From Beijing With Love – Notes Pertama

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China”, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Maskapai SQ memang selalu on time – tepat pukul 20.15 wib, kami take off dari BUISH Cengkareng  menuju ibukota P.R. China, Beijing, dahulu orang menyebutnya dengan Peking. Sama saja, Beijing d/h Peking.

Biasanya, kalau kita menumpang pesawat maskapai SQ kemanapun tujuannya, maka kita harus transit (stop over) di Bandara Changi Airport Singapore (CAS). Ini sudah merupakan keharusan bagi maskapai tersebut, harus transit di Bandara CAS.

Pesawat Airbus A380 menerbangkan kami dari Jakarta ke Singapore dalam waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam. Pada pukul 22.50 (local time) – (terdapat perbedaan waktu selama satu jam antara Jakarta dengan Singapore) – pesawat Airbus A380 mendarat agak kurang mulus di Bandara CAS, walaupun tidak dapat dikatakan hard landing. Mungkin pilotnya sudah mengantuk, fikirku di dalam hati.

Tiba di pelataran Bandara CAS, aku akurkan jarum panjang arloji di tanganku.

Kami harus menunggu kurang lebih dua jam di Bandara CAS untuk melanjutkan penerbangan ke Beijing, namun masa dua jam tidak begitu terasa lama.

Kenapa? Karena fasilitas pelayanan yang diinstalasi di bandara tersebut cukup memanjakan dan memberikan kenyamanan kepada  para penumpang yang sedang menunggu untuk naik ke pesawat.

Ada rest area, ada smoking area, ada massage chairs, ada free internet dengan kecepatan tinggi, ada coffee shop 24 hours, ada gerai duty free, ada gerai-gerai barang konsumsi yang branded untuk sekedar cuci mata, ada sky-train tanpa awak yang menghantarkan penumpang dari satu gate ke gate yang lain, dan toilet yang nyaman lagi bersih dengan kran air yang serba otomatis serta urinoir yang ada gambar seekor lalat. Sayang, tidak disediakan musholla dan WC tidak didesain untuk kaum muslim – hanya ada kertas tissue, tidak disediakan slang air untuk istinja’. Jadi bisa lebih lama waktu istinja’ daripada buang hajat.

Semoga Bandara Kuala Namu, Medan yang sedang dibangun pada saat kini dapat melebihi fasilitas pelayanan bandara ini dan didesain untuk memenuhi kebutuhan kaum muslim, paling tidak sama dengan fasilitas pelayanan yang ada di bandara ini. Begitu do’aku di dalam hati.

Kami akan melanjutkan penerbangan menuju ke Beijing.

Tentu saja sebelum boarding, naik ke dalam pesawat, terlebih dahulu seluruh penumpang harus melalui security check yang teramat ketat. Setiap penumpang harus melepaskan jaket atau baju hangat dan sabuk/tali pinggang. Tas jinjing, handphone, dompet dan benda-benda yang ada di dalam saku harus dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam wadah plastik yang sudah disediakan dan semua benda-benda tersebut harus dipantau oleh alat pemindai x-ray.

Jika alarm berbunyi, ketika kami melintas di gerbang pemindai, maka kami diminta oleh petugas bandara untuk berdiri tegak dengan kedua tangan di atas. Petugas bandara mulai meraba-raba dan merogoh seluruh isi saku kita dan seluruh batang tubuh kita dipindai oleh alat pemindai logam.

Ketika aku akan melalui security check, aku menyaksikan tiga orang amoy dan dua orang ibu separuh baya sedang bertengkar hebat dengan petugas security bandara. Mereka bertengkar dalam bahasa Mandarin dan sesekali menggunakan bahasa Inggris yang patah-patah.

Para penumpang lain yang sudah dan akan melalui security check menonton mereka bertengkar dengan petugas security bandara.

Aku melihat di sisi mereka terdapat setumpuk ukiran kayu (wood carving) milik amoy-amoy tadi. Rupanya ke lima wanita cina tersebut baru selesai berlibur di Bali dan mereka membawa cendra mata berupa wood carving.

Terkesan,  petugas security bandara melarang ke lima wanita cina itu membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat. Mungkin ini yang menjadi pokok pangkal pertengkaran mereka. Kenapa di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, ke lima wanita cina tadi diperbolehkan untuk membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat, sedangkan di Bandara CAS petugas security bandara melarang ke lima wanita cina itu membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat. Petugas security bandara bersikeras melarang ke lima wanita cina itu membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat, namun ke lima wanita cina itu juga ngotot untuk membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat. Akhirnya ke lima wanita cina tadi diminta oleh petugas security bandara untuk meminggir ke sudut ruangan security check dan penumpang lain diminta satu persatu untuk melintas di gerbang security check.

Ketika tiba giliran aku melakukan security check, gatal-gatal mulut aku bertanya kepada petugas security bandara yang bertengkar dengan ke lima wanita cina tadi, “what’s the matter, Sir?”.

Petugas security bandara yang bertengkar dengan ke lima wanita cina tadi menjelaskan dan menilai minus petugas Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, karena mereka memperbolehkan ke lima wanita cina tadi membawa wood carving tersebut ke dalam cabin pesawat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

“Where do you come from?”, tanya petugas security bandara yang bertengkar dengan ke lima wanita cina tadi kepadaku.

“Malay”, aku jawab singkat, sedikit berdiplomasi dan tersipu-sipu malu. Aku tinggalkan petugas security bandara yang bertengkar dengan ke lima wanita cina tadi menuju naik ke dalam perut pesawat Airbus A380.

Petugas security bandara yang bertengkar dengan ke lima wanita cina tadi tersenyum simpul kepadaku.

Tidak lama setelah pramugari dan pramugara SQ membagi-bagikan handuk kecil hangat kepada para penumpang, pada pukul 00.20 (local time) pesawat Airbus A380 tinggal landas dari Bandara CAS menuju Bandara Beijing Capital International Airport.

Dari bandara di Singapore ke bandara di Beijing ditempuh dalam waktu kurang lebih enam setengah jam (tidak ada perbedaan waktu antara Singapore dan Beijing).

Seusia aku penerbangan selama enam setengah jam cukup melelahkan dan sekaligus membosankan.

Di dalam perut pesawat, mataku tak kunjung terpejam. Sudah aku habiskan secangkir teh hangat, majalah promosi yang disediakan di saku kursi pesawat sudah aku bolak-balik, video dan film serta musik produksi Kris World yang disediakan di monitor kecil di masing-masing  belakang kursi penumpang sudah aku hidup matikan berkali-kali. Sesekali aku melongok ke luar jendela pesawat, gelap gulita dan sesekali terlihat sambaran kilat bagaikan lampu blitz. Aku perhatikan penumpang yang duduk di sebelah aku duduk, tertidur pulas dengan mulut sedikit agak menganga. Aku melihat sepasang bule yang duduk di sebelah sana masih bercakap-cakap dengan serius dan sesekali tertawa kecil.

Aku memperhatikan arah penerbangan (flight path) yang terpantau di depan monitor kecil yang terdapat di belakang kursi penumpang, ternyata kami sedang terbang di atas Lautan Cina Selatan (South China Ocean) dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.51 (in flight time).

Tidak lama setelah sarapan pagi di dalam pesawat, passengers announcement mengumumkan tidak lama lagi kami akan mendarat di Bandara Beijing Capital International Airport pada saat itu waktu menunjukkan pukul 06.37 (waktu Beijing) – (tidak ada perbedaan waktu antara Singapore dan Beijing dan terdapat perbedaan waktu selama satu jam antara Jakarta dan Beijing).

Pesawat Airbus A380 mendarat dengan mulus.

Begitu meninggalkan pintu pesawat menuju ke pelataran bandara, sudah terasa begitu amat sejuknya suhu udara di Beijing.

Setelah kami memperlihatkan paspor dan visa di hadapan petugas duane (customs),

kami menumpang sky train tanpa awak menuju tempat baggage claim. Tidak ada portir atau PORLEP (Portir Lepas – istilah di Medan) yang akan membantu untuk mengambil barang bawaaan (bagasi). Semua penumpang mengambil sendiri barang bawaannya dengan menggunakan baggage cart (trolley).

Kami keluar dari pelataran bandara dan meninggalkan kompleks Bandara Beijing Capital International Airport…. (bersambung……)

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kedua

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Setelah tugas-tugas utama aku selesaikan, tibalah saatnya untuk melancong, raun-raun – kata anak Medan, ngelencer – kata arek Suroboyo, ronda-ronda – kata nyong Ambon, tour – kalau cakap orang putih.

Selayang pandang kota Beijing.

“If you choose to visit only one city in China, it should definitely be Beijing. It is endowed with numerous world-famous attractions, which are renowned far beyond China’s borders. It is not only a city with splendid history, but also a modern, international city. It not only has a wealth of sights and artifacts from the imperial courts and nobility, but also contains many examples of folk art forms, and, it is not just famous for its cultural heritage – it is an emerging destination for prestigious international business meetings”.

Demikian kalimat pembuka yang tertulis mengenai kota Beijing dalam buku “Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.5.

Kota Beijing yang terhampar pada titik koordinat 39°54′20″ LU, 116°23′29″ BT (sumber data: www.wikipedia.org)  menurut kalender lunar (lunisolar calender) atau kalender cina memiliki 24 solar terms, yaitu sejak tanggal 4 Februari sampai dengan tanggal 20 Januari.

Sejak tanggal 22 November sampai dengan 6 Desember merupakan the beginning of light snowfalls (minor snow).

(Dikutip dari: “Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.62).

Ketika aku berada disana, suhu udara amat sejuk bukan alang kepalang. Di sana sini terlihat bongkahan gumpalan salju yang ditumpuk di sudut-sudut dan pinggir jalan, bagaikan es serut, es yang diparut  untuk membuat es campur Medan, yang tersohor itu.

Karena musim gugur (autumn) baru saja berlalu di awal bulan Oktober, kelihatan pepohonan belum segar lagi, ranting dan dedaunan masih layu dan digelayuti oleh butir-butir salju putih, yang sesekali terbang jatuh menerpa hamparan bumi karena hembusan angin semilir yang membuat geraham menggeretak.

Aku perhatikan dan nikmati fenomena ini. Maha besar Allah atas segala ciptaanNya.

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Pertama: Birdnest Olympic Stadium – Beijing

Kesempatan pertama, aku mengunjungi Birdnest Olympic Stadium yang berada di Chaoyang District – Beijing, 100101 Cina.

Kenapa disebut Birdnest (sarang burung) Olympic Stadium? Kalau aku perhatikan dari jarak jauh, arsitektur luar (exterior) stadion itu mirip seperti sarang burung dengan ukuran raksasa. Kalau sarang burung dirajut dari rerumputan dan ranting-ranting pohon,  lain dengan Birdnest Olympic Stadium yang dirajut dari  42.000 ton besi baja yang ditumpuk untuk menciptakan ilusi seperti sarang burung yang biasanya berada nun tinggi di atas dahan, kecuali burung tempua. Ingat, pepatah lama. “Kalau tak ada berada, tak mungkin tempua bersarang rendah”.

Dari literatur yang sempat aku baca dan dari website yang sempat aku telusuri atas bantuan Mr. Google melalui fasilitas free internet yang disediakan di hotel tempat aku menginap. Aku memperoleh beberapa fakta tentang Birdnest Olympic Stadium.

Birdnest Olympic Stadium tegak di atas hamparan seluas 258.000 meter persegi dan menyediakan tempat duduk yang dapat menampung sebanyak 91.000 penonton.

Birdnest Olympic Stadium mulai dibangun pada Desember 2003 dengan menelan biaya kurang lebih sebesar ¥3.5 miliar setara dengan US$500.- juta (kalau kurs tengah BI per tanggal 25 November 2009,  ¥1 setara dengan Rp1.385,58 – sumber data: www.ortax.org) – kalau dirupiahkan menjadi Rp4.849.530.000.000,-. Merelokasi 4.707 rumah tempat tinggal atas 2.043 kepala rumah tangga dari sekitar lokasi pembangunan Birdnest Olympic Stadium.

Birdnest Olympic Stadium ini digunakan sebagai tempat acara pembukaan dan penutupan olimpiade musim panas yang ke XXIX pada tahun 2008 yang berlangsung sejak tanggal 8 Agustus sampai dengan 24 Agustus 2008, yang menelan biaya kira-kira US$42 miliar.

Aku berjalan kaki dari pintu gerbang utara menuju pintu gerbang selatan menyelusuri areal Birdnest Olympic Stadium. Penat sudah terasa kaki ini, pintu gerbang selatan tak kunjung aku hampiri.

Aku rehat sejenak minum teh hangat, di gerai yang menjual kopi, teh, mie instan dan menjual cendra mata berupa replika kecil Birdnest Olympic Stadium.

Aku pandang sekeliling areal Birdnest Olympic Stadium, hanya ada satu gerai yang menjual barang-barang tersebut. Aku menyaksikan sepleton tentara Cina yang sedang berbaris dengan langkah tegap dan sempurna hilir mudik, lengkap dengan seragam baju hangat sampai ke batas  lutut dan mengenakan topi yang terbuat dari bulu hewan sintesis, sambil menyandang senjata sangkur.

Terlintas di fikiranku, untuk membanding-bandingkankan stadion ini dengan Stadion Gelora Bung Karno – Jakarta, dengan Stadion Teladan – Medan, dengan Stadion GOR Agus Salim –  Padang.  Aku buang jauh-jauh khayalan yang melintas di fikiranku.

Aku melanjutkan langkah kakiku menuju pintu gerbang selatan di areal Birdnest Olympic Stadium……(bersambung…)

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Ketiga

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kedua: The Forbidden City (Kota Terlarang) – Beijing

Secara bebas the forbidden city diterjemahkan menjadi, kota terlarang. Karena pada masa dulu kawasan ini merupakan istana raja-raja cina kuno. Tidak sembarang orang boleh memasukinya, apalagi rakyat jelata, mungkin hal ini yang menyebabkan kawasan ini disebut kota terlarang.

Mengunjungi tempat ini, aku menjadi terkenang, puluhan tahun yang lalu ketika membaca berjilid-jilid cerita silat, buah karya almarhum Asmaraman Sukowati Kho Ping Ho. Konon almarhum tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin, dan ketika ia sedang menyusun cerita silat ini ia belum pernah berkunjung ke negeri Cina. Maka aku harus maklum, banyak fakta sejarah dan letak tempat dalam cerita silatnya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, namun demikian cerita silatnya tetap berkesan bagi jutaan penggemarnya.

Serial cerita silatnya yang sempat aku baca dengan sembunyi-sembunyi – (pada waktu itu anak-anak dilarang keras membaca komik dan cerita silat, karena akan mengganggu konsentrasi belajar di sekolah) – meliputi: serial Bu Kek Sian Su, serial Pedang Kayu Harum dan serial Pendekar Sakti.

Berjilid-jilid serial cerita silatnya aku pinjam-sewa di sekitar lapangan Merdeka-Medan dekat “Titi Gantung”, beberapa puluh tahun yang lalu. Tempat penyewaan buku komik dan cerita silat cina serta cerita silat lokal berada di sekitar lapangan Merdeka-Medan. Mungkin saat ini sudah tidak ada lagi, sudah berganti menjadi City Walk-Medan.

Lagi pula, mana ada lagi anak-anak zaman sekarang yang mau membaca cerita silat, membaca novel, membaca komik anak-anak.

Anak-anak zaman sekarang main Nittendo, main PS, main games on line, internetan, punya akun facebook dengan tanggal lahir (usia) yang dimanipulasi. Ingusya saja belum bisa dihapusnya sendiri, ia sudah punya akun facebook.

The Forbidden City (Kota Terlarang) telah digunakan sebagai istana raja-raja cina kuno pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing.

Menurut kronologis dinasti raja-raja cina kuno, terdapat 20 dinasti yang pernah bertakhta di kerajaan cina kuno. Sejak Dinasti Xia sampai dengan Dinasti Qing (dikutip dari: “Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.40).

Sejak tahun 1406 (ketika Raja Chengzu Ming  mulai membangun istana tersebut) sampai dengan tahun 1911 (ketika Kaisar Puyi, raja terakhir dari Dinasti Qing turun takhta) Forbidden City dijadikan sebagai istana raja.

Pembangunan istana tersebut memakan waktu kurang lebih selama 15 tahun, yang melibatkan lebih dari 100.000 tenaga arsitek dan jutaan tenaga buruh. Pembangunan istana yang amat luas dan meninggalkan sejarah panjang tentang arsitektur cina kuno.

Bangunan Forbidden City terbentang dari selatan ke utara dengan luas areal kira-kira 720.000 meter persegi yang dikelilingi dengan pagar yang kokoh berupa dinding tembok semen setinggi 10 meter. Pada setiap sudut dinding tembok semen, masing-masing berdiri megah sebuah menara pengawas. Di sebelah luar dinding tembok semen terdapat parit/sungai kecil selebar 52 meter.

Dahulu kala, sungai kecil ini bertujuan sebagai pertahanan terhadap serangan musuh dari luar istana atau sebagai perintang bagi orang-orang yang tidak diizinkan untuk masuk ke dalam istana.

Istana ini mempunyai empat gerbang utama, yakni: Wu Men (Meridian Gate) di sebelah Selatan, Shenwu Men (Gate of  Martial Spirit) di sebelah Utara, Donghua Men (East Flowery Gate) di sebelah Timur dan Xinhua Men (West Flowery Gate) di sebelah Barat.

Struktur bangunan  Forbidden City merefleksikan konstruksi yang sungguh menakjubkan tentang peninggalan budaya cina kuno, yaitu hirarki feodal dan konsep teori cina tradisional, yaitu : yin-yang dan lima elemen (kayu, api, tanah, metal dan air).

Di dalam istana tersebut terdapat, antara lain :

-Bronze lions, sepasang patung singa yang terbuat dari perunggu yang terdapat di depan pintu gerbang  Supreme Harmony Hall (Taihe Dian). Di sebelah kiri, patung singa jantan memegang bola dengan cakarnya dan di sebelah kanan, patung singa betina memegang patung bayi singa dengan cakarnya.

-Supreme Harmony Hall (Taihe Dian), ruangan yang paling terbesar di forbidden city dengan luas kurang lebih 30.000 meter persegi. Di keempat sudut ruangan tersebut terdapat wadah (vats) yang dapat menampung bergalon-galon air, berguna untuk mencegah kebakaran.

Di sekitar halaman ruangan tersebut terdapat juga patung-patung hewan, seperti: bangau, kura-kura dan hewan lainnya yang terbuat dari perunggu.

Sayang, ruangan ini selalu tertutup dan pengunjung tidak pernah bisa melihat-lihat di dalam ruangan tersebut. Ada apa di ruangan tersebut?

– Middle Harmony Hall (Zhonghe Dian), terletak di belakang Supreme Harmony Hall (Taihe Dian). Menurut informasi pemandu wisata, dulu tempat ini sebagai tempat raja-raja untuk berleha-leha dan tempat raja-raja memberikan briefing kepada para menteri-menterinya.

Di depan ruangan ini, terdapat joglo (canopy), tentu dengan arsitektur cina kuno. Disana disebut dengan : huangai (canopy).

– Preserving Harmony Hall (Baohe Dian), terletak di sebelah Utara dari Forbidden City yang terdiri dari tiga ruangan yang cukup besar.  Menurut informasi pemandu wisata, pada masa Dinasti Ming tempat ini dijadikan sebagai tempat untuk ganti baju bagi para raja-raja, sebelum menghadiri acara-acara seremonial. Sedangkan pada masa Dinasti Qing tempat ini berubah fungsi menjadi tempat menyelenggarakan perayaaan menyambut tahun baru cina. Raja menjamu para menteri-menterinya pada saat menyambut tahun baru cina di tempat ini.

-Ukiran Batu (Stone Carving), ukiran batu ini terdapat di sekitar Preserving Harmony Hall (Baohe Dian), yang terdiri dari tiga bagian yang membentuk sembilan ekor naga yang sedang terbang. Ukiran naga ini merupakan ukiran batu yang terbesar yang ada di Forbidden City, panjangnya 16,57 meter, lebarnya 3,07 meter, tebalnya 1,7 meter dan terbuat dari bebatuan berwarna biru seberat 250 ton.

-Pavilion of Erudite Literature (Wenyuan Ge), ruangan ini dibangun pada saat Dinasti Ming berkuasa. Pada masa Dinasti Ming ruangan ini berfungsi sebagai perpustakaan, tempat menyimpan kitab-kitab.

-Copper Vats (Cawan Tembaga), terdapat 308 cawan tembaga di kawasan Forbidden City, yang berfungsi sebagai alat untuk mencegah bahaya kebakaran.

Istana kuno saja menyediakan alat untuk mencegah bahaya kebakaran. Kenapa sebuah mall pada zaman modern ini masih ada yang belum menyediakan fasilitas untuk mencegah bahaya kebakaran?. Ajaib memang.

-Golden Halls, terdapat ruangan kembar berwarna keemasan, yang tidak begitu besar.  Di sebelah kiri disebut Jiangshan Dian (Hall of Land) dan di sebelah kiri disebut Sheji Dian (Hall of Country).

-Palace of Earthly Tranquillity (Kunning Gong), pada masa Dinasti Ming tempat ini dijadikan tempat untuk merayakan acara resepsi perkawinan putra-putri raja.

-Imperial Garden (Yu Hua Yuan), taman ini terletak di sebelah Utara dari Forbidden City yang terhampar di lahan seluas 11.000 meter persegi. Di taman yang asri ini tumbuh berbagai tumbuh-tumbuhan, seperti: pohon-pohon cemara dari berbagai jenis cemara, pohon-pohon dari famili cypress, pohon-pohon lianli yang unik dan pohon-pohon bambu serta berbagai tumbuhan lainnya.

Disana sini terlihat beberapa patung-patung singa yang sedang duduk dan berwarna keemasan, juga terlihat beberapa joglo-joglo kecil beratap warna kuning dan bertiang warna merah.

-Hills of Gathered Excellence (Duixiu Shan), tempat ini berada di sebelah Utara dari Imperial Garden (Yu Hua Yuan), tempat ini merupakan bebatuan yang menjulang tinggi. Di atas bebatuan ini terdapat ruangan joglo. Pada masa Dinasti Ming, tempat ini dijadikan tempat raja-raja untuk minum teh pada sore hari.

-Lianli Tress (Pohon Lianli), banyak pohon-pohon lianli yang tumbuh di Imperial Garden (Yu Hua Yuan). Bentuk pohon lianli ini agak unik, tidak seperti bentuk pohon-pohon lain umumnya. Dua batang pohon lianli yang tumbuh berdekatan akan menyatu menjadi satu dan membentuk ilusi bagaikan sepasang suami isteri yang sedang bercumbu.

Ketika aku melintas di dalam Forbidden City, aku melihat dua batang pohon lianli yang membentuk ilusi bagaikan sepasang suami isteri yang sedang bercumbu. Konon, katanya Kaisar Puyi (Dinasti Qing) pernah berfoto bersama isterinya di depan pohon lianli yang sedang bercumbu ini.

Sekarang, banyak juga pengunjung berfoto bersama pasangannya di depan pohon lianli yang sedang bercumbu ini. Paling tidak, sama dengan Kaisar Puyi yang pernah berfoto bersama dengan isterinya di depan pohon lianli yang sedang bercumbu.

Ingat Kaisar Puyi (John Lone), ingat film The Last Emperor (1987), garapan sutrada Bernardo Bertolucci yang menyabet academy award, yang mengambil setting gambar di Forbidden City.

Aku merasa letih juga menikmati sejarah peninggalan cina kuno ini. Aku melangkah dari satu tempat ke tempat lain sambil memasang kuping terang-terang untuk mendengar penjelasan dari pemandu wisata yang menjelaskan setiap apa yang aku lihat dan menjelaskan setiap apa yang aku tanyakan kepadanya. Pemandu wisata tersebut selalu menjelaskan dalam bahasa Inggeris dengan dialek Mandarin. Masih untung, kalau pemandu wisata itu menjelaskan dalam bahasa Mandarin dengan dialek Inggeris. Bagaimana?

Sejak pagi hari aku sudah berada di Forbidden City, kini arlojiku sudah menunjukkan pukul 11.12 (waktu setempat). Usus di perut sudah agak melilit, aku buka tas pinggang dan aku ambil sepotong roti untuk mengganjal usus yang melilit tadi.

Tidak lama kemudian, aku keluar dari kawasan Forbidden City dari pintu gerbang sebelah Selatan dan aku akan menyeberang melalui sub-way menuju ke Lapangan Tiananmen.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: Lapangan Tiananmen, budaya minum teh di Cina, Summer Palace, Temple of Heaven, makan siang dan makan malam di restoran muslim di Beijing, sholat Iedul Adha di mesjid Niujie, Beijing, obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Keempat

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Ketiga : Lapangan Tiananmen (Tiananmen Square)

Aku keluar dari kawasan Forbidden City dari pintu gerbang sebelah Selatan dan aku akan menyeberang dengan berjalan kaki melalui subway menuju ke Lapangan Tiananmen.

Subway menuju ke Lapangan Tiananmen merupakan terowongan panjang, namun tidak sepanjang terowongan Mina di tanah Arab sana.

Terowongan panjang menuju ke Lapangan Tiananmen kelihatan asri dan bersih. Di sepanjang terowongan tersebut ada satu dua ibu-ibu cina separuh baya mengenakan topi caping menggelar cendra mata beraneka rupa, antara lain berupa cendra mata replika forbidden city, beraneka rupa post card dan beraneka rupa barang-barang cendra mata lainnya.

Di ujung terowongan sebelah sana menuju ke Lapangan Tiananmen, beberapa orang polisi cina berdiri tegap dengan sikap sempurna lengkap dengan seragamnya. Dengan mimik yang serius polisi-polisi cina tersebut mengawal para petugas security check. Setiap pengunjung yang melintas di terowongan tersebut harus melewati security check, semua barang bawaan pengunjung harus dipindai oleh alat pemindai berupa x-ray detector.

Secara harfiah, Tiananmen berarti “Pintu Surga yang Damai”. Pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, kawasan ini merupakan pintu gerbang utama di sebelah Selatan menuju istana raja – Forbidden City (Kota Terlarang). Jadi Lapangan Tiananmen dan Forbidden City merupakan satu kawasan yang bersatu.

Saat kini, Lapangan Tiananmen terletak di seberang jalan kawasan Forbidden City, Lapangan  Tiananmen dan Forbidden City dibelah dengan jalur jalan lalu lintas yang di bawahnya terdapat terowongan panjang dari Forbidden City menuju ke Lapangan Tiananmen.

Persis di tengah-tengah bangunan pintu gerbang yang terletak di sebelah Utara Lapangan Tiananmen tersebut tergantung foto Mao Zedong dengan ukuran yang cukup besar. Di samping kiri dan kanan foto Mao Zedong  tersebut terdapat plakat bertuliskan aksara cina (chinese characters) dengan dasar berwarna merah dan tulisan berwarna putih dan di sisi atasnya, baik di sebelah kiri atas maupun di sebelah kanan atas berkibar beberapa helai bendera cina – yang berwarna merah dengan simbol satu bintang besar berwarna kuning dikepung oleh empat bintang kecil berwarna kuning juga.

“What is the meaning of those chinese characters?”, aku bertanya kepada pemandu wisata,  sambil menunjuk ke arah foto Mao Zedong dengan ukuran yang cukup besar.

“The left one means long live the people’s republic of china and the right one means long live the great unity of the world’s people”, pemandu wisata tersebut menjelaskan.

“Ohhh…., I see”,  aku berkata, seolah-olah aku mahfum atas makna penting dan maksud yang terkandung dalam plakat yang bertuliskan aksara cina tersebut.

Berada di Lapangan Tiananmen, aku teringat tragedi berdarah yang pernah terjadi pada tahun 1989 di lapangan ini.

Tragedi berdarah di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 merupakan serangkaian demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus di Beijing dan sekitarnya serta para pekerja,  yang berlangsung di Lapangan Tiananmen antara tanggal 15 April sampai dengan  4 Juni 1989.

Pada masa itu, protes mahasiswa ini ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik, kemudian merembet menjadi demonstrasi pro-demokrasi. Demonstrasi pro-demokrasi merupakan suatu hal yang tak lazim terjadi di Cina yang otoriter.

Sekelompok mahasiswa dan pekerja berkumpul di lapangan Tiananmen dan meminta untuk bertemu dengan Perdana Menteri Li Peng, namun permintaan para mahasiswa dan pekerja tersebut ditolak oleh para penguasa. Para mahasiswa melakukan mogok kuliah dan mogok makan, mereka turun ke jalan-jalan di kota Beijing. Mereka tidak menghiraukan perintah bubar yang diumumkan oleh penguasa.

Para mahasiswa dan pekerja berkumpul menjadi satu dan menjadi suatu people power dan berunjuk rasa di Lapangan Tiananmen untuk meminta pemerintah melakukan reformasi media bebas dan sebuah dialog formal antara penguasa dan wakil pimpinan mahasiswa dan pekerja.

Para penguasa menolak dialog tersebut, penguasa hanya setuju untuk berbicara dengan perwakilan mahasiswa dan pekerja yang ditunjuk oleh para penguasa.

Walaupun penguasa telah mengumumkan undang-undang darurat,  tetapi mahasiswa dan pekerja tetap melanjutkan aksi demonstrasi.

Akhirnya, para penguasa berunding untuk mengambil keputusan dan selanjutnya keluarlah perintah untuk menggunakan kekuatan militer untuk membubarkan aksi demonstrasi mahsiswa dan pekerja tersebut.

Pasukan-pasukan tentara dan tank-tank baja dikirim untuk mengendalikan situasi. Pasukan-pasukan tentara ini bentrokan dengan para mahasiswa dan pekerja di Lapangan Tiananmen.

Banyak korban yang meninggal dunia dan terluka sebagai akibat tindakan dari pasukan-pasukan bersenjata untuk membubarkan demonstrasi tersebut. Jumlah korban yang meninggal dunia dan terluka simpang siur, ada yang menyebut 800 orang terbunuh, ada yang menyebut 3.000 orang terbunuh dan ada pula yang menyebut 7.000 masyarakat sipil terbunuh.

“How many people killed and injured in Tiananmen tragedy?”, aku bertanya dengan serius kepada pemandu wisata.

“Sorry…..”, ujarnya, seolah-olah pemandu wisata tadi tidak mendengar apa yang aku tanyakan atau pemandu wisata tadi tidak dapat menangkap pronunciation yang aku ucapkan. Mungkin pemandu wisata tadi sedang berfikir dan memilih jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan yang aku ajukan, aku berbisik di dalam hati.

Aku mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada suara yang lebih keras dan mendekatkan  diri ke tempat pemandu wisata tadi berdiri.

“I  don’t know”, jawabnya ketus, sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan mata sipitnya. Mungkin pemandu wisata tadi enggan menjelaskan sejarah hitam negaranya, ia ingin menyimpan rapat-rapat dan melupakan tragedi Tiananmen yang pernah terjadi di tanah tumpah darahnya.

Aku urungkan keinginanku untuk mencecarnya dengan berbagai pertanyaan lanjutan.

Tidak lama kemudian, pemandu wisata tadi mengalihkan perhatianku, ia setengah berteriak: “Everybody let’s go, we’ll continue our trip. The driver was waiting for us, over there”,  sambil menepuk-nepuk kedua belah tangannya, bagaikan guru Taman Kanak-kanak mengajak murid-muridnya untuk bermain. Kimbeknya pemandu wisata ini, aku menggerutu di dalam hati.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: budaya minum teh di Cina, Summer Palace, Temple of Heaven, makan siang dan makan malam di restoran muslim di Beijing, sholat Iedul Adha di mesjid Niujie, Beijing, obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: Lapangan Tiananmen, budaya minum teh di Cina, Summer Palace, Temple of Heaven, makan siang dan makan malam di restoran muslim di Beijing, sholat Iedul Adha di mesjid Niujie, Beijing, obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kelima

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Keempat : Ceremony of Drinking Tea di Yi Xin Cha Yi – Beijing

“In China, hot tea is served for refreshment just as commonly coca-cola is served in America. However, a cup of hot tea may do more than just relax you. Research shows drinking tea may help prevent a wide range of ailments, such as high blood pressure, heart disease, Parkinson’s Disease and even cancer. More and more young people are beginning to drink tea, as it can also help lose weight healthily”.

(Dikutip dari buku : Discover China – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.138).

Percaya atau tidak. Menurut sejarah, tanaman teh tumbuh untuk pertama kali di Cina.

Alkisah, pada tahun 2.737 SM, ketika Kaisar Shen Nung sedang merebus air, beberapa lembar daun melayang tertiup angin kecempelung ke dalam panci air rebusan tersebut.

Sang Kaisar tertegun sejenak sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah memutih, tangan kirinya terlipat ke belakang bagian punggungnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencicipi air rebusan daun tersebut. Ternyata rasa dan aromanya sungguh enak sekali dan menyegarkan tubuh sang Kaisar.

Akhirnya sampai saat sekarang ini air rebusan tersebut dikenal sebagai minuman teh.

Tahun 1500-an sampai dengan tahun 1600-an, teh mulai dikenal di Eropa melalui misionaris Jasper de Cruz.

Pada tahun 1560, teh masuk melalui Portugal, lalu menyebar ke Prancis, Belanda, hingga negara-negara Baltik.

Pada tahun 1600-an teh mulai masuk ke Inggris dan menggantikan kebiasaan minum bir. Raja Charles IX dan istrinya Chaterine de Braganza sangat menggemari teh. Chaterine de Braganza mengawali tradisi minum teh di dalam istana kerajaan dengan mangkuk dan teko teh transparan buatan Cina.

Di Indonesia, teh mulai dikenal pada sekitar tahun 1686, ketika seorang berkebangsaan Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia dan menanam tanaman teh sebagai tanaman hias. (Informasi lebih jauh tentang sejarah teh, anda dapat berenang di lautan informasi di : http://www.id.shvoong.com).

Pada waktu aku masih kecil dulu, puluhan tahun yang lalu. Papa-ku sering mengajak aku minum liang tea  di depan Pajak Bundar Petisah, Medan, sekarang Pajak Bundar Petisah Medan sudah tidak ada lagi. Dahulu lokasi Pajak Bundar Petisah, Medan adalah persis di tempat patung Guru Patimpus (sekarang).

Kalau cuaca di sore hari cukup cerah, papaku mengajak aku untuk minum liang tea di depan Pajak Bundar Petisah, Medan. Penjual liang tea di depan Pajak Bundar Petisah, Medan adalah seorang keturunan cina yang sudah sepuh – engkong-engkong, aku menyebutnya apek-apek. Tangannya yang sudah kurus menua selalu sigap melayani setiap pembeli liang tea-nya.

Papaku dan aku berangkat ke Pajak Bundar Petisah, Medan untuk minum liang tea dengan naik kereta angin (sepeda). Aku selalu duduk di boncengan belakang dan kedua kakiku diikatkan ke batang sepeda tadi dengan saputangan dan kedua tanganku selalu memeluk pinggang papa-ku. Papaku menggowes sepeda tadi menuju Pajak Bundar Petisah, Medan.

Kedua kakiku diikatkan ke batang sepeda tadi dengan saputangan tujuannya, supaya kedua kakiku tidak masuk ke putaran jari-jari sepeda dan agar kedua kakiku tidak terluka digilas jari-jari sepeda tadi. Biasanya, sepulangnya dari minum liang tea di Pajak Bundar Petisah, Medan aku selalu tertidur di boncengan sepeda tadi.

Ketika aku terkenang dan ketika aku menulis kisah ini, aku bendung sekuat tenaga air mataku.

Banyak tersebar tempat membeli teh dan minum teh di sekitar kota Beijing, ada di: Maliandao Tea City Xuanwu District (dekat stasiun kereta api di wilayah Barat Beijing); ada di: Cha Jia Fu Teahouse di Houhai Park, Deshengmen Neidajie; ada di: Ming Hui Cha Yuan di Dajue Temple, Bei’an He, Wenquan Zhen, Haidian District; ada di: Confucian Teahouse di 28 Guozijian Jie, Andingmenwai, Dongcheng District; ada di: Tianqiao Happy Teahouse di A1 Beiwei Lu, Xuanwu District; ada di: Yi Xin Cha Yi di Chao Yang Park Road.

Karena terbatasnya waktu, aku hanya berkunjung ke Yi Xin Cha Yi untuk membeli bubuk teh dan mencoba minum teh disana.

Pemandu wisata meminta pramuniaga tempat penjualan bubuk teh dan sekaligus tempat minum teh (Yi Xin Cha Yi ) tersebut memperagakan cara membuat, menyediakan dan minum  teh (ceremony of drinking tea).

Seorang amoi cina berkulit putih, tinggi semampai, berlesung pipit, giginya putih bersih dan rapi, pipinya kemerah-merahan, hidungnya tidak terlalu mancung dan rambutnya dikepang ke belakang mengenakan longdress sutera hijau daun sampai ke batas mata kaki mulai menjelaskan dan mempraktekkan bagaimana membuat, menyediakan dan minum teh.

Amoi cina tadi menjelaskan dalam bahasa Inggeris yang cukup fasih dengan dialek Mandarin, ia dengan sabar dan serius menjawab semua pertanyaan pengunjung yang diajukan kepadanya. Sesekali ia kelihatan tersenyum dan tertawa kecil, kelihatan giginya yang putih bersih dan rapi serta kelihatan lesung pipit di kiri kanan pipinya.

Setiap pengunjung mencoba berbagai jenis teh yang dibuat dan dituang oleh si amoi cina tadi ke dalam cangkir kecil. Dengan sopan dan penuh hormat ia mempersilahkan setiap pengunjung untuk mencicipi nikmatnya aroma teh tadi.

Selepas mendengar penjelasan tentang cara membuat, menyediakan dan minum  teh (ceremony of drinking tea) dari amoi cina tadi, aku beranjak ke tempat etalase yang menjual berbagai jenis bubuk teh.

Berbagai jenis bubuk teh di pajang disini, ada jenis-jenis:

-Green tea, yang diberi nama-nama:

Monkey King (Tai Ping – Hou Kui); Dragon Well (Xi Hu – Long Jing); Green Spring Snail (Dong Tin – Bi Luo Chun); Cloud & Fog (Lu Shan – Yun Wu); Fur Peak (Huang Shan – Mao Feng); Green Bamboo Leaf (E Mei – Zhu Ye Qing); Cactus Tea (Xian Ren Zhang Cha); Pine Needle (An Hua – Song Zhen); Melon Slice (Liu An – Gua Pian);  Green Snow (Jing Ting – Lue Xue); Rain Flower (Nan Jing – Yu Hua); Melon Slice (Liu An – Gua Pian); Fur Tip (Xin Yang – Mao Jian); Green Sprout (Tian Shan – Lu Ya).

-Oolong tea,  yang diberi nama-nama:

Goddess of Mercifulness (An Xi – Tie Guan Yin); Big Red Robe (Wu Yi – Da Hong Pao); Song Species Lone Bush (Song Zhong Dan Cong); Water Fairy  (Feng Huang – Shui Xian ); Buddha’s Hand (Yong Chun – Fo Shou).

-Black tea, yang diberi nama-nama:

The name is Pu’er (Pu’er); Black Tea  (Hu Nan – Hei Cha); Old Green Leaf  (Lao Qing Ye);  Edge Tea (Xi Chuan – Bian Cha).

-Red tea, yang diberi nama-nama:

Red Tea  (Qi Men – Hung Cha); Red Tea (Ying De – Hung Cha).

-White tea, yang diberi nama-nama:

Longevity Eyebrow (Shou Mei);  White Peony (Bai Mu Dan);  Silver Needle White Fur (Yin Zhen Bai Hao)       .

-Yellow tea, yang diberi nama-nama:

Big Leaf Green (Guang Dong – Da Ye Qing);  Silver Needle (Jun Shan – Yin Zhen); Yellow Soup (Wen Zhou – Huang Tang).

-Flower tea, yang diberi nama-nama:

Jasmine (Mo Li Hua Cha);  Rose (Mei Gui Hua Cha); Gardenia (Bai Lan Hua Cha); Dragon Ball  (Long Zhu Hua Cha).

-Compressed tea, yang diberi nama-nama:

Cake Tea (Bing Cha); Tuo Tea  (Tuo Cha); Brick Tea  (Zhuang Cha).

Aku bingung dan nanar mataku melihat berbagai jenis bubuk teh yang ada di tempat etalase itu.

Akhirnya aku membeli beberapa jenis bubuk teh yang dikemas dalam sebuah bentuk kaleng dengan penjelasan ingredients beraksara cina dan aku mendapat souvenir sebuah mug untuk minum teh dari amoi cina tadi.

Aku melangkah gontai meninggalkan amoi cina tadi. Beberapa meter aku melangkah meninggalkan amoi cina tadi, aku menoleh ke belakang dan aku melihat amoi cina tadi menunduk ke arah tempat aku melangkah dan ia tersenyum sambil mengepalkan kedua belah tangannya ke depan dadanya.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: Summer Palace, Temple of Heaven,  sholat Iedul Adha di mesjid Niujie, Beijing, obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Keenam

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kelima : Mesjid Niujie, Beijing

Menjelang hari raya Idul Adha 1430 Hijriah, aku berada di negeri orang, di Beijing – Cina. Pada awalnya aku merasa gundah juga, karena pada tahun ini alamat tidak bisa mendirikan sholat sunnat Idul Adha (hari raya haji  atau hari raya qurban – orang kampungku selalu menyebutnya).

Aku hampiri sang pemandu wisata dan bertanya kepadanya.

“Where is the mosque in Beijing, we want to take a pray on the next great day?”, aku bertanya kepada pemandu wisata dengan bahasa Inggeris yang patah-patah – (poor english, ejek temanku).

“Okay, I’ll call my friend. He’s a muslim”, kata sang pemandu wisata.

“Are you muslim, too?”, aku bertanya lagi kepada sang pemandu wisata sambil berseloroh, padahal aku tahu sang pemandu wisata seorang penganut Buddha.

“No… no…no, I am a Buddhist”, jawabnya gelagapan.

Tidak lama kemudian, sang pemandu wisata mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya dan bertelepon untuk menghubungi temannya. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, aku tak tahu apa yang ia ucapkan. Sesekali sang pemandu wisata mengucapkan, “okay…. okay”, dengan nada serius. Hanya itu yang aku tahu – aku menyesal tidak belajar bahasa Mandarin sewaktu masih muda dulu. Biasanya penyesalan itu datangnya terlambat.

Pemandu wisata tersebut memberitahukan kepadaku bahwasanya, aku dan rombongan akan melaksanakan sholat sunnat Idul Adha di mesjid Niujie, Beijing pada hari Sabtu (28 November 2009), pukul 10.00 pagi – waktu di Beijing.

“Why on Saturday, not on Friday November 27th?”, aku bertanya lagi kepada sang pemandu wisata.

“In my country on Friday”, imbuhku, menegaskan. Aku melihat terbersit kebingunan di wajah sang pemandu wisata tadi.

“Okay, I’ll check again”, ujar sang pemandu wisata dan ia kembali menelpon teman muslimnya dan ia berbicara dalam bahasa Mandarin.

Setelah sang pemandu wisata melipat flip handphonenya, ia berkata sambil melihat fokus ke arah arlojinya yang terpasang di pergelangan tangannya sebelah kiri. “I’m sure on Saturday at ten, at this local time”, ujarnya.

Pukul 9.34 – waktu di Beijing, aku dan rombongan tiba di depan mesjid Niujie, Beijing. Sang pemandu wisata tetap berdiam diri di dalam bus yang aku tompangi yang diparkir di depan mesjid Niujie, Beijing.

Tiba di pelataran mesjid Niujie, Beijing. Aku mengarahkan mata kameraku ke arah prasasti  yang terdapat di samping mesjid tersebut. Prasasti tersebut ditulisi dengan aksara cina dan aksara latin. Aksara latin tersebut berbunyi, sebagai berikut :

A Brief Introduction for Niujie Mosque.

The magnificent Niujie Mosque is the oldest and the largest mosque in Beijing area, also one of the famous mosques in the world. It is originally built in 996 AD that initiated by an Arabic scholar Nasuruddin. The  mosque was named as “Libaisi” by the emperor in 1474. The mosque has a strictly central axel balanced layout covering near 10,000 square meters area and becomes a Chinese royal palace flavor.

Refurbishments have been implemented for Niujie Mosque under 4 large scale government invested projects since new China founded in 1949. And Niujie Mosque is reserved as the Key Point of Cultural Heritage & Relic under the State – Level Protection by the State Council since Jan 13, 1988.

Mesjid Niujie, Beijing terletak di kawasan Xuanwu, tidak begitu jauh dari kawasan  Forbidden City (Kota Terlarang). Mesjid ini merupakan mesjid yang terbesar dan tertua di Beijing, mesjid ini didirikan pada tahun 996 M – pada saat Dinasti Liao bertakhta (tahun 916 – 1125).

Arsitektur mesjid ini  perpaduan antara arsitektur Arab dan Cina kuno yang penuh dengan pernik-pernik yang bernuansa Islami dengan beraneka warna yang sangat mencolok mata.

Kalau seandainya tidak ada menara kubah mesjid ini, aku menyangka gedung bangunan ini adalah gedung bangunan kelenteng, bukan mesjid.

Menurut berita, pada hari Sabtu, 28 November 2009 lebih dari enam  ribu ummat Islam di Cina dan dari luar negeri Cina yang berkunjung ke Cina berkumpul di  mesjid Niujie, Beijing untuk merayakan hari raya qurban.

Setelah aku berdesak-desakan di ruangan mengambil wudhu’, aku dan rombongan hanya dapat tempat shaf untuk mendirikan sholat di pelataran parkir mesjid tersebut. Aku dan rombongan dan beberapa orang jemaah yang akan sholat sudah dilarang  masuk ke dalam ruang utama mesjid tersebut, karena di dalam ruang utama mesjid tersebut sudah penuh sesak dengan jemaah dari berbagai negara yang akan mengikuti sholat sunnat Idul Adha.

Aku duduk bersimpuh berdampingan dengan seorang jemaah pria berperawakan cina. Aku ucapkan salam dan aku jabat tangannya. Kami bercakap-cakap sebentar menunggu masuknya waktu sholat sunnat Idul Adha, tepat pukul 10.00 pagi – waktu di Beijing.

Jemaah pria yang duduk di sebelahku, ternyata seorang warga negara Turki. Ia, bapak ibunya dan kakeknya sudah lahir dan besar di negeri Cina, tetapi ia tetap sebagai warga negara Turki. Ia adalah seorang dosen di salah satu universitas di Beijing, ia mengajar mata kuliah bahasa Inggeris.

Ia berkomunikasi denganku dengan bahasa Inggeris yang sangat fasih. Aku agak malu juga berkomunikasi lebih lanjut dengannya.

“I’m sorry my english not so good. I speak english just a little bit”, aku selalu mengulang-ulang kalimat ini, ketika berkomunikasi dengannya. Namun, ia tetap tersenyum ramah kepadaku.

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara azan dikumandangkan oleh muazin dengan nada suara dan lafaz yang masih asing di telingaku. Berbeda dengan nada suara dan lafaz azan yang pernah aku dengar selama ini.

Setelah azan selesai dikumandangkan oleh muazin, para jemaah berdiri tegak semuanya. Imam mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali takbir. Selanjutnya imam membaca surat Al Fatihah dan membaca surat Ad-Dhuha. Kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku’,  i’tidal, sujud, dan seterusnya).

Pada raka’at kedua, ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua, sang imam langsung membaca surat Al Fatihah dan membaca surat Al-Kautsar dan sebelum ruku’, imam mengucapkan takbir sebanyak lima kali takbir. Kemudian melakukan gerakan ruku’, i’tidal, sujud, dan seterusnya, sampai salam).

Selesai salam, khotib berkhutbah dalam bahasa Arab dengan nada suara dan lafaz yang masih asing di telingaku.

Rombonganku berbisik-bisik mempermasalahkan tata cara sholat sunnat Idul Adha yang dilakukan oleh imam tadi. Lama kelamaan suara mereka semakin gaduh. Seorang mengatakan sah, seorang lagi mengatakan tidak sah sholat sunnat Idul Adha tadi.

“Kalian bisa tenang, nggak. Aku lagi khusu’ mendengar khotbah ini”, kataku, sedikit berlagak dan menegur mereka.

Salah seorang dari mereka menjawab: “Kayak ngerti aja, belagu luh….”.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: Summer Palace, Temple of Heaven, obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Ketujuh

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Keenam : Summer Palace

Tak banyak yang dapat aku ceritakan tentang Summer Palace di Beijing.

Aku tiba di tempat ini di akhir bulan November 2009, di kala musim dingin sedang menerpa kota Beijing dan sekitarnya.

Summer Palace terletak di sebelah barat laut pusat kota Beijing. Banyak jalan yang dapat ditempuh menuju ke Summer Palace, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum.

Di kawasan Summer Palace terhampar luas sebuah danau yang sangat indah, bersih dan asri -Danau Kunming. Arus bawah air di Danau Kunming sebenarnya menyatu dengan arus bawah air Danau Barat di daerah Hangzhou.

Aku tiba di tepi Danau Kunming di kawasan Summer Palace pada saat hari telah senja, pada saat sang surya menjelang akan tenggelam di ufuk barat.

Suasana sunset di tepi Danau Kunming alangkah indahnya. Maha besar Allah atas segala ciptaanNya.

Senja itu, memang pengunjung tidak begitu ramai mengunjungi tempat ini, maklum karena pada saat ini musim dingin, bukan musim panas (summer).

Aku melihat beberapa unit boat tertambat rapi di tepi danau, tidak kelihatan siapa pemilik boat-boat tersebut. Dedaunan pohon cemara kelihatan layu tidak segar dan digelayuti oleh butiran-butiran salju putih dan butiran-butiran salju putih tersebut sesekali terbang menerpa bumi diterpa angin dari arah tengah danau.

Aku juga tidak melihat angsa-angsa putih. Di kala musim panas angsa-angsa putih tersebut berenang  kian kemari, bersenda gurau dengan angsa-angsa putih lainnya. Saat ini angsa-angsa putih tersebut bersembunyi di tempat lain, entah dimana, untuk mencari kehangatan, karena musim dingin telah tiba.

Seandainya aku tiba di tempat ini di kala musim panas, pasti tempat ini kelihatan lebih indah lagi, sayang seribu kali sayang, aku tiba di tempat ini pada saat musim dingin telah tiba – November 2009.

+++

Ketujuh : Temple of Heaven

Kawasan Temple of Heaven terletak di sebelah tenggara dari pusat kota Beijing, di bilangan Xuanwu District.

Pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, tempat ini acap kali dikunjungi oleh raja-raja pada masa dinasti tersebut. Paling tidak sekali dalam setahun raja-raja pada masa itu memberikan persembahan (pengorbanan) setelah masa panen selesai. Hal ini dipercayai oleh raja-raja pada masa dinasti tersebut sebagai ucapan syukur atas panen yang diperoleh pada tahun itu.

Pemandu wisata menceritakan kepadaku bahwa, pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, semua raja-raja dan rakyatnya percaya bahwa tempat tersebut merupakan tangga menuju ke sorga (stairway to heaven).

“Nowadays, where is stairway to heaven”, aku bertanya kepada sang pemandu wisata sambil berseloroh.

“In your heart”, jawabnya berfalsafah, sambil tersenyum kepadaku.

Ketika sang pemandu wisata mengajakku untuk naik dan masuk ke dalam Temple of Heaven, aku menolak dengan alasan aku sudah letih sekali.

Aku hanya membidikkan mata kameraku ke arah gedung bangunan Temple of Heaven dari berbagai angle.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: obat-obatan cina, batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kedelapan

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kedelapan : Tong Ren Tang (Produsen obat-obatan tradisional cina)

Kalau anda akan bepergian ke negeri yang sedang mengalami musim dingin, sebaiknya anda terlebih dahulu disuntik dengan vaksin flu, seminggu sebelum berangkat ke negeri tersebut,  demikian anjuran seorang dokter.

Aku mengikuti anjuran dokter tersebut. Untuk itu aku mendatangi salah satu rumah sakit di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta untuk mendapatkan suntikan vaksin flu tersebut.

Ternyata, persediaan ampul vaksin flu di rumah sakit tersebut sudah habis, dengan alasan vaksin flu tersebut sudah banyak digunakan pada saat menjelang keberangkatan jemaah calon haji, beberapa minggu yang lalu. Demikian penjelasan yang aku peroleh dari petugas rumah sakit tersebut.

Akhirnya, aku mendapatkan juga suntikan vaksin flu tersebut dari salah seorang dokter yang praktek di rumah sakit di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta tersebut, setelah wara wiri kesana dan kemari.

Aku mendatangi rumah kediaman dokter tersebut, dokter tersebut praktek juga di rumahnya. Aku disuntik dengan vaksin flu di tempat praktek dokter tersebut di rumahnya. Biaya penggantian ampul vaksin flu tersebut aku bayar sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Ketika wara wiri mencari vaksin flu tersebut, ada juga hikmahnya. Aku memperoleh informasi dari hasil beramah-ramah dan bercakap-cakap dengan seorang dokter di rumah sakit yang aku datangi.

Aku mendapat informasi dari seorang dokter bahwa, jika di Beijing nanti ditawarkan untuk membeli obat-obatan dari Cina, haruslah berhati-hati. Seorang dokter mewanti wanti diriku.

Pengalaman keluarga dokter tersebut.

Ketika mereka berlibur ke Beijing, keluarga dokter tersebut ditawarkan oleh tabib di Beijing sana berbagai obat-obatan cina. Keluarga dokter tersebut tertarik untuk membeli obat-obatan tersebut, harganya sampai puluhan juta rupiah.

Setiba di tanah air, keluarga dokter tersebut  melakukan analisis terhadap obat-obatan cina yang mereka beli di Beijing tersebut di salah satu laboratorium obat-obatan di Jakarta. Ternyata obat-obatan tersebut palsu dan kandungan yang terdapat  dalam obat-obatan tersebut memang tidak berbahaya, namun tidak berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Memang, pengobatan tradisional cina sudah termasyhur ke seantero dunia, baik ke belahan dunia Timur maupun ke belahan dunia Barat sana.

Menurut berita, pada tahun 2007 didirikan Universitas Traditional Chinese Medicine (TCM) di Hamburg (Jerman).

Pengobatan tradisional cina banyak disukai para pasien, karena biayanya murah dan mereka percaya bahwa obat-obatan cina tidak memiliki efek sampingan.

Pengobatan tradisional cina dan ilmu kedokteran cina sudah ada sejak  3.000 tahun yang lampau. Kitab tentang pengobatan cina yang tertua adalah kitab “Huang Di Nei Jing”. Dalam kitab tersebut dijelaskan berbagai prinsip dasar seni pengobatan tradisional cina.  Kitab tersebut disusun oleh  Chin Po (Qibo) pada masa Kaisar Huang Ti bertakhta. Kitab “Huang Di Nei Jing” sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Setelah aku letih mengelilingi Forbidden City dan Lapangan Tiananmen, aku menuju ke sebuah tempat – kantor pusat perusahaan farmasi: Tong Ren Tang.

Tong Ren Tang  adalah sebuah perusahaan farmasi berdiri sejak tahun 1669 dan bergerak dalam bidang produksi, distribusi dan retail obat-obatan tradisional cina. Kantor pusatnya di Beijing ini, tempat yang sedang aku kunjungi.

Pada tahun 1669, di masa Dinasti Qing berkuasa, Tong Ren Tang didirikan oleh Yue Xianyang, seorang tabib kerajaan. Pada tahun 1702, perusahaan ini dipindahkan ke pusat kota Beijing dan perusahaan ini telah beroperasi sejak tahun 1723 sebagai pemasok obat-obatan herbal kepada Kaisar  Yongzheng pada masa Dinasti Qing.

Dari tahun ke tahun, perusahaan ini terus berkembang dan mengembangkan produknya serta  berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan farmasi di dunia.

Sampai saat kini sudah 340 tahun perusahaan farmasi Tong Ren Tang masih tetap eksis dan mempunyai beberapa cabang di beberapa negara, termasuk di Jakarta.

Aku masuk ke dalam gedung kantor pusat Tong Ren Tang dan resepsionis perusahaan tersebut mempersilahkan aku untuk masuk ke sebuah ruangan yang bersih dan terkesan sebagai ruangan pasien yang akan didiagnosa oleh seorang dokter.

Di dalam ruangan tersebut sudah tersedia secangkir teh hangat dan kursi-kursi yang disandarannya tergantung sebuah handuk besar berwarna putih bersih. Aku teguk secangkir teh hangat tadi dan aku rebahkan tubuhku ke atas kursi tadi. Di bawah kursi tadi terdapat sebuah wadah yang berisi air hangat suam-suam kuku.

Tidak lama kemudian datang seorang anak laki-laki cina berseragam putih – putih menghampiri diriku yang sedang merebahkan tubuh di atas kursi tadi. Dengan bahasa isyarat ia meminta aku untuk membuka sepatuku dan mencelupkan sepasang kakiku ke dalam wadah yang berisi air hangat suam-suam kuku tadi. Kemudian anak laki-laki cina tadi memijat sepasang kakiku. Seperti reflexology, layaknya.

Sepuluh menit kemudian, ketika anak laki-laki cina tadi memijat sepasang kakiku, seorang pria cina berusia kurang lebih 60 tahun datang dan masuk ke dalam ruangan, dimana sepasang kakiku sedang dipijat oleh anak laki-laki cina tadi.

Pria cina tadi mengenakan jubah putih, layaknya bagaikan seorang dokter. Ia menyapa, mengucapkan salam dan memperkenalkan siapa dirinya dengan bahasa Indonesia yang boleh dikatakan cukup lancar, jika tidak boleh dikatakan fasih.

Selanjutnya ia menceritakan dan menjelaskan sejarah panjang perusahaan Tong Ren Tang ditimpali dengan  promosi tentang obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan Tong Ren Tang.

Ia juga menjelaskan sebuah bagan (chart) yang tertera di dinding ruangan tersebut.  Bagan  yang tertera di dinding ruangan tersebut menggambarkan tentang hubungan antara lima elemen (kayu, api, tanah, metal dan air) dan organ-organ manusia serta perasaan dan emosi manusia ditinjau dari sudut kesehatan. Semua penjelasannya dalam bahasa Indonsia yang cukup lancar.

Selanjutnya, pria cina tadi menghampiri diriku dan ia duduk dengan tenang di sebelahku. Ia memeriksa denyut nadiku dengan memegang urat nadiku di pergelangan tangan. Kemudian ia memintaku untuk menjululurkan lidahku.  Ia memperhatikan dengan tekun dan seksama ke arah lidahku yang sedang menjulur keluar, layaknya seorang dokter yang sedang mendiagnosa keluhan pasien.

Selanjutnya, ia menyebutkan sesuatu jenis penyakit yang sedang aku derita dan menuliskan resep yang harus aku tebus untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Aku terima resep tersebut, namun resep tersebut tidak pernah aku tebus.

Aku teringat wanti-wanti yang pernah disampaikan oleh seorang dokter di tanah airku.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: batu giok dan mutiara dari Beijing, museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kesembilan

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kesembilan : Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery

Sudah pasti, batu giok identik dengan Cina dan batu giok identik pula dengan perhiasan. Tentu, perhiasan identik dan melekat pada wanita.

Batu giok (jade) adalah sejenis batu permata yang mengandung berbagai unsur mineral yang ditemukan dan digunakan oleh ummat manusia, khususnya di belahan dunia timur selama beribu-ribu tahun lalu. Batu giok banyak ditemukan di wilayah negara Cina dan Burma.

Batu giok disamping dikenal sebagai perhiasan (accessories), juga dikenal sebagai batu yang dapat menjaga kesehatan seseorang. Wallahu a’lam.

Orang banyak percaya bahwa, batu giok dapat  digunakan untuk meningkatkan sirkulasi darah, menangkal penuaan dini, meningkatkan kekebalan tubuh dan menghilangkan rasa letih. Selain itu berdasarkan penelitian bahwa, batu giok mengandung berbagai elemen penting seperti kalsium, potasium, besi dan magnesium.

Batu giok dapat dibentuk menjadi berbagai bentuk (model) sesuai keinginan atau sesuai pesanan, tergantung pada saat batu giok tersebut diasah atau dibentuk.

Batu giok dapat diasah atau dibentuk dengan berbagai ukuran, mulai dari seukuran meja, seukuran patung besar hingga patung kecil, liontin, anting, cincin hingga sebesar kancing. Bentuknya juga bermacam-macam, mulai dari yang berbentuk patung Buddha, patung naga dan patung lainnya, juga berbentuk kotak, lonjong, oval, persegi tiga hingga persegi banyak. Selain bentuknya, warna dari giok pun beraneka ragam, mulai dari putih, kuning, merah hingga yang paling populer berwarna hijau.

Tidak jarang aku melihat, wanita-wanita cina mengenakan gelang di pergelangan tangannya berupa gelang perhiasan yang terbuat dari batu giok. Semakin banyak dan semakin tinggi kualitas gelang batu giok yang dikenakan oleh wanita-wanita cina tersebut, maka semakin tinggi pula status sosialnya.

Dimana “sarang” tempat pengasahan, pembuatan, pameran dan penjualan batu-batu giok di Beijing?. Tak lain dan tak bukan tempatnya di  Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery.

Sebelum pengunjung (wisatawan) menuju ke Great Wall, biasanya para wisatawan mampir terlebih dahulu di Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery. Jarak tempuh dari Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery ke Great Wall tidak begitu jauh dan arah jalannya searah pula.

Mungkin untuk tujuan efisiensi waktu, para pemandu wisata biasanya selalu mengajak para pengunjung untuk mampir ke Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery sebelum ke Great Wall.

Ketika aku tiba di Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery, aku disambut oleh seorang wanita cina separuh baya. Sambil tersenyum ramah wanita cina tadi mengajak aku untuk menyaksikan bagaimana proses pembuatan atau pengasahan suatu model atau bentuk batu giok (produk akhir). Dari bonggolan-bonggolan batu giok yang masih mentah (bahan baku) menjadi ukiran batu giok yang berbentuk satu model tertentu (barang jadi atau produk akhir).

Aku menjadi teringat tentang mata kuliah  “Cost Accounting” yang pernah aku pelajari dahulu di bangku kuliah – tentang process costing suatu produk tertentu. Mungkin mereka menerapkan process costing method dalam menghitung harga pokok produk batu giok ini, fikirku dalam hati.

Proses pembuatan model atau bentuk batu giok ini, dimulai dari memotong-motong bonggolan-bonggolan batu giok dalam ukuran relatif  besar sampai dengan pengasahan atau penghalusan model atau bentuk batu giok yang menghasilkan berbagai bentuk produk akhir.

Aku melihat beberapa orang pria dan wanita separuh baya sedang mengerjakan proses pembuatan bentuk atau model batu giok. Mereka bekerja dengan tekun dan tertib. Aku tidak melihat mereka bercakap-cakap satu sama lain.

Sesi berikutnya, wanita cina separuh baya yang menyambutku tadi menjelaskan bagaimana caranya untuk membedakan mana batu giok yang asli dan mana pula batu giok yang palsu.

Wanita cina separuh baya tadi menunjukkan kepadaku dua bentuk gelang batu giok berwarna hijau dengan bentuk dan model yang persis sama.

“Can you guess, which one is the origin?”, wanita cina separuh baya tadi bertanya kepadaku sambil memperlihatkan dua bentuk gelang batu giok berwarna hijau tadi kepadaku. Satu bentuk gelang batu giok diletakkannya di atas telapak tangannya sebelah kanan dan satu lagi diletakkannya di atas telapak tangannya sebelah kiri.

“This one”, kataku singkat sambil menunjuk satu bentuk gelang batu giok yang terdapat di atas telapak tangannya sebelah kanan.

“Excellent”, katanya memuji, sambil tersenyum kepadaku.

“It’s only by chance”, kataku menimpali sambil merendahkan hati.

Selanjutnya, wanita cina separuh baya tadi menjelaskan, paling tidak ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk membedakan mana batu giok yang asli dan mana yang palsu.

Aku memperhatikan dengan seksama wanita cina separuh baya tadi menjelaskan dan mempraktekkan bagaimana untuk membedakan mana batu giok yang asli dan mana yang palsu.

Sesi berikutnya, wanita cina separuh baya tadi mempersilahkan aku untuk melihat ratusan, bahkan mungkin ribuan bentuk batu giok yang ada di  ruang pamer (show room) koleksi batu giok yang ada di Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery. Mulai dari bentuk yang teramat kecil sampai dengan replika sebuah kapal yang semuanya terbuat dari bahan batu giok.

Aku  berkeliling-keliling di ruang pamer koleksi batu giok di Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery. Aku hanya tertarik dengan bentuk replika kapal yang terbuat dari bahan batu giok. Mungkin ini replika kapal Laksamana Cheng Ho yang kesohor itu, fikirku dalam hati.

Aku meninggalkan Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery dan aku sudah tidak sabar untuk tiba di Great Wall yang melegenda itu.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: museum sutera di Beijing, menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kesepuluh

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kesepuluh: Beijing Dong Wu Silk Museum dan Bang Fu Chun Pearl Store

-Beijing Dong Wu Silk Museum

Menurut legenda, sekitar 5.000 tahun lalu seorang putri raja sedang berjalan-jalan makan angin di taman bunga sebuah kerajaan, tiba-tiba ada sesuatu benda jatuh ke dalam cangkir tehnya, ternyata benda tersebut adalah seutas benang yang lebih berharga daripada emas dan batu giok. Benang itu adalah sutra (silk).

Memang luar biasa, sutra yang indah serta sejarah panjang yang menyertai perjalanannya. Sutra berasal dari binatang kecil, disebut ulat sutra. Ngengat ulat sutra ini menghasilkan beberapa ratus telur ulat sutra yang menetas menjadi ulat-ulat sutra yang kecil yang memakan dedaunan mulberry. Setelah 50 hari ulat-ulat sutra kecil ini memakan dengan rakus dedaunan   mulberry, maka ulat-ulat sutra kecil ini tumbuh menjadi sepuluh ribu kali lipat dari beratnya semula. Pada tahap ini 25 prosen dari berat tubuh mereka merupakan kelenjar sutra.

Dalam proses, ulat-ulat sutra ini tumbuh menjadi ngengat ulat-ulat sutra dewasa, mereka membuat kepompong dari satu helai benang sutra yang panjangnya dapat mencapai sampai seribu meter. Maha besar Allah atas segala ciptaanNya.

Kekuatan dan kilauan serat sutra, membuat benang ini selalu dicari-cari orang banyak. Selama lebih dari 5.000 tahun, ummat manusia membangun kekayaan dan kerajaan besar dari  perdagangan benang halus ini – benang sutra. Jalur gurun pasir yang dulu pernah dilalui para pedagang benang sutra untuk berniaga benang sutra dengan mengendarai unta-unta yang selalu tahan terhadap haus dan dahaga, disebut sebagai jalur sutra (silk-road).

Pada zaman dahulu, jalur sutra di Cina dikenal dengan jalur yang membelah gurun pasir yang terluas di negeri Cina – gurun pasir Taklamakan. Taklamakan mempunyai arti, ”Jika kau masuk, kau takkan pernah keluar”. Gurun pasir yang tandus ini sangat terik, tiupan angin yang sangat tajam mengandung butiran-butiran pasir, sungguh sangat tidak bersahabat.

Para pedagang yang berniaga benang sutra mempertaruhkan nyawanya untuk melalui jalur sutra ini menuju ke wilayah Asia Tengah atau tempat-tempat lain untuk menjual benang sutra. Banyak para pedagang benang sutra yang meregang nyawa di tengah-tengah gurun pasir ini.

Para pedagang benang sutra ini melakukan perjalanan yang sangat ekstrim, mereka melalui  wilayah yang paling terburuk yang ada di permukaan bumi. Perjalanan dimulai dengan melalui bukit-bukit pasir yang sangat tinggi dengan terpaan angin kencang yang datang dari arah barat membawa butiran-butiran pasir yang sangat tajam. Butiran-butiran pasir yang sangat tajam ini membentuk tembok-tembok pasir yang tingginya dapat mencapai lebih dari 500 meter.

Para pedagang benang sutra ini memanfaatkan binatang unta sebagai alat transportasi, karena hanya binatang unta ini saja yang mampu menaklukkan bukit-bukit pasir yang sangat mengerikan ini dan binatang unta mempunyai kemampuan unik untuk tetap bertahan hidup di jalur sutra ini.

Telapak kaki unta yang lebar membantu sang unta untuk tidak tenggelam di hamparan butiran-butiran pasir yang ada di gurun pasir tersebut.  Hidung unta dapat melembabkan udara gurun pasir yang kering pada saat ia menghirup udara dan hidung unta segera mengering pada saat ia membuang nafas. Unta dapat menyimpan persediaan air di dalam tubuhnya untuk menetralisasi suhu tubuhnya. Bulu unta yang tebal dapat menghangatkan tubuhnya pada malam hari dan memantulkan teriknya sinar matahari pada siang hari. Suhu tubuhnya dapat naik seketika hingga enam derjat Celsius, sebelum ia berkeringat.

Dengan kemampuan unik seperti tersebut, binatang unta dapat beradaptasi, sehingga ia dapat berjalan berhari-hari tanpa minum dari satu oase ke oase berikutnya. Jika ia tiba di satu oase, unta dapat meminum air hingga 60 liter dalam 10 menit.

Cara mendapatkan benang sutra mentah sebagai bahan baku sampai saat kini belum berubah, sejak benang sutra ditemukan. Kepompong ulat sutra yang sudah dikumpulkan dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih, agar kepompong-kepompong ulat sutra tersebut bisa terurai.  Kepompong-kepompong ulat sutra yang sudah terurai tersebut digulung sedemikian rupa menjadi benang sutra mentah, kemudian dilakukan pemintalan dan pewarnaan.

Dahulu kala proses ini masih dilakukan dengan tenaga manusia, tetapi saat kini sudah dilakukan secara mekanis.

Sejarah kejayaan perdagangan sutra di Cina ternyata berakhir juga. Berabad-abad  bangsa cina menyimpan rapat-rapat rahasia kejayaan perdagangan sutra ini, akhirnya berakhir juga, ketika seorang putri raja menyelundupkan telur ulat sutra keluar Cina, demikian menurut kisah legenda.

Ketika aku mengunjungi Beijing Dong Wu Silk Museum yang terletak di No. 1, Anding Road – Beijing, aku memperhatikan diorama tentang jalur sutra yang terukir cantik di beranda gedung Beijing Dong Wu Silk Museum.

Di sisi lain – masih di beranda Beijing Dong Wu Silk Museum, aku memperhatikan foto-foto beberapa orang kepala negara sedang berpose bersama mantan Presiden Cina, Jiang Zemin mengenakan pakaian khas cina yang terbuat dari bahan kain sutra, termasuk foto mantan Presiden RI, Megawati yang sedang mengenakan gaun bercorak khas cina yang juga terbuat dari bahan kain sutra.

Sebelum aku masuk ke ruang pamer (show room) koleksi kain-kain sutra yang ada di Beijing Dong Wu Silk Museum, seorang pria cina yang necis, mengenakan celana hitam pekat dan kemeja putih serta berdasi terbuat dari bahan kain sutra menceritakan dan menjelaskan panjang lebar tentang jalur sutra dan proses pembuatan kain sutra. Sesekali jari telunjuknya menunjuk ke arah diorama jalur sutra tadi, yang terdapat di beranda gedung Beijing Dong Wu Silk Museum.

Aku masuk ke ruang pamer di Beijing Dong Wu Silk Museum dan berkeliling-keliling sebentar di ruang pamer tersebut.

Entah kenapa, aku tidak begitu tertarik dengan kain sutra, sementara pengunjung lain dalam satu rombongan, terutama kaum ibu berlama-lama di ruang pamer  Beijing Dong Wu Silk Museum tersebut.

Aku keluar dari ruang pamer Beijing Dong Wu Silk Museum menuju ke beranda Beijing Dong Wu Silk Museum. Di sebelah luar, di depan beranda tersebut ada bangku yang terbuat dari kayu dengan ukiran khas cina. Aku duduk disitu dan aku keluarkan sebatang rokok yang aku bawa dari tanah air. Aku hisap dalam-dalam sebatang rokok tadi sambil menikmati sejuknya suhu udara di depan beranda Beijing Dong Wu Silk Museum tersebut, sambil menunggu pengunjung lain dalam satu rombongan keluar dari ruang pamer Beijing Dong Wu Silk Museum.

-Bang Fu Chun Pearl Store

Tak banyak yang dapat aku ceritakan tentang Bang Fu Chun Pearl Store.

Bang Fu Chun Pearl Store letaknya tidak jauh dari Summer Palace, aku berjalan kaki dari kawasan Summer Palace menuju ke Bang Fu Chun Pearl Store.

Bang Fu Chun Pearl Store adalah sebuah toko yang khusus menjual perhiasan-perhiasan dari mutiara. Mulai dari perhiasan batu cincin, mainan liontin, mata-mata gelang dan perhiasan-perhiasan lainnya.

Memang, aku bukan seorang ahli dalam menilai barang-barang perhiasan, terutama perhiasan-perhiasan yang terbuat dari mutiara.

Secara kasat mata, keindahan mutiara-mutiara yang ada di toko ini tidak kalah indahnya dengan mutiara-mutiara yang dibudidayakan dan dihasilkan di tanah air – di Propisni Maluku sana.

Aku menjadi  teringat waktu aku pernah bertugas di Ambon, Propinsi Maluku.

Kota Dobo, adalah sebuah kota kecil di wilayah Maluku Tenggara, tempat penghasil mutiara terbesar di Propinsi Maluku.

Kerang mutiara dibudidayakan dan diusahakan di dasar laut di pinggir kota Dobo. Setiap hari kerja, para pekerja disana harus melepaskan pakaiannya sebelum bekerja dan diganti dengan  seragam yang telah disediakan oleh perusahaan penghasil mutiara tersebut.

Jika sore hari telah tiba, setelah para pekerja selesai bekerja, para pekerja tersebut digeledah sekujur tubuhnya, untuk menentukan apakah mereka ada menyembunyikan/mengantongi butir-butir  mutiara tersebut. Hal ini merupakan salah satu sistem pengendalian untuk pengamanan terhadap mutiara-mutiara yang indah tersebut dan mutiara-mutiara tersebut memiliki nilai yang cukup mahal.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain  tentang: menonton kung fu legend dan china acrobatics, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Kesebelas

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Kesebelas: Kung Fu Legend di Red Theatre dan China Acrobatics di Tiandi Theatre – Beijing

Pada saat musim dingin, suhu udara di kota Beijing pada saat malam hari teramat sejuk, menusuk-nusuk sampai ke tulang sum-sum.

Tidak banyak kegiatan yang dapat aku lakukan ketika malam hari tiba. Aku bergulung di balik selimut tebal di kamar hotel, untuk menyimpan tenaga, agar lebih segar lagi untuk beraktivitas di siang hari.

Aku keluar di malam hari, hanya pada saat menonton pertunjukan  Kung Fu Legend di Red Theatre – Beijing dan pertunjukan China Acrobatics di Tiandi Theatre – Beijing

– Kung Fu Legend

Film-film Kung Fu pernah populer di Indonesia di era tahun 70-an. Ingat? Salah seorang  aktor film Kung Fu yang sangat diminati kala itu adalah Fu Sheng. Aktor kelahiran Hong Kong tersebut membintangi sejumlah film Kung Fu, seperti : Heroes Two, Five Shaolin Masters, Shaolin Temple dan Brave Archer. Film-film ini diproduksi oleh Shaw Brothers Studio, yang bermarkas di Hong Kong.

Selain Fu Sheng, ada bintang film Kung Fu yang legendaris. Siapa lagi, kalau bukan Bruce Lee.  Film-film yang dibintangi oleh Bruce Lee juga laris manis diputar di gedung-gedung  bioskop di Indonesia. Sayang, kedua bintang film itu, mati di usia muda.

Bus-bus yang mengangkut wisatawan mancanegara sudah memenuhi lahan parkir Red Theatre yang terletak di 44 Xingfu Avenue Chongwen District, Beijing. Para wisatawan mancanegara tersebut dengan mengenakan  baju hangat lengkap, turun satu per satu dari pintu bus menuju ke lobby gedung Red Theatre.

Dari dalam ruang pertunjukan di Red Theatre terdengar suara alunan musik. Tentu, musik tradisional cina.

Untuk menonton pertunjukan Kung Fu Legend di Red Theatre, setiap pengunjung harus merogoh koceknya untuk memperoleh tiket masuk. Harga tiket masuk mulai dari ¥150 sampai dengan ¥550, tergantung di zona mana kursi dipesan.

Kalau di back zone, harganya ¥150; di middle zone, harganya ¥240; di front zone, harganya ¥320; di VIP zone, harganya ¥550 (kurs tengah BI per tanggal 25 November 2009,  ¥1 setara dengan Rp1.385,58 – sumber data: www.ortax.org).

Aku digiring oleh sang pemandu wisata untuk masuk ke ruang pertunjukan. Aku melihat ia bercakap-cakap sebentar dengan dua orang perempuan cina muda yang mengenakan gaun merah sampai batas ke mata kaki di depan pintu masuk ruang pertunjukan.

Sang pemandu wisata menunjukkan tiket masuk kepada salah seorang perempuan cina muda tadi.

Kedua orang perempuan cina muda tadi mempersilahkan aku untuk masuk ke ruang pertunjukan. Aku diantar oleh sang pemandu wisata sampai ke tempat aku duduk untuk menonton pertunjukan Kung Fu Legend di Red Theatre. Sang pemandu wisata menunggu di luar gedung Red Theatre.

Tepat pukul 19.30 waktu di Beijing, pertunjukan Kung Fu Legend di Red Theatre dimulai. Pertunjukan Kung Fu Legend, terdiri atas tujuh adegan (scene).

Scene 1:

Seorang biarawan (monk) muda diantar oleh sang ibu ke sebuah padepokan, biarawan muda ini bernama Chun Yi. Ia diserahkan ibunya kepada seorang guru (old master) di padepokan tersebut.

Scene 2:

Chun Yi belajar ilmu Zen dan Kung Fu dengan tekun dan ia selalu bekerja keras. Dalam adegan ini Chun Yi tumbuh menjadi pria dewasa.

Scene 3:

Chun Yi dewasa membentuk fisiknya dengan berlatih berbagai jurus-jurus Kung Fu. Dalam adegan ini dipertunjukkan bagaimana jurus-jurus Kung Fu dipelajari dan dilatih.

Scene 4:

Chun Yi dewasa membentuk mentalnya menjadi seorang Buddhist yang taat. Gurunya memberikan petuah-petuah kepada Chun Yi untuk menghadapi segala problema yang akan dihadapinya nanti di tengah-tengah masyarakat.

Scene 5:

Chun Yi gagal membentuk mentalnya, godaan-godaan duniawi mempengaruhi hidupnya, terutama godaan-godaan yang datang dari lawan jenisnya. Walaupun akhirnya ia sangat menyesal, karena ia tidak tahan atas godaan tersebut.

Scene 6:

Tibalah saatnya bagi Chun Yi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di padepokan tersebut. Ia sudah menguasai berbagai ilmu di padepokan tersebut dan ia harus meninggalkan pintu gerbang padepokan tersebut.

Scene 7:

Chun Yi dilepas oleh sang guru (old master) dan ia mulai hidup di dunia luar padepokan.

Adegan demi adegan dalam pertunjukan Kung Fu Legend tersebut didukung oleh puluhan pemain yang sangat mahir dalam melakukan jurus-jurus Kung Fu dan didukung dengan teknik pencahayaan (lighting) serta tata suara yang sangat menakjubkan dan mempesona penonton.

Dasar bangsa Cina, dimana saja mereka pintar melihat peluang bisnis, untuk mendatangkan uang.

Di akhir pertunjukan,  para penonton dipersilahkan untuk foto bersama dengan para pemain pendukung pertunjukan tersebut dan setiap penonton yang naik ke atas pentas (stage) untuk foto bersama para pemain, para penonton tersebut harus merogoh lagi koceknya. Setiap penonton dikenakan pungutan sebesar ¥100.-

– China Acrobatics

Akrobatik di Cina sudah dikenal lebih dari ratusan tahun yang lalu, tahun demi tahun teknik akrobatik di Cina terus disempurnakan dan saat kini akrobatik di Cina telah menerapkan teknik-teknik modern.

China National Acrobatic didirikan pada tahun 1950, mantan Perdana Menteri Cina, Zhou Enlai menaruh perhatian besar terhadap perkembangan akrobatik di Cina. Sampai saat ini, China National Acrobatic telah menerima penghargaan sebanyak 45 medali emas dari berbagai kompetisi baik untuk tingkat nasional, maupun untuk tingkat internasional.

Para pemain China National Acrobatic telah mengunjungi lebih dari 113 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Rupanya, di Beijing ada lembaga pendidikan yang khusus mengkader dan mencetak pemain-pemain akrobat, Beijing International Art School, namanya. Lembaga ini didirikan dan dikelola oleh China National Acrobatic. Lembaga ini mendidik dan melatih siswa-siswa dari berbagai negara, seperti : Cina, Rusia, Perancis, Spanyol, Korea dan Vietnam.

Pertunjukan akrobatik cina mengambil tempat di gedung Tiandi Theatre – Beijing, yang terletak di No.10 Dongzhimen Nandajie, Dongcheng District, Beijing.

Harga tiket masuk ke dalam gedung pertunjukan tersebut bervariasi, mulai dari harga ¥60 sampai dengan ¥680, tergantung letak kursi yang dipesan dan juga tergantung berapa banyak jumlah tiket yang dipesan atau dibeli.

Informasi lebih lanjut tentang harga tiket masuk, dapat dikunjungi website Tiandi Theatre, Beijing di: www.tianditheatre.com.

Walaupun harga tiket masuk ke gedung tersebut cukup bervariasi, apalagi jumlah harga tiket tersebut tergantung pula atas berapa banyak jumlah tiket yang dibeli (discounts), namun aku tidak pernah melihat calo tiket yang berkeliaran di sekitar gedung Tiandi Theatre. Aku berani sumpah.

Tidak lama aku duduk di kursi yang ada di ruang Tiandi Theatre, suasana di gedung pertunjukan sudah mulai penuh sesak. Para wisatawan mancanegara mengambil tempat duduk untuk menyaksikan acara akrobatik cina tersebut.

Di depan kursi tempat aku duduk, duduk pula sekeluarga yang kalau aku perhatikan dari perawakannya, mereka sekeluarga adalah bangsa Cina. Mungkin pengunjung lokal, fikirku, dalam hati. Sedangkan di depan sana, persis di sisi pentas (stage) duduk pula beberapa orang  turis bule. Aku tidak tahu mereka berasal dari negara mana.

Tepat pukul 19.30 waktu di Beijing, pertunjukan akrobatik cina dimulai.

Layar terkembang di sisi belakang pentas (stage) dan di sebelah kiri dan kanan pentas terdapat monitor (display) berukuran raksasa. Monitor tersebut menyajikan running text dari bawah ke atas, yang mengisyaratkan kepada penonton, selama pertunjukan berlangsung dilarang menggunakan camera atau handycam, dilarang merokok, dilarang mengaktifkan handphone dan dilarang makan dan minum. Running text tersebut ditulis dalam aksara Cina dan Latin – dalam aksara Latin ditulis dalam bahasa Inggeris. Setelah running text tersebut muncul  beberapa kali, kemudian terdengar suara gong berbunyi sebanyak tiga kali dari speaker-speaker raksasa yang ada di sekitar ruang pertunjukan.

Permainan dalam acara akrobatik cina ini terbagi atas 12 jenis permainan akrobat, yaitu: Plate Spinning, Air Jumping and Catching, Ball Catching, Contortionist with Glasses, Moving Poles, Diabolo, Silk Hanging Art, Umbrella Juggling, Tumbling through Hoops, Bicycle Skill, Contortionist dan Pagoda of Bowls.

Aku tak mampu meluksikan satu persatu jenis permainan akrobatik tersebut. Aku melihat setiap pergantian permainan dari satu permainan ke permainan berikutnya, turis-turis bule di depan sana selalu berdiri dan memberi applaus sambil bertepuk tangan, begitu juga dengan penonton lainnya.

Semua jenis permainan akrobatik tersebut sangat menakjubkan dan mempesona.

Artis-artis pendukung acara pertunjukan ini hampir semuanya bertubuh sangat atletis dengan gerakan-gerakan yang sangat teratur lagi menggemaskan.

Mereka mengenakan berbagai aneka warna pakaian seragam yang megah, didukung pula dengan tata suara yang cukup jernih sampai ke telinga penonton serta tata pencahayaan (lighting)  yang serasi dengan setiap penampilan yang dimainkan oleh artis-artis akrobatik cina ini.

Hal ini membuat penonton tidak merasa telah duduk selama kurang lebih dua jam untuk menonton pertunjukan ini.

Salah satu permainan yang menarik perhatianku adalah permainan menangkap bola (Ball Catching). Sepasang pria dan wanita cina memainkan bola seukuran bola kasti. Mula-mula mereka berdua melempar dua buah bola ke udara lalu menangkapnya, selanjutnya mereka melempar dan menangkap sebanyak delapan buah bola dengan kedua belah tangannya. Tidak terbayangkan olehku kecepatan kedua belah tangan mereka melempar dan menangkap delapan buah bola tersebut.

Penonton lain dalam satu rombongan yang duduk di sebelahku, bertanya kepadaku dengan setengah berbisik: “Kenapa cepat sekali tangan-tangan mereka menangkap bola itu?”.

Aku menjawab: “Ahhh… masih kalah cepat dengan saudara-saudara kita yang ada di dalam  bus Kopaja jurusan Cawang – Grogol”.

“Jangankan bola. Handphone, pena dan dompet pun bisa ditangkap lebih cepat”, imbuhku.

Aku menoleh ke penonton lain dalam satu rombongan yang duduk di sebelahku. Ia tersenyum kecut.

Hampir pukul 10.30 waktu di Beijing malam itu, aku baru tiba di halaman hotel, tempat aku menginap sepulang dari menonton China Acrobatics.

(bersambung…, masih ada catatan (notes), antara lain tentang:, tips dan triks shopping di Yashow Clothing Market dan Great Wall yang melegenda).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Keduabelas

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Keduabelas: Yashow Clothing Market, Beijing

Belakangan ini, pandangan negara-negara Barat mulai skeptis terhadap pertumbuhan ekonomi di negeri Cina. Paling tidak hal ini dapat disimpulkan sementara berdasarkan artikel yang di tulis oleh Rana Foroohar di Majalah Newsweek (26 Oktober 2009).

“Everything you know about China is wrong”, demikian judul artikel tersebut. Rana Foroohar menulis panjang lebar tentang enam mitos yang menjadi kebijakan para pemimpin Cina. Ia mengkritik habis-habisan keenam mitos tersebut.

Enam mitos tersebut dijadikan landasan berpijak bagi para pemimpin Cina dalam membangun dan mengembangkan tatanan perekonomiannya. Banyak negara-negara yang melakukan benchmarking terhadap upaya para pemimpin Cina  dalam menumbuhkan ekonominya.

Pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi Cina memang mencengangkan dunia, namun Rana Foroohar tidak percaya. “These common assumptions about China are increasingly inaccurate or just plain wrong”, urainya dalam artikel di Majalah Newsweek.

Salah satu dari keenam mitos tadi adalah:

Myth No. 4: CHINA IS AN EXPORT-DRIVEN ECONOMY.

“Benarkah?”, Rana Foroohar mempertanyakan.

Tahun ini ekspor Cina turun sebesar 20 persen, tetapi mengapa pertumbuhan ekonominya naik menjadi 8 persen?.

Selanjutnya, Rana Foroohar mengutip apa yang disebutkan oleh Fang Xinghai, Direktur The Shanghai Financial Services Office – untuk memperkuat argumentasinya. Fang Xinghai menyebutkan: “while exports are important to China, in the same way that they are important to Japan or Germany, it’s not the only thing going on here”.

Rana Foroohar juga menguraikan, sebagian besar bahan utama dari barang-barang (goods) yang dirakit di Cina berasal dari negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan dan negara-negara kaya lainnya. Contoh, iPod yang dirakit di Cina, harga jualnya sebesar US$299 secara partai besar, sedangkan harga pokok produksi sebesar US$150. Hanya 5 persen atau US$7.50 yang merupakan bahan baku dan tenaga buruh yang berasal dari Cina, yang menjadi bagian kontribusi untuk harga jual atas barang iPod tersebut. Dengan demikian hanya sebesar US$7.50 yang menjadi nilai bersih ekspor (net export value) dan hanya jumlah ini yang sebenarnya menjadi kontribusi terhadap perekonomian Cina.

Terlepas dari artikel yang ditulis oleh Rana Foroohar di Majalah Newsweek.

Kalau aku perhatikan indikator sederhana, Gross Domestic Product (GDP) Cina pada tahun 2008 mencapai sebesar ¥30.067 triliun atau setara dengan US$4.4216 triliun, meningkat sebesar 9 persen dari tahun sebelumnya.

Sekedar untuk mengingatkan kembali, Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah/negara tertentu dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun).

PDB berbeda dari Produk Nasional Bruto (PNB) karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di wilayah/negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu wilayah/negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan.

PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga.

PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.

Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:

PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor – impor

Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri.

Sementara pendekatan pendapatan menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi:

PDB = sewa + upah + bunga + laba

Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti: tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.

Secara teoretis, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama, namun karena dalam praktek menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran (sumber data : www.id.wikipedia.org).

Indikator lain, dalam tahun 2008 jumlah investasi dan modal asing yang masuk ke Cina sebesar US$108.3 miliar, US$92.4 miliar dari jumlah sebesar US$108.3 miliar merupakan investasi asing langsung (direct foreign investment).

Selanjutnya jumlah perusahaan swasta bertambah dua kali lipat dari 20 juta perusahaan swasta pada tahun 1990 menjadi 40 juta perusahaan swasta pada tahun 2008.

BUMN di Cina diberikan kemudahan oleh negara untuk mengakses lembaga keuangan dengan tingkat suku bunga hanya 3 persen, sementara itu dunia usaha swasta  dikenakan bunga diatas sepuluh persen (double digit). Cina memfasilitasi ekonomi pasar tetapi simultan dengan itu memperkuat BUMNnya.

Di samping itu, praktek-praktek korupsi yang sudah menjadi bahaya laten dan membudaya ditangani dengan cara tegas dan lugas. Mereka melakukan tahapan yang sistematis sedemikian rupa untuk memberantas korupsi, sehingga praktek-praktek korupsi terus berkurang, namun perekonomian tetap bekerja optimal.

Di Cina, negara memfasilitasi ekonomi pasar. Pasar (market) dalam pengertian sempit merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli atau tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu untuk melakukan transaksi barang dan jasa.

Peranan pasar memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap pertumbuhan ekonomi di Cina.

Di Beijing terdapat sebuah pasar, Yashow Clothing Market, namanya. Letaknya di sebelah Barat Sanlitun Bar Street, Chaoyang District. Di sekitar lokasi pasar ini banyak tersedia bar, restauran dan cafe untuk melepas lapar dan dahaga.

Aku melihat banyak turis-turis bule sedang makan dan minum di cafe-cafe di sekitar Yashow Clothing Market. Mereka mengenakan baju hangat lengkap dengan syal yang terbebat di leher mereka dan ada juga yang mengenakan kacamata hitam gelap – maklum, walaupun matahari bersinar cerah, tetapi suhu udara tetap saja terasa teramat sejuk. Mereka menyuap makanan dengan menggunakan sumpit (chopsticks).

Selain Yashow Clothing Market, masih banyak lagi tersebar pasar-pasar atau toko-toko di sekitar kota Beijing yang acap kali dikunjungi oleh para pecandu belanja (shopaholic) – terutama kaum ibu – seperti:  Hongqiao Market,  Panjiayuan Antique Market, Chaowai Street, Jianguomenwai Street, Liulichang Antique Street, Dazhalan Shopping, Xidan Shopping dan Wangfujing Shopping.

Aku hanya berkesempatan berkunjung ke Yashow Clothing Market dan Wangfujing Shopping.

Yashow Clothing Market merupakan “surga” bagi shopaholic, gedung berlantai empat tersebut menyediakan beraneka ragam jenis-jenis barang dengan harga yang cukup kompetitif dibandingkan dengan harga barang sejenis, kalau di beli di tempat lain di sekitar kota Beijing.

Lantai dasar merupakan los yang menyediakan dan menggelar berbagai jenis barang-barang yang terbuat dari kulit, seperti: sepatu, dompet, sabuk kulit, jaket kulit, tas koper kulit dan topi (hats) yang terbuat dari kulit.

Lantai kedua merupakan los yang menyediakan dan menggelar berbagai jenis barang-barang garmen, mulai pakaian dalam pria dan wanita, t-shirt, celana jeans, kemeja, saputangan, dasi sampai ke daster.

Lantai ketiga merupakan los yang menyediakan dan menggelar berbagai jenis barang-barang perhiasan atau pernik-pernik, mulai dari cincin, gelang, anting, kalung sampai ke barang-barang souvenir seperti gantungan kunci dan patung-patung kecil.

Lantai keempat merupakan los yang khusus menjual barang-barang elektronik, seperti: laptop, handphone, iPod dan televisi. Arloji banyak juga digelar di lantai empat.

Semua pramuniaga, baik pria maupun wanita di pasar ini mengenakan pakaian seragam yang bercorak sama – dasarnya berwarna putih, coraknya berwarna ungu. Coraknya mirip seperti batik, mungkin ini yang disebut dengan batik cina.

Para pramuniaga ini cukup agresif menawarkan barang dagangannya kepada para konsumen, bahkan boleh dikatakan cukup berlebihan dalam melayani konsumen.

Sebelum aku tiba di lokasi Yashow Clothing Market, sang pemandu wisata mewanti-wanti aku, ketika kami dalam perjalanan menuju ke Yashow Clothing Market.

“You have to have a good bargain skill to get the fair price”, ujarnya, mengingatkan.

“Normally you start at 30 percent from what they asked”, imbuhnya.

“Okay”, jawabku singkat dan tak bersemangat. Ini merupakan tip pertama, kalau ingin berbelanja di  Yashow Clothing Market, pikirku dalam hati.

Dari pintu masuk Yashow Clothing Market, aku turun ke lantai dasar yang menyediakan berbagai jenis barang-barang yang terbuat dari kulit. Aku berkeliling-keliling di lantai dasar pasar tersebut seorang diri, sementara pengunjung lain dalam satu rombongan sudah menyebar entah kemana.

Aku mampir di los tempat penjualan sepatu. Tidak lama aku berdiri di depan los tempat penjualan sepatu tersebut sambil melihat-lihat ke arah etalase yang memajang berbagai jenis model sepatu, seorang pramuniaga wanita menghampiri diriku.

Pramuniaga wanita tersebut berbicara kepadaku dalam bahasa yang tidak aku mengerti, ia tidak menggunakan bahasa Mandarin. Setelah aku menyimak beberapa saat, ia sepertinya menggunakan bahasa Tagalog. Aku juga tidak mengerti bahasa Tagalog.

“I am Indonesian,… Jakarta,…. Bali. I am not Philippine”, ujarku memperkenalkan diri sambil memotong pembicaraannya. Aku bermaksud agar ia tidak menggunakan bahasa Tagalog lagi untuk berbicara kepadaku.

Kemudian pramuniaga wanita tadi menawarkan berbagai jenis model sepatu kepadaku dalam bahasa Inggeris dengan logat Mandarin.

“How much?”, aku bertanya tentang harga sepasang sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap dengan merk yang dicap dalam aksara Cina yang terdapat di sisi bagian dalam sepatu pantofel tersebut.

Aku memegang sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap tersebut yang berukuran nomor sepatu 42, sembari menunggu jawaban dari sang pramuniaga, berapa harga sepatu tersebut.

“680 yuan”, jawab sang pramuniaga wanita dalam bahasa Inggeris sambil mengetik angka 680 di kalkulator yang sedang dipegangnya dan ia menunjukkan kalkulator tersebut kepadaku.

Tanpa pikir panjang, aku menawar harga sepatu tersebut sambil tetap mengingat pesan wanti-wanti sang pemandu wisata (tip pertama).

Aku menawar harga sepatu tersebut lebih ekstrim. “One hundred”, kataku sambil meletakkan sepatu tersebut di atas kaca etalase.

Aku memperhatikan wajah sang pramuniaga wanita berubah dan ia tidak mampu menyembunyikan perasaan kesal di dalam hatinya. Ia lalu berkata dan bertanya kepadaku: “Are you kidding or serious?”.

Timbul juga penyesalan di dalam hatiku, aku menawar harga sepatu tadi terlalu rendah, hanya sebesar 100 yuan.

“Okay…okay”, kataku sambil meraih kalkulator dari tangan sang pramuniaga wanita. Aku mengetik angka 120 di kalkulator tersebut dan aku menyerahkan kembali kalkulator tersebut  kepada sang pramuniaga wanita sambil aku menunjukkan angka 120 di kalkulator tersebut kepada sang pramuniaga wanita.

Selanjutnya, sang pramuniaga wanita bercakap-cakap kepada temannya sesama pramuniaga yang ada di los penjualan sepatu tersebut dalam bahasa Mandarin.

Dalam hatiku, mungkin pramuniaga wanita tersebut sedang memaki-maki diriku dalam bahasa Mandarin.

Aku berpura-pura beranjak dan meninggalkan los penjualan sepatu tersebut (tip kedua).

Tidak lama kemudian, tangan pramuniaga wanita tersebut meraih dan menarik lengan jaketku. “Wait a minute, Sir”, katanya.

“Apa lagi, aku tak punya uang banyak kayak turis-turis bule itu”, kataku dalam bahasa Melayu sambil menepiskan tangan pramuniaga wanita tersebut dari lengan jaketku.

Aku yakin pramuniaga wanita tersebut tidak mengerti apa yang aku sebutkan.

Tampak perasaan bingung terbersit di wajah sang pramuniaga wanita tersebut, karena aku menggunakan bahasa Melayu.

Kemudian pramuniaga wanita tersebut berkata: “Last price 300 yuan”.

Aku meraih kembali kalkulator dari tangan pramuniaga wanita itu kemudian aku mengetik angka 150.

Aku berkata: “Last price”, sembari aku menunjukkan angka 150 yang ada di kalkulator tersebut kepada pramuniaga itu.

Aku juga mengunjungi los di lantai dua, tiga dan empat.

Di lantai dua aku mampir di los tempat penjualan t-shirt. Beraneka warna dan corak t-shirt di gelar dan dijual di los ini.

Seorang pramuniaga pria semula menawarkan satu potong t-shirt seharga ¥75 (setara kira-kira Rp100.000,-) dengan cara yang sama seperti pramuniaga wanita tadi – pramuniaga pria mengetik angka 75 di kalkulator dan ia menunjukkannya kepadaku.

Aku meraih kalkulator dari tangan pramuniaga pria itu dan aku mengetik angka 150 dan menunjukkan angka 150 yang ada di kalkulator tersebut kepada pramuniaga pria.

Pramuniaga pria tersebut tersenyum kepadaku dan di wajahnya terbersit perasaan tidak percaya atas angka 150 yang ada di kalkulator tersebut.

Aku merasakan ada keinginan dari pramuniaga pria itu untuk mempertanyakan angka 150 yang ada di kalkulator itu. Sebelum pramuniaga pria itu bertanya kepadaku , aku berkata:

“I mean ten pieces”.

“Okay….okay”, kata pramuniaga pria itu sambil tertawa kecil kepadaku (tip ketiga).

Pramuniaga pria itu mempersilahkan aku untuk memilih-milih t-shirt yang digelar di los tempat penjualan t-shirt tersebut.

Pramuniaga pria tersebut membungkus 10 potong t-shirt seharga ¥150 @ ¥15 (setara kira-kira Rp20.000,-).

Aku membayar 10 potong t-shirt tersebut dan aku mengucapkan: “Xie xie”.

“You’re welcome”, balas pramuniaga pria tersebut.

Tip keempat. Jika berkunjung ke Yashow Clothing Market, Beijing acap kali para pramuniaga ingin melihat tukaran atau bentuk/jenis uang dari negara mana para pengunjung/pembeli berasal.

Biasanya hal ini dilakukan oleh para pramuniaga pada saat para pembeli akan membayar sejumlah uang atas barang-barang yang dibeli.

Jika mereka melihat ada tukaran atau bentuk/jenis uang yang berasal dari negara lain atau dengan kata lain, jika para pramuniaga melihat ada tukaran atau bentuk/jenis uang selain Yuan, maka mereka tidak sungkan-sungkan untuk meminta tukaran uang tersebut, dengan alasan untuk koleksi pribadi.

Kalau anda tidak ikhlas untuk menyerahkan tukaran seratus ribu rupiah atau seratus dollar Amerika, maka siapkan saja tukaran seribu rupiah. Toh untuk koleksi pribadi, bukan untuk dibelanjakan lagi.

Aku menyarankan, kalau ke Beijing datang dan mampir ke Yashow Clothing Market. Beli sesuatu sebagai cendramata untuk sanak saudara di tanah air.

Harga barang-barangnya relatif murah, suasana di tempat tersebut nyaman, barang-barang yang dijual ditata dengan rapi dan jangan lupa tip dan triks belanja di tempat ini, agar diperoleh “the fair price”.

Lain di Yashow Clothing Market, lain pula di Wangfujing Shopping.

Perbedaannya, barang-barang yang dijual di Yashow Clothing Market adalah KW Satu (maksudnya kualitas nomor satu), sedangkan di  Wangfujing Shopping menjual barang-barang yang memang benar-benar orisinil dan branded, tentu harganya pun pasti berbeda pula. Cuma itu perbedaannya.

Ada harga ada rupa, kata pepatah lama.

(bersambung…, catatan (notes) terakhir tentang: Great Wall).

+++

From Beijing With Love (lanjutan) – Notes Ketigabelas (Tamat)

—- China is one of the longest, single, unified civilizations in the world.

(“Discover China” – 100 interesting topics to feel China, Ninhao Chinese, China Intercontinental Press, September 2009, p.38) —-

Dimana tempat-tempat yang patut dikunjungi di kota Beijing dan sekitarnya?

Ketigabelas: Great Wall (Tembok Besar Cina)

Pada tahun 1966, ketika aku duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, ketika aku mulai belajar membaca dan menulis – tulisan halus kasar, ketika aku mulai memegang sebatang pensil dengan serius. Saat itu pertama kali aku melihat Great Wall dalam bentuk lukisan di batang pensil buatan Cina.

Pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar, pada umumnya pensil yang digunakan oleh murid-murid sekolah dasar pada masa itu mereknya (brand) “Great Wall” dan pensil tersebut masih diimpor oleh Indonesia dari Shanghai – Cina (Made in China). Mungkin pada masa itu, bangsa Indonesia belum sempat membuat pensil.

Bangsa Indonesia pada masa itu masih disibukkan dengan hiruk pikuk percaturan gelanggang politik di tanah air. Maklum, G30S PKI (Gestapu PKI) baru meletus pada September 1965.

Ketika kanak-kanak dulu, aku selalu memperhatikan lukisan Great Wall yang ada di batang pensil tersebut, baik itu di rumah maupun di sekolah.

Aku selalu berpikir-pikir di dalam hati, apakah lukisan Great Wall di batang pensil ini memang benar-benar ada di permukaan bumi ini. Dimanakah letaknya?

Menurut penjelasan kawanku satu bangku di sekolah dasar, Great Wall tersebut pasti letaknya di negeri Cina. Dimanakah letak negeri Cina itu?, aku selalu berpikir-pikir di dalam hati, di masa kanak-kanak dulu.

Setelah 43 tahun kemudian – tepatnya pada November 2009, aku benar-benar menjejakkan kedua belah kakiku di Great Wall (Tembok Besar Cina).

Sebuah penantian yang teramat panjang. Kasihan.

Setelah aku meninggalkan Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery, kini aku menuju lokasi Great Wall terbentang.

Great Wall adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang merupakan simbol kegigihan dan keuletan bangsa Cina yang terkristalisasi dalam kearifan bangsa Cina sejak zaman dahulu kala.

Pada era perang dingin, Cina memanfaatkan tempat ini sebagai basis pertahanan, namun dewasa ini Great Wall merupakan salah satu lokasi tujuan utama wisata di Cina, khususnya di kota Beijing.

Great Wall terbentang sejauh lebih dari 5.000 kilometer dari arah timur ke barat di wilayah Cina Utara, bagaikan seekor naga raksasa yang sedang menggeliat melintasi gurun pasir, hutan, gunung, jurang dan semak belukar.

Gaya arsitektur Great Wall tersebut meninggalkan kesan: kekuatan, kegigihan, kedisiplinan, kepatuhan, ketekunan dan ketaraturan bangsa Cina kuno, sekaligus menimbulkan kesan ketakutan dan kekhawatiran.

Bangsa Han pada kala itu membangun tembok besar untuk mempertahankan diri dari serangan bangsa Mongolia (suku Nomad) – bangsa bar-bar di belahan utara Cina.

Lebih dari dua ribu tahun bangsa Cina membangun Great Wall. Dimulai pada abad ketujuh Sebelum Masehi (BC). Pada tahun 221 BC, setelah Kaisar Qinshihuang menyatukan wilayah negeri Cina, ia menyatukan bagian-bagian (sections) Great Wall yang terpisah.

Masa pembangunan, pemugaran dan perluasan Great Wall ini dilakukan pada saat Dinasti Qin (221 BC – 206 BC), Dinasti Han (206 BC – 220), Dinasti Ming (1368 – 1644) sedang bertakhta.

Walaupun Great Wall ini dibangun pada  tempat dan waktu yang berbeda oleh penguasa yang berbeda, namun arsitektur dan konstruksi Great Wall tetap sama.

Great Wall yang dapat kita saksikan dewasa ini, sebagian besar  merupakan bangunan tembok besar yang dibangun, dipugar dan diperluas pada masa Dinasti Ming, mulai dari wilayah Shanhai Pass di belahan timur sampai ke wilayah Jiayu Pass di belahan barat, melalui wilayah-wilayah Hebei, Beijing, Shanxi, Mongolia, Ningxia, Shaanxi dan Gansu.

Great Wall terdiri atas beberapa bagian (sections) :

-Badaling

Bagian ini terletak kurang lebih 60 km dari kota Beijing, bagian ini dibangun pada tahun 1505 atau pada saat Kaisar Hongzhi berkuasa pada masa Dinasti Ming.

Bagian ini merupakan salah satu pintu masuk ke Great Wall yang harus dilalui melalui sebuah pintu gerbang yang terbuat dari tembok yang kokoh. Di sebelah timur dari pintu gerbang ini tertulis kata-kata: “A Town Outside Juyong Pass”, sedangkan di sebelah baratnya tertulis kata-kata: “The Lock on the Northern Gateway”.

Pada masa dahulu kala, Juyong Pass merupakan wilayah menuju masuk ke kota Beijing dan Badaling adalah sebagai wilayah pembatas atau sebagai pintu gerbang yang dapat dibuka dan ditutup untuk masuk ke kota Beijing.

Di pelataran Great Wall – Badaling, aku dapat memandang sejauh mata memandang dengan panorama yang sangat indah. Di sebelah utara dan selatan nun jauh di puncak gunung sana berdiri kokoh bangunan menara pengintai dan bangunan benteng yang cukup tinggi.

Tembok  yang dibangun di Great Wall –  Badaling cukup tinggi dan kokoh, rata-rata tinggi tembok kurang lebih 7,8 meter yang dibangun diatas pondasi batu granit seberat lebih dari 500 kg.

Pada posisi puncak di jalur Great Wall – Badaling ada ruangan terbuka berbentuk persegi panjang yang dikelilingi tembok. Ukuran ruangan tersebut  kira-kira dapat memuat enam ekor kuda atau dapat menampung 10 orang dewasa untuk berdiri tegak.

-Mutianyu

Mutianyu terletak 20 km timur laut dari Huairou District. Bagian Great Wall – Mutianyu  ini dikelilingi dengan  hampir 90 persen hutan, semak belukar dan pepohonan.

Bangunan tembok di bagian ini dibangun pada tahun 1569 pada masa Kaisar Longqing berkuasa di masa Dinasti Ming.

Presiden Bill Clinton dan isterinya pernah berkunjung ke bagian ini pada tanggal 28 Juni 1998. “Amazing, amazing”, kata Presiden Bill Clinton kala itu.

-Jinshanling

Jinshanling terletak 120 km dari Beijing. Tembok di bagian ini mengelilingi wilayah Miyun  (Beijing) dan wilayah Luanping (Hebei).

Nama Jinshanling berasal dari nama menara pengintai Jinshanling di Great Wall – Jinshanling.

Bagian ini dibangun pada tahun 1378 dan dipugar oleh Tan Lun dan Qi Jiguang – dua orang berpangkat jenderal pada masa Dinasti Ming.

-Gubeikou

Gubeikou terletak di sebelah utara wilayah Miyun (Beijing). Bagian ini merupakan akses utama untuk bersembunyi dan berlari ke arah selatan dan utara melalui Gunung Yanshan. Di latar belakang bagian ini menjulang Gunung Panlong dan Gunung Wohu dan terdapat Sungai Chaohe yang airnya mengalir dari arah utara ke selatan di bagian tembok ini.

Bangunan tembok di bagian ini dibangun pada tahun 1378 atau pada masa Kaisar Hongwu berkuasa di masa Dinasti Ming.

Jenderal Xu Da memugar bangunan tembok pada bagian ini.

Terdapat bangunan kuil/kelenteng (temple) yang dibangun oleh Jenderal Yang Ye pada masa Dinasti Song tidak jauh dari Gunung Wohu.

-Huangya

Huangya Pass berada di sisi Great Wall yang terletak 30 km sebelah utara wilayah Jixian dan berjarak 100 km dari Tianjin.

Huangya Pass pertamakali dibangun pada tahun 556 atau pada saat Kaisar Tianbao berkuasa pada masa Dinasti Qi.

Pada saat Kaisar Longqing berkuasa pada masa Dinasti Ming, ia memugar tembok yang ada pada bagian Huangya Pass ini.

Di bagian ini terdapat tembok menara pengintai, barak-barak tentara yang dikeliling dengan sungai kecil sebagai pertahanan terhadap tembok ini dari serangan musuh.

-Simatai

Simatai terletak di sebelah utara wilayah Miyun (Beijing), kira-kira 120 km dari Beijing.

Bagian ini dibangun selama tahun 550 – 577,  pada masa Dinasti Qi dan dipugar oleh Kaisar Wanli pada masa Dinasti Ming selama tahun 1573 – 1620.

Bagian ini menggelantung di perut Gunung Yanshan dan dikenal dengan “Beijing-Watching-Tower”.

-Shanhai

Shanhai Pass terletak di kaki sebuah gunung di kota Qinhuangdao (Provinsi Hebei). Tembok pada bagian ini dibangun oleh Jenderal Xu Da pada masa Dinasti Ming pada tahun 1381.

Dari bagian-bagian Great Wall tersebut di atas, aku hanya berkesempatan berkunjung ke Great Wall – Badaling.

Aku tiba di pintu gerbang Great Wall – Badaling kira-kira pukul 10.00 pagi – waktu setempat. Aku melihat sudah banyak para wisatawan antri untuk masuk ke pintu gerbang tersebut.

Harga tiket masuk ke pintu gerbang ini sebesar ¥60 per orang, sudah termasuk ongkos untuk naik kereta gantung (cable car) pulang pergi dari arah pintu gerbang ke arah pelataran Great Wall – Badaling.

Aku dapat menyaksikan panorama yang indah di sekitar Great Wall – Badaling dari atas kereta gantung.

Gunung-gunung, hutan belantara hijau yang disapu oleh putih salju  dan anak sungai yang meliuk-liuk serta tumpukan-tumpukan butiran salju putih bersih disana sini. Sesekali pandanganku terhalang untuk melihat dinding Great Wall – Badaling, karena pandanganku terhalang oleh  terowongan jalur kereta gantung.

Maha luas dan maha indah ciptaanNya, tak terkirakan.

Kurang lebih sepuluh menit aku duduk di kereta gantung. Satu per satu penumpang kereta gantung tersebut turun –  kapasitas kereta gantung sebanyak 5 orang penumpang dewasa – di tempat pemberhentian kereta gantung.

Aku berjalan kaki melalui terowongan dan tangga-tangga menuju pelataran Great Wall – Badaling dan aku beristirahat sejenak di pelataran Great Wall – Badaling.

Dari pelataran Great Wall – Badaling ini aku memandang sejauh batas mata memandang ke sekitar Great Wall – Badaling.

Dedaunan pohon-pohon cemara tampak gugur layu, hanya ranting-rantingnya yang  digelayuti butiran-butiran salju putih. Di ujung sana tampak olehku tembok-tembok berdiri kokoh menjulang ke atas bagaikan buah catur kastel di atas papan catur.

Suhu udara yang sejuk, semilir angin yang berhembus, suara angin yang berhembus sepoi-sepoi basah, seolah-olah suara angin tersebut bernyanyi dan berdendang di samping telingaku. Aku nikmati dan aku syukuri karunia Illahi ini.

Setelah beberapa saat aku memandang-mandang di pelataran Great Wall – Badaling, aku mencoba menapaki anak-anak tangga yang curam menuju posisi puncak Great Wall – Badaling.

Aku anggap enteng, aku takabur, aku congkak. Aku menapaki anak-anak tangga tersebut tanpa memegang sebatang besi yang tertancap ke sisi dinding  Great Wall – Badaling tersebut. Sementara pengunjung lain merangsek naik perlahan-lahan ke posisi puncak Great Wall – Badaling sambil memegang sebatang besi yang tertancap di sisi dinding Great Wall – Badaling tersebut.

Empat,  dan pada langkah kelima, tiba-tiba  aku terpelanting. Kamera saku yang aku genggam di tangan kananku terhempas ke sisi dinding Great Wall – Badaling. Habislah semua foto-foto yang ada di kameraku ini, pikirku di dalam hati.

Aku beristighfar, aku memohon ampun. Ya Allah, ampunilah hambamu yang congkak ini, demikian do’aku di dalam hati.

Para pengunjung di sekitar tempat aku terpelanting tadi secara spontan mengerubuti aku untuk menolang agar aku dapat berdiri tegak.

“Pucat muka itu…. ah, hilang premannya”, kata pengunjung lain dalam satu rombongan kepadaku.

Akhirnya aku dapat berdiri tegak dan naik merangsek perlahan-lahan sambil memegang sebatang besi yang tertancap di sisi dinding Great Wall – Badaling tersebut.

Sampai di posisi puncak Great Wall – Badaling, aku duduk tertegun di anak tangga yang ada di posisi puncak Great Wall – Badaling sambil berkata kepada pengunjung lain dalam satu rombongan.

“Tak jadilah aku pahlawan”, kataku berseloroh.

“Maksudnya?”, pengunjung lain dalam satu rombongan bertanya.

“Ada pepatah cina kuno mengatakan: one who falls to reach the Great Wall would not be regarded as a hero”, kataku, menjelaskan.

“Ente….salah”, ujar pengunjung lain dalam satu rombongan sambil menghibur diriku.

“Pepatah cina kuno yang benar begini: one who fails to reach the Great Wall would not be regarded as a hero”, kata  pengunjung lain dalam satu rombongan kepadaku. “Kita kan sudah sampai di posisi puncak”, imbuhnya sambil beranjak meninggalkan diriku sendiri.

Aku turun perlahan-lahan dari posisi puncak Great Wall – Badaling sambil berpegang pada sebatang besi di sisi dinding Great Wall – Badaling, aku berjalan bagaikan waktu kanak-kanak dulu aku belajar berjalan.

Ketika aku menuruni puncak Great Wall – Badaling, aku terkenang kembali dengan lukisan Great Wall yang pernah ada di batang pensilku, ketika aku mulai belajar membaca dan menulis empat puluh tiga tahun yang lalu pada masa kanak-kanak dulu. Tamat.

+++

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: