semakin berkurang, tetapi kalau ilmu pengetahuan diberikan kepada orang lain, ilmu pengetahuan kita semakin bertambah, kalau harta kita yang harus menjaga dan memeliharanya, tetapi kalau ilmu pengetahuan (pendidikan), ialah yang menjaga dan memelihara kita”.

“Seharusnyalah  lebih banyak  mengisi isi kepala, daripada mengisi isi perut”.

“Lebih banyaklah mendengar dari berbicara, karena telinga diciptakan oleh Maha Pencipta dua, sedangkan mulut (bibir/lidah) hanya satu”.

Amanah yang sangat ditekankannya dan sangat diharapkannya kepada anak-anak dan cucu-cucunya adalah  agar jangan lalai menegakkan sholat lima waktu, dengan alasan bahwa sholat dapat menenangkan fikiran dan perasaan di dunia sampai ke akhirat dengan pertolongan, petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT.

Ketika menjelang akhir hayatnya, beliau sempat beberapa kali keluar masuk dari Rumah Sakit PTP-IX di Jln. Putri Hijau Medan untuk dirawat dan disembuhkan.

Pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 1987,  jam : 14.15 WIB, di Rumah Sakit PTP–IX Jln. Putri Hijau Medan, setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang, menghadap khaliknya Allah SWT, dalam usia 82 tahun.

Keesokan harinya Kamis, tanggal 5 Februari 1987, jam 16.00 WIB, setelah disholatkan di Mesjid Jami’ Jln. Karya Sei Agul Medan, jasad beliau dimakamkan di TPU Jln. Guru Patimpus, Kampung Petisah, Medan.

Tiga hari kemudian setelah beliau wafat, dilaksanakan prosesi adat Tapanuli Selatan (pasidung hari) di bagas godang Jln. Karya, Gang Sukadamai No. 3, Sei Agul, Medan.

Raja-raja dan pemuka adat Tapanuli Selatan, suhut, kahanggi, anakboru yang bermukim di kota Medan berkumpul.

Kerbau disembelih di halaman bolak, dagingnya digulai di dapur, bulung botik dibolgang, tanduk kerbau dipajang di gerbang bagas godang. Amak lapis dihamparkan, pernak-pernik dipasang, gordang ditabuh, ogung dibunyikan, sidang adat Tapanuli Selatan dimulai.

Dikutip dari :

“Lintasan Perjalanan Hidup Sebuah Keluarga Besar, Biografi Haji Ismailyah Harahap gelar Mangaraja Gunung Mulia”, Syaiful Bahri Harahap, 2005.

***

Buta huruf….(Seri : Songon na marsampur aek caritoi)

Cerita ini ku tulis, ketika kami rehat minum kopi menjelang tengah malam, setelah seharian mengikuti konsinyiring di Cisarua – Bogor.

Biasalah, ketika rehat minum kopi, ada saja teman yang menceritakan cerita-cerita lucu yang mereka alami. Apakah cerita itu direkayasa atau tidak, tak tahu lah aku. Yang penting lucu, enak didengar, dan paling tidak bisa mengusir rasa kantuk, setelah seharian berkutat dengan angka-angka dan huruf-huruf, yang terkadang bisa mengakibatkan sakit kepala.

Sekelumit cerita yang ku dengar :

Romo, nama temanku, asli Madura, baru sekali datang ke kota Medan, itu pun karena tugas pemeriksaan pungutan ekspor (sekarang namanya : bea keluar) di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di Medan.

Romo dan timnya menginap di Hotel Dharma Deli Medan (dulu nama hotel tersebut Hotel De Boor) persis di depan kantor pos besar di Medan. Di lobby hotel tersebut terdapat gerai (counter) yang menjual berbagai cendra mata khas kota Medan, seperti hasil kerajinan tangan khas Medan dan ada juga yang menjual batu cincin.

Singkat cerita, ketika mereka akan keluar hotel untuk makan malam, sambil menunggu dijemput, iseng-iseng kawanku tadi menghampiri gerai yang menjual batu cincin di lobby hotel tersebut.

“Bang, bisa lihat cincin yang warna merah delima itu” ujar kawanku kepada penjaga gerai yang menjual batu cincin. Dipandangi penjaga gerai itu wajah temanku tadi dan sambil bermalas-malasan ia buka stelling kaca yang menyimpan cincin dengan batu yang berwarna merah delima, diraihnya batu cincin tersebut dan diserahkannya kepada temanku.

Aku yakin yang ada di dalam fikiran penjaga gerai tadi adalah : “ahh..ini pasti mau lihat-lihat saja, bukan mau beli”.

Setelah memperhatikan batu cincin warna merah delima tadi, kawanku bertanya kepada penjaga gerai tadi :”Buatan mana ini, Bang?”.

“Buatan Tuhan lah, buatan siapa lagi” kata penjaga gerai tadi dengan ketus. Beringsut-ingsut temanku meninggalkan gerai tadi sambil meletakkan cincin tadi di atas stelling kaca. “Terima kasih ya, Bang” kata temanku. “Ngeri kali ahh”, kata temanku dalam hatinya.

Lain cerita Romo, lain pula cerita Johnpas.

Johnpas, asli suku batak, pas itu yang ada di belakang namanya, singkatan pasaribu, marganya. Dia menceritakan bosnya sewaktu berkunjung ke Pematang Siantar, kota Siantar kurang lebih 120 km dari kota Medan.

Ketika ia dan bosnya makan siang di sebuah restoran di Jl Sudirman Siantar, seorang anak kecil, penyemir sepatu menghampiri mereka. “Semir sepatunya, pak”, kata anak kecil itu kepada bos si Johnpas. Si bos diam seribu basa. “Semir sepatunya, pak”, kata anak kecil itu lagi. Si bos tidak bergeming. Sebenarnya diamnya si bos, pertanda ia tidak sudi sepatunya disemir, namun ia tidak memberikan isyarat kepada anak kecil tadi untuk menidakkan, apalagi mengiyakan.

Kelihatan wajah si anak kecil, penyemir sepatu memelas, kesal dan campur kecewa. Tetapi si anak kecil penyemir sepatu tadi tetap berdiri di sisi si bos.

Tidak lama kemudian datang seorang anak kecil yang lain, yang usianya hampir sebaya dengan si anak kecil penyemir sepatu tadi. Si anak kecil yang datang tadi adalah penjual koran, dengan memeluk beberapa lembar koran, si anak kecil tadi menghampiri si bos untuk  menawarkan koran, dagangannya. “Koran, pak”, kata si penjual koran. Si bos diam, tidak peduli. “Koran, pak”, kata si penjual koran lagi kepada si bos. Si bos tetap diam.

Tidak lama kemudian, si penyemir sepatu tadi berkata kepada si penjual koran, “Jangan kau paksa-paksa bapak itu beli koranmu, jangan-jangan dia buta huruf”.

Kedua anak itu pun melengos, meninggalkan bos si Johnpas.

***

Fabel (Note to SNR’s notes: Kalajengking)

Banyak memang kisah-kisah yang didongengkan tentang kehidupan binatang (fabel) yang dapat memberikan pesan moral bagi manusia sebagai bimbingan untuk menjalani hidup dan kehidupan.

Seperti kisah kalajengking yang dituturkan dalam SNR’s notes, kisah persahabatan antara kera dan ikan mujahir, kisah kancil yang cerdik, dan banyak lagi.

Kalau zaman dulu kisah-kisah ini didongengkan oleh nenek atau ayah ibu kita, sebagai bedtime stories, cerita pengantar tidur, untuk membuai kita menjelang tidur di waktu malam hari tiba.  Zaman sudah berubah, kini anak-anak bermain Play Station Portable (PSP) sebelum tidur, sampai mereka tertidur PSP masih berada di tangannya atau sebelum tidur mereka terlebih dahulu berfacebook ria atau mengupdate statusnya. Bagi anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, mungkin mereka sekedar menonton televisi ketika menjelang tidur, bahkan mungkin terdapat diantara mereka berangkat tidur dengan perut kosong, menunggu ibunya yang sedang menanak batu.

Zaman memang sudah berubah. Biarlah zaman berubah sesuai dengan perjalanan waktu.

Jika kita perhatikan, sungguh menarik kisah-kisah fabel ini, ada juga yang meniliti dan mengilmiahkannya.

Sebutlah, misalnya Prof. Jürgen Tautz dari Universitas Würzburg di Jerman yang melakukan penelitian tentang kehidupan koloni lebah. Penelitian dilakukan secara ilmiah dengan menggunakan peralatan-peralatan canggih seperti sensor panas, microchip dan sebagainya.

Kesimpulan hasil penelitian dalam naskah penelitian tersebut adalah, bahwa koloni lebah adalah seluruh komunitas lebah yang terdiri dari lebah ratu, lebah pejantan dan para lebah pekerja.

Selanjutnya, 30 prosen dari hari kerja lebah digunakan untuk mencari makan atau menghisap sari madu, sedangkan sisanya, lebah bekerja sebagai pengatur (regulator) temperatur di dalam sarang lebah. Lebah-lebah tersebut mendinginkan dan memanaskan sarangnya sesuai kebutuhan.

Ketika musim dingin tiba, lebah tidak berdiam diri di dalam sarangnya, mereka berbagi tugas. Lebah yang berada di lapisan luar mengepakkan sayapnya dengan kecepatan tertentu, sebagai penangkal terhadap dinginya udara.

Dengan prinsip yang sama, jika musim panas tiba, lebah berfungsi sebagai mesin pendingin untuk mengatur suhu udara yang ada di dalam sarangnya.

Mereka bergantian untuk melakukan fungsi sebagai regulator temperatur. Masih menurut penelitian tersebut, lebah-lebah tersebut bergantian melakukan fungsi regulatornya selama kurang lebih 20 menit sekali.

Seandainya, seekor lebah melepaskan diri dari komunitasnya, lebah tersebut tidak mungkin selamat dan bertahan hidup dalam menghadapi musim dingin dan musim panas.

Lebah mempertahankan suhu yang nyaman di dalam sarangnya yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Siapakah yang mengajari mereka ?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (QS, 16 : 68-69).

Lain kisah kalajengking, lain pula kisah kucing kurus dan singa, si raja hutan. Kisah ini  memiliki pesan tentang pentingnya kerjasama (baca: koalisi). Dongengnya sebagai berikut:

Di pinggir hutan lebat terdapat sebuah gua, di mulut gua tersebut duduklah seekor kucing kurus sambil berangan-angan. Tak lama kemudian datanglah seekor rubah jantan yang tegap lagi gemuk dengan seketika hendak memangsa si kucing kurus. Namun, sebelum sang rubah menerkam si kucing kurus, si kucing kurus menantang sang rubah untuk berkelahi. Si kucing kurus berkata: “Hai rubah jantan, kalau engkau memang seekor rubah jantan yang benar-benar jantan, sebelum engkau menerkam diriku, marilah kita berkelahi terlebih dahulu. Kita dapat berkelahi di dalam gua itu, sebagai arena perkelahian”, sembari si kucing kurus mempersilahkan rubah jantan untuk masuk ke mulut gua. “Siapa takut, mari segera kita mulai” ujar sang rubah dengan pongahnya dan sang rubah bergegas masuk ke dalam mulut gua.

Beberapa saat kemudian, si kucing kurus keluar dari mulut gua dengan menjinjing sepotong daging paha rubah jantan dan melahap daging tersebut dengan nikmatnya.

Keesokan harinya, kejadian serupa terjadi pula pada seekor serigala. Ketika serigala akan memangsa si kucing kurus. Si kucing kurus terlebih dahulu menantang serigala untuk berkelahi di dalam gua dan tidak lama kemudian si kucing kurus keluar dari mulut gua sambil menjinjing potongan tubuh serigala dan melahap potongan tubuh serigala di depan mulut gua.

Senja hari pun menjelang, si kucing kurus melongok ke dalam gua tempat berkelahi tadi, sambil berteriak : “Hai, kawan keluarlah, hari sudah senja. Besok kita teruskan lagi kerjasama ini”.

Dari mulut gua tersebut keluarlah seekor singa yang berbadan sangat besar, sambil menguap, sang raja hutan, berkata : “Kerjasama kita hari ini cukup sukses, kita makan dengan kenyang hari ini”. “Saya tidak perlu bersusah payah mengejar-ngejar mangsa” imbuhnya, sambil melenggang masuk ke dalam hutan yang lebat.

Sumber bacaan : Bangkit dengan 7 budi utama, kumpulan kisah spiritual penggugah motivasi, Ary Ginanjar Agustian, 2009.

***

Caddy wanita…… (Seri : Songon na marsampur aek caritoi)

Sejak kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen mencuat di media massa, nama seorang mantan caddy (wanita) RJ ikut kesohor.

Saya bukan mau menceritakan teka-teki atau misteri pembunuhan Direktur PT PRB tersebut. Yang akan dibualkan disini tentang caddy, khususnya caddy wanita. Mungkin sudah menjadi rahasia umum, sudah jamak pemilik padang golf yang menyediakan caddy-caddy wanita yang dipekerjakan untuk menuntun para golfer/player bermain golf. Caddy-caddy wanita ini didandani sedemikian rupa, diberi pakaian seragam dan tentunya mereka direkrut dengan seleksi yang cukup ketat dan salah satu kriteria seleksinya, tentu calon caddy wanita ini harus sexy. Caddy-caddy wanita ini harus ditraining sebelumnya, sehingga mereka menguasai seluk beluk rule of the game dan mereka juga harus menguasai tekstur padang golf dimana mereka akan dipekerjakan, bahkan mereka diajarkan bagaimana untuk mengetahui arah angin dan tingkat kecepatan angin berhembus. Ini semua tentu untuk memberikan kepuasan kepada para members padang golf tersebut (customers satisfaction).

Konon, acap sekali terjadi skandal asmara antara caddy-caddy wanita ini dengan para player, seperti skandal asmara antara direktur dan sekretaris, antara pemain billiard dan scoregirl, antara majikan dan babu, antara pasien dan perawat, antara dosen dan mahasiswi, dan lainnya.

Alkisah, seorang teman setengah berbisik : “Kalau mau golf ke padang golf ini” ujarnya, dan ia menyebut nama satu padang golf yang cukup terkenal. “Kenapa?”, aku bertanya. “Disana caddy-nya semua no-bra, pokoknya oke punyalah”, katanya berpromosi. “Masa iya”, kataku, tak percaya. “Buktikan aja endiri”, katanya meyakinkan.

Akhirnya tanpa sepengetahuan teman tadi, ku ajak teman lain untuk turun  ke padang golf yang disebutkan tadi.  Kami langsung ke lobby padang golf tersebut, tiba di lobby, mataku tertuju ke sebuah papan pengumuman yang ditulisi dengan jenis huruf Arial Black dengan ukuran yang cukup besar dan sangat mencolok mata (eyes catching). Tahu nggak, apa yang tertulis di papan pengumuman tersebut. Tulisannya adalah: “PADANG GOLF SYARI’AH. MA’AF, TIDAK MENERIMA LOWONGAN UNTUK CADDY WANITA”.

“Pulang kita….”, kataku kepada teman tadi. “Kenapa?”, katanya. “Nggak, pulang kita….”, kataku lagi sambil menggeram. Dalam hatiku berkata, benar juga “kampret” itu ya. Mana ada caddy laki-laki pake BH….

***

Trust, terinspirasi dari mengikuti diklat SPIP (Seri : Songon na marsampur aek caritoi)

Menurut saya, trust harus dibangun sejak dini, trust tidak datang seketika. Trust dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan, budaya, adat istiadat, kebutuhan, dan lainnya.

Qalbu yang disepuh, diasah dan dibasahi oleh nilai-nilai ke-Tuhan-an secara terus menerus merupakan upaya utk membangun dan mewujudkan trust tersebut.

Alkisah, saya pernah berdialog dengan seorang penyelia/supervisor di tempat pembuatan/pengasahan butir-butir batu berlian di Pattaya (Thailand), Gem Diamonds, nama tempatnya, pabrik/tempat pembuatan batu berlian terbesar di Thailand.

Saya bertanya, apakah pernah terjadi karyawan/pekerja disini yang mencuri batu berlian milik perusahaan. Supervisor itu menidakkan, katanya bos di perusahaan tersebut  sangat menaruh kepercayaan kepada  para pekerjanya, karena para pekerja disini sudah turun temurun dari kakek-kakek mereka.

Saya teringat waktu saya pernah tugas di Ambon, Maluku. Dobo, adalah sebuah kota kecil di Maluku Tenggara, tempat penghasil mutiara terbesar di Maluku. Mutiara dibudidayakan di dasar laut. Para pekerja disana harus melepaskan pakaiannya sebelum bekerja dan diganti dengan  seragam yang  disediakan oleh perusahaan penghasil mutiara tersebut. Jika sore hari setelah selesai bekerja, para pekerja digeledah sekujur tubuhnya, apakah mereka ada menyembunyikan/mengantongi butir-butir mutiara tersebut. Pernah terjadi, seorang pekerja disana memberanikan dirinya utk menelan beberapa butir mutiara. Setelah ia tiba di rumahnya, ia mengeluarkan butir-butir mutiara tersebut  dari lubang duburnya (m’af). Ia menyeludupkan butir-butir mutiara tersebut.

Bandingkan dengan kisah riwayat Umar bin Chattab ketika menemui dan berdialog dengan  seorang pengembala domba di zaman kehidupan Rasullullah dan bandingkan juga dengan film “Flawless” yg dibintangi oleh Demi Moore dan Michael Caine. He had scheme, she had a motive.

***

Photo Profile (Seri : Songon na marsampur aek caritoi)

Alkisah. Seorang facebooker (wanita bersuami) mendapat pesan di kotak emailnya dari team facebook. Pesan tersebut, sebagai berikut :

“Kami harap agar anda segera mengganti photo profile di halaman facebook anda dalam jangka waktu satu minggu, setelah pesan ini anda terima. Jika tidak, anda tidak dapat login ke halaman facebook anda. For further information. Don’t hesitate please contact the website owner”.

Apa pasal ? Setelah website owner dihubungi oleh si facebooker, ternyata team facebook tidak setuju/keberatan atas photo profile facebooker tadi, karena photo profile tersebut adalah photo facebooker (wanita bersuami) tadi berdampingan dengan photo seekor harimau sumatera yang sudah dikeringkan (diset). Menurut argumentasi team facebook, hal ini menyalahi terms yang harus dipatuhi oleh setiap facebooker, karena harimau sumatera termasuk binatang yang harus dilindungi menurut undang-undang (conservation).

Team facebook ternyata menjaga kredibilitas dan komitmennya terhadap “green earth”.

Singkat cerita. Akhirnya si facebooker tadi mengganti photo profilenya. Photo profilenya sekarang adalah photo si facebooker (wanita bersuami) berdampingan dengan suaminya.

Berselang beberapa waktu kemudian, si facebooker lagi-lagi menerima pesan di kotak emailnya dari team facebook. Pesannya sama seperti pesan yang diterima sebelumnya. Pesannya, adalah :

“Kami harap agar anda segera mengganti photo profile di halaman facebook anda dalam jangka waktu satu minggu, setelah pesan ini anda terima. Jika tidak, anda tidak dapat login ke halaman facebook anda. For further information. Don’t hesitate please contact the website owner”.

Si facebooker sangat penasaran. Ia kembali menghubungi team facebook, namun kali ini ia tidak dapat mengubungi team facebook dan tentu ia tidak dapat mengetahui alasan mengapa team facebook memintanya untuk mengganti photo profilenya yang sekarang, yaitu berupa photonya yang berdampingan dengan suami tercinta.

Sehari kemudian. Si facebooker kembali menerima pesan di kotak emailnya dari team facebook. Pesan tersebut, sebagai berikut :

“Warnings. Sekali lagi kami peringatkan, anda harus segera mengganti photo profile anda, karena orang utan juga termasuk binatang yang harus dilindungi menurut undang-undang. We are concerning  to a green earth….”.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: